Part 8. Album Kenangan

6 2 2
                                        


Selalu ada pengalaman indah yang tersimpan di dalam hati. Sebuah kisah yang tak hendak untuk diulangi, tetapi menjadi kenangan yang ingin dibuka kembali.

=======

"Anak-anak, setelah istirahat pertama langsung berkumpul di halaman depan ruang guru. Seperti yang sudah Ibu umumkan pekan lalu, bahwa hari ini kita ada sesi foto angkatan." Bu Laksmi perpesan sebelum meninggalkan kelas.

"Banu, sebagai ketua kelas, kamu harus memastikan semua siswa mengikuti foto bersama hari ini. Tidak ada sesi pengulangan. Jadi siapa yang hari ini tidak ikut sesi foto, maka wajahnya tidak akan pernah ada di foto angkatan."

Bu Laksmi memang ingin membuat Banu lebih bertanggung jawab. Dia bukanlah anak yang bodoh, tetapi kurang seriusnya dalam mengikuti pelajaran membuat nilainya kurang maksimal. Dengan alasan persiapan pertandingan basket, lelaki berambut keriting dan bertinggi 170 Cm itu sering meninggalkan kelas. Dengan menjadi ketua kelas, ada tanggung jawab tambahan yang diberikan oleh Bu Laksmi.

"Banu, Ibu menjadikan kamu ketua kelas biar lebih disiplin. Ibu tidak melarang kamu untuk tetap berlatih dan bertanding basket, tetapi ingat sekarang kamu sudah kelas 12. Sebentar lagi akan banyak ujian dan try out yang harus kamu ikuti. Mungkin masih ada waktu satu semester ke depan untuk kamu bebas mengikuti turnamen, tetapi masuk semester genap Ibu berharap kamu jeda untuk sementara."

Banu tidak bisa menolak permintaan Wali kelasnya itu, apalagi ia dipilih oleh hampir 65% teman satu kelas. Sisanya memilih Alfan dengan alasan agar bisa lebih berbaur.

"Bu, jadi kita tidak ada album kenangan angkatan dengan foto masing-masing siswa?" tanya Santi yang sering ditunjuk menjadi bendahara kelas.

"Tahun ini adalah tahun perubahan kurikulum, jadi kesibukan pihak sekolah sudah sangat padat. Untuk pembuatan album kenangan angkatan diserahkan ke masing-masing kelas. Silakan Banu dan kamu yang mengkoordinir kelas ini. Desain dan isinya Ibu serahkan ke kalian semua."

"Siap, Bu, karena ini adalah tahun terakhir kita bersama di sekolah ini, maka agar kita memiliki kenang-kenangan yang bisa menjadi cerita di hari tua nanti maka bagaimana kalau kelas membuat kaus angkatan juga album kenangan. Setuju, kawan-kawan?"

Suara lelaki berkulit sawo matang itu langsung disambut teriakan setuju dari penghuni kelas. Hari-hari selama di kelas 12 sudah pasti akan dipenuhi dengan ulangan, try out dan ujian, sehingga waktu untuk sedikit bersantai agak sulit ditemui. Mumpung masih di awal semester mereka ingin momen kebersamaan itu bisa terabadikan lewat album kenangan.

"Ini adalah kesempatan kalian yang ingin mengabadikan kenangan bersama saya, sang ketua kelas sekaligus idola SMA kita. Jangan disia-siakan dan jangan sampai terlewatkan."

Mata Banu melirik ke arah Ranti yang sedang memperhatikan sang ketua kelas itu berbicara. Mata keduanya sempat beradu. Ranti buru-buru berpaling ke arah luar kelas. Banu memang terkenal karena prestasi basket serta kegantengannya. Jika ia sedang bertanding, maka akan banyak adik kelas yang rela menjadi supporternya.

"Banu, aku sudah menghitung perkiraan biaya yang harus dibayar oleh setiap kita. Sekitar seratus ribu sudah bisa untuk membuat satu kaus dan satu album kenangan. Aku kasih harga special untuk kalian. Kita kasih waktu satu bulan untuk semua membayar lunas, sambil menunggu desain dan pemesanan kaus. Jadi saat sesi foto nanti ada berpakaian bebas untuk foto pribadi kemudian kaus untuk foto Angkatan. Jangan lupa dari sekarang memikirkan kata-kata yang menjadi pesan kesan kalian untuk ditulis dalam album kenangan. Oke!"

Selain ahli dalam mencatat keuangan kas kelas, Santi juga memiliki keahlian dalam membuat design kaus. Ayahnya pemilik usaha pembuatan kaus ternama di kota itu. Diskusi berakhir bersamaan dengan bel istirahat pertama berbunyi. 

Hijrah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang