Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Part 3. Demi Sebuah Bangku

8 3 1
                                        


Jangan menganggap diamnya seseorang sebagai kebanggaannya, mungkin dia sibuk berkelahi dengan dirinya sendiri. (Ali Bin Abi Thalib)

===============================

Ranti berjalanan beriringan dengan Pak Darma membelah jalanan kampung. Di sebelah kanan jalan masih terbentang sawah dengan padi yang mulai menguning.

Beberapa kali mereka membalas sapaan tetangga yang melintas. Kehidupan di desa memang diwarnai keramahtamahan warganya.

"Wah, Nduk Ranti masih diantar sama Bapaknya nih?" sapa Pak Rama, ketua RW yang melintas sambil mengendarai sepeda motor dengan pelan.

"Eh, Pak Rama, kebetulan bareng saja ini, Pak. Ranti sudah bisa berangkat sekolah sendiri. Sudah perawan, Pak, hehe."

"Iya, kalau keseringan dikawal, nanti tidak ada teman lelaki yang mendekati."

"Ahh, Bapak bisa saja. Biar lulus sekolah dulu, Pak."

"Saya duluan ya, Pak, mau ke kantor desa menyelesaikan masalah tadi pagi."

Lelaki berpeci hitam itu segera menarik gas sehingga kendaraan melaju lebih kencang.

"Memang si Bapak pelaku pemerkosaan itu sekarang ada di mana, Pak?" tanya Ranti sambil sesekali menendang kerikil kecil yang ada di depannya.

"Tadi masih di rumah Pak Rama. Sepertinya sekarang sudah ada di kantor desa untuk dibawa ke pihak yang berwajib. Orang seperti itu harus mendapat hukuman yang berat. Biar jera. Istrinya sekalian mau menuntut cerai karena takut kejadian itu akan terulang lagi."

Gadis berkulit kuning langsat itu hanya terdiam. Iya menganggukkan kepala menyetujui apa yang disampaikan sang bapak. Meskipun dalam hati sangat mendukung jika orang berperilaku seperti itu harus dienyahkan dari muka bumi.

"Bapak gak nungguin kamu sampai dapat angkutan ya, Nduk. Hati-hati di jalan."

Lelaki berusia setengah abad itu langsung menyeberangi pematang sawah. Ia berjalan pelan dengan bawaan cangkul di lengan kiri dan rantang di lengan kanan.

***

Jalan utama hari itu cukup ramai. Tahun ajaran baru selalu menghadirkan suasana baru. Beberapa kendaraaan berlalu lalang dengan pengemudi berseragam putih abu-abu. Usia SMA adalah waktu yang dinanti karena mereka bisa mengurus kartu tanda penduduk sekaligus surat izin mengemudi. Meskipun sudah lihai mengendarai motor tetapi tanpa surat kecil itu maka siap-siap akan terkena tilang polisi. Tak sedikit kendaraan yang membawa penumpang yang berseragam.

Hampir sepuluh menit Ranti menunggu mobil minibus yang akan membawanya ke sekolah. Setiap yang lewat sudah penuh dengan penumpang berseragam.

"Wah, kalau enggak dapat angkutan juga, aku enggak bisa memilih bangku sesuai dengan arahan Bapak," lirihnya sambil terus menatap dari arah kanan berharap segera ada angkot kosong yang lewat.

Tak berapa lama sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya.

"Masih bisa satu lagi. Naik saja daripada telat sekolah,"ujar sang kondektur sambil membuka pintu.

Ranti segera duduk menyempil di antara penumpang lain yang terlihat beberapa terpasang badge yang sama dengan dirinya.

"Akhirnya kita satu kelas. Males aku jika bersebelahan dengan teman baru. Beruntung waktu aku melihat pengumuman pembagian kelas kemarin, kelas kita sudah dibuka. Langsung aja aku naruh beberapa buku di sana. Buat tanda kalau bangku itu sudah berpenghuni."

Ranti melirik sekilas pemilik suara yang duduk di sebelahnya. Ternyata urusan bangku adalah persoalan penting bagi para siswa. Siapa bilang anak SMA tidak memedulikan hal itu. Benarkah posisi menentukan prestasi. Ahh itu hanya candaan saja. Posisi duduk menentukan kenyamanan belajar dan berinteraksi dengan teman. Dengan siapa duduk berdampingan, maka semangat belajar akan didapatkan.

Hijrah CintaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang