Part 1 Lembaran Lama yang Terbuka

12 2 4
                                        


Penyesalan tidak akan mampu mengubah masa lalu. Apa pun itu biarlah tetap berlalu. Jangan biarkan menjadi belenggu yang akan menghambat masa depanmu.

Campuran serbuk kopi dan gula yang telah larut dalam air panas menghasilkan aroma sedap untuk mencecapnya. Segelas kopi itu dibawa seorang wanita untuk disajikan kepada suami tercinta.

"Bapak tadi keluar rumah dari jam berapa? Ibu kecapekan jadi gak kebangun meski ada keramaian di luar," kata wanita bernama Latifah itu sambil duduk menjejeri suaminya setelah meletakkan gelas kopi di meja.

"Dari jam empat kayaknya. Soalnya enggak berapa lama azan subuh terdengar kok. Suara teriakan minta tolongnya kenceng banget, Bu. Bapak jadi kebangun."

"Ada apa memangnya, Pak?" Wanita berumur 48 tahun itu penasaran mengapa sang suami keluar tanpa membangunkannya. Tak seperti biasa. Lelaki itu selalu membangunkan sang istri begitu ia terjaga dari tidurnya.

Di kamar yang bersebelahan dengan tempat keduanya berbincang, seorang gadis tengah menikmati indahnya pagi. Ia berdiri menatap keluar dari jendela yang sudah terbuka. Jendela kamar yang menghadap ke timur itu seolah bersiap menyambut sinar sang mentari. Embusan angin menghadirkan kesejukan yang terhidup memasuki rongga dada.

Kamar berukuran tiga kali tiga meski dilengkapi perabot sederhana, tetapi nyaman untuk ditempati. Sebuah lemari kayu berdiri di samping pintu. Sebuah dipan ukuran single yang terpasang, dilengkapi kasur kapuk, sebuah bantal dan guling menjadi tempatnya menyambut mimpi. Tepat di bawah jendela sebuah meja tempat gadis itu mengulang kembali pelajaran sekolah nampak sudah kusam.

Ranti, gadis itu beranjak keluar kamar. Ia terusik oleh suara dua orang yang sedang berbincang. Ia berdiri terpaku menyimak apa yang menjadi tema perbincangan.

"Dasar wong edan. Jadi orang tua kan harusnya melindungi. Ini malah merusaknya. Segalak-galaknya macan gak akan mungkin memangsa anaknya sendiri. Lha iki manungso. Kok kalah sama hewan. Bejat tenan!" Lelaki berkumis tebal itu mengeluarkan kekesalannya.

"Sebenarnya ada apa tho, Pak?" Sang istri masih belum memahami apa yang terjadi. Sang suami yang baru masuk rumah itu terlihat kusut.

"Itu lho, Bu. Tadi terdengar suara minta tolong dari rumah Pak Sarto. Akhirnya tetangga pada ke sana. Sampai di sana pada kaget semua. Pak Sarto keluar sambil telanjang dada. Istrinya mengejar sambil mengacungkan pisau. Ternyata lelaki itu sedang diancam mau dibunuh sama istrinya. Ia kepergok sedang menggagahi anaknya. Bapak bejat. Meski hanya bapak tiri harusnya bisa menjaga diri. Sudah mau sama ibunya, masak anak mau juga." Lelaki berkulit gelap itu tampak sangat geram.

"Ya Gusti, tega amat ya. Apa dia gak mikir kalau yang sudah dilakukan itu akan menghancurkan masa depan anaknya. Anak masih umur segitu pasti tidak berpikir macam-macam. Pasti ia berpikir bapaknya itu sangat menyayanginya, tidak akan mengira kalau akan memangsa. Anak umur sepuluh tahun ngerti apa?"

Bu Latifah hanya mengelus dada. Ia begitu prihatin dengan apa yang terjadi dengan tetangganya.

Ranti yang mendengar cerita itu segera berlalu ke kamar mandi. Ia tidak lagi tertarik dengan apa yang diperbincangkan. Ada sesak yang dirasa jika terus mendengarkannya.

Gadis itu semula hanya ingin mengambil air wudhu, tetapi akhirnya memutuskan untuk sekalian mandi. Di kamar mandi ia menitikkan air mata. Rasa sesak dalam dada keluar bersama butiran bening dari kedua kelopak matanya. Perlahan guyuran air dingin membasahi rambut dan tubuhnya.

"Bagaimana aku bisa membersihkan diri yang sudah kotor ini. Tak cukup air satu bak penuh ini mampu mengembalikan kesucianku."

Ranti terus saja mengguyur tubuh dengan air itu tanpa jeda.

Hijrah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang