Haekal & Naren : Past III

20 6 0
                                        

Narendra menggenggam erat tangan Haekal, anak itu takut, dia takut dengan apa yang akan terjadi jika operasinya gagal.

Mungkin jika dia adalah Naren yang dulu, dia tidak akan peduli jika dia mati ataupun sekarat, tapi sekarang berbeda, Naren memiliki teman.

Teman pertamanya, Haekal, dan Naren tidak mau kehilangan lelaki manis berpipi gembul itu, Naren tidak mau meninggalkan Haekal sendiri di dunia yang kejam ini.

"Nana, gapapa, gausah takut, pasti operasinya pasti sukses percaya sama Ekal." Haekal mengelus rambut Naren.

"Iya, Nana percaya..... Ekal."

"Iya, Nana?"

"Kalau operasi Nana berhasil, Nana janji bakal bawa Ekal pergi dari orang tua Ekal, Nana pasti akan ngejaga Ekal."

Haekal tersenyum, dia terharu dengan perkataan Naren.

"Iyaa, janji ya Nana!"

"Nana berjanji Ekal."

"Dek Haekal, Narennya kami bawa dulu ya." Kata Suster yang baru masuk ke kamar Naren, bersiap untuk memindahkan Naren ke ruangan operasi.

"Iyaa, Bu Suster tolong jaga Nana ya!"

Suster itu tertawa dan mengangguk, persahabatan kedua anak ini sangat menggemaskan.

"Doa Ekal selalu bersama kamu Nana." Bisik Haekal sebelum Narendra di pindahkan ke ruangan operasi.

Naren sudah mulai mengantuk karena obat bius yang di suntikkan oleh Dokter, pandangannya mulai kabur dan memberat, dan hal terakhir yang dia ingat sebelum kesadarannya hilang adalah Haekal.

Beberapa jam sudah berlalu, Direktur rumah sakit sekaligus Ayahnya Naren, Yudha Naradipta sudah menunggu dengan jantungnya berpacu cepat.

Dia terus mendoakan agar operasinya berjalan lancar, dia sudah kehilangan istrinya karena penyakit jantung, dia tidak mau anaknya juga meninggalkannya karena hal yang sama.

"Dok? Gimana keadaan Naren?" Yudha berdiri menghampiri dokternya ketika dia keluar dari ruangan.

"Selamat, operasi Naren berjalan dengan lancar Pak Yudha, anda sudah boleh menjenguknya."

Air mata Yudha turun dengan derasnya, dia berterima kasih berkali-kali kepada Sang Dokter sebelum masuk untuk menjenguk anaknya.

"Naren, anak ayah yang kuat, kamu udah bisa hidup dengan normal nak, kamu berhasil, makasih udah bertahan ya." Ucap Yudha sambil mengelus rambut Narendra.

"Pa?" Naren perlahan membuka matanya.

"Naren!" Yudha memeluk anaknya.

"Operasinya... lancar?"

Narendra menangis terharu ketika ayahnya menganggukkan kepalanya.

Naren sudah bisa bisa bermain seperti anak anak pada umumnya, Naren tidak perlu takut atau khawatir jika obatnya ketinggalan dan Naren sudah bisa menepati janjinya kepada Haekal.

"Pa, Naren mau ketemu Haekal!"

"Nak, Dek Haekal tidak akan datang ke rumah sakit ini lagi..."

Senyuman di wajah Naren memudar.

"Hah?"

"Kakaknya, Dokter Dean, tadi mengundurkan diri, katanya dia mau pindah ke Luar negeri untuk melanjutkan perusahaan ayahnya."

Dunia Naren langsung runtuh, jadi dia tidak akan bisa melihat Haekal lagi? tidak, Naren tidak mau pesimis, dia ingin mencari Haekal dan dia pasti akan menemukan Haekal lagi, lelaki itu mau menepati janjinya.

"Ekal tunggu Nana ya, Nana pasti akan nemuin Haekal lagi, Nana janji."

(H)ujanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang