Di bawah sinar mentari yang terik dan perut yang mulai keroncongan, Ranti berdiri di bawah pohon menunggu angkot. Gadis itu tidak perlu berjalan ke arah ujung sekolah agar cepat mendapat angkot. Saat itu tidak lagi banyak siswa yang harus menunggu angkot.
Ketika sedang melangkah masuk ke dalam angkot, seseorang tiba-tiba mendesak dari belakang.
"Maaf, saya sedang buru-buru. Masih ada bangku tersisa?"
Suara yang pertama didengarnya kala perkenalan di kelas membuat Ranti mempercepat duduk dan menggeser badannya agar lelaki itu bisa duduk di bangku pojok yang masih kosong.
Selama di perjalanan keduanya hanya membisu. Rasa lelah dan malas untuk berbasa-basi menjadi alasan. Ranti tersentak ketika pemuda itu ikutan bersiap turun saat ia meminta angkutan itu berhenti.
Pemuda berambut lurus itu terlihat bergegas. Ia hanya mengucapkan salam sebelum akhirnya mendahului Ranti.
"Untung dia buru-buru. Jadi gak perlu basa-basi denganku," bisik gadis itu.
Sesampai di rumah ia langsung disambut oleh Pak Darma yang sedang bersantai di teras rumah.
"Tumben sore amat, Nduk? Jadi ke pasar membeli pesanan ibumu?"
"Tidak, Pak, tadi ada jam tambahan di sekolah. Maaf, Pak, Ranti langsung ke dalam ya, sudah lapar."
Lelaki berkumis tebal itu pun menyusul masuk rumah. Dilihatnya sang istri masih sibuk di dapur.
"Bu, pisang raja, daun sirih, tembakau dan menyannya sudah siap, 'kan?"
"Sudah semua, Pak, Ranti biar makan nasi bancakannya dulu sebelum Ibu bagi ke anak-anak tetangga."
"Kebetulan dia baru datang, pasti sudah lapar."
Ranti yang sudah berganti baju dan membersihkan diri segera menuju dapur demi mengisi perutnya yang mulai melilit. Dilihatnya banyak sekali makanan di sana. Nasi panas dengan urap, telor rebus, ikan asin sudah disusun rapi di sebuah tampah kecil.
"Wah, Ibu bikin bancakan, dalam rangka apa, Bu?"
"Lha mosok kamu lupa, besok itu weton kamu, Nduk. Selasa legi, hari kelahiranmu. Sekalian Bapak mau ada tirakatan sebelum panen seminggu lagi."
Ranti hanya tersenyum. Sudah menjadi kebiasaan sejak kecil yang dilakukan Bu Latifah jika wetonnya tiba. Ia akan mengundang beberapa anak tetangga untuk ikut mendoakan anak kesayangannya itu dan membagi nasi bancakan. Ia tidak mengenal perayaan ulang tahun seperti yang sering dilakukan oleh teman-teman sekolahnya. Beramai-ramai traktiran makan atau ada pesta di rumahnya.
"Nduk, kenapa Ibumu selalu Bapak minta bikin nasi bancakan setiap wetonmu tiba, itu karena anak perempuan yang lahir hari Selasa Legi itu anak yang baik tetapi sangat rawan menjadi sasaran fitnah orang sekitar. Makanya selain Bapak Ibu yang mendoakan, juga biar didoakan sama bocah-bocah yang ikutan bancakan itu."
Ranti hanya menggangguk-angguk mendengarkan perkataan Pak Darma sambil menikmati sepiring nasi bancakan yang masih mengepul panas.
"Bapak berharap kamu selalu dilindungi di mana pun kamu berada. Bergaul dengan siapa saja. Ojo lali nanti malam ikut tirakatan sama Bapak."
Ranti sangat menyukai momen tirakatan. Dalam keheningan malam ia akan berdoa dengan tenang. Ada banyak hal yang bisa ia tumpahkan dalam diam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hijrah Cinta
RomantizmTumbuh dan besar dalam limpahan kasih sayang kedua orang tua, tidak lantas membuat Ranti bisa melupakan kejadian yang menimbulkan trauma mendalam itu. Ketika teman-teman sebayanya bisa bermain dengan ceria, ia justru dihadapkan pada kejadian yang me...
