Halo pembaca yang budiman, eh tapi nama lo belum tentu Budi kan yah? Intinya itu lah ya!
Kenalin nama gue Stevano Argantara Pamungkas, anak papa dan mama yang paling ganteng. Anak didik Bu Rosalina yang paling disayang. Sahabat, musuh, sekaligus ehe...
Hello my Sayang Apa kabar? Baik? Sehat? Vano cuma mau sebelum kalian baca pencet dulu bintang pojok kiri dong😉
Udah?
Belum?
Vano tunggu...
Udah? Terimakasih rawr~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ma pa bangun!!"
"Kembar bangun!!"
Gue dengan tergesa pergi ke arah dapur ngambil panci dan satu sendok besar.
Tong tong tong
"GEMPA!!!"
"GEMPA!!!" Karena gue merasa kalau di rumah aja belum cukup akhirnya gue keluar hingga ke jalan raya komplek.
"WAHAI PARA SETAN. EH MAAF TYPO, WAHAI PARA TETANGGA BANGUNNN!!! GEMPAA!!!" Heboh gue sambil mukul tu panci lebih keras lagi
"KELUAR GEMPA!!" Seperti yang diharapkan akhirnya semua orang di komplek ini akhirnya pada di jalan raya dengan segala kondisinya.
"Teruntuk pak Erwin pengusahawan muda yang berjaya untuk segera mengenakan baju, kasian si siti hidungnya sekarang lagi berdarah-darah" koar gue kepada orang bernama Erwin itu.
"Owh maaf-maaf" dengan biadabnya dia segera tarik selimut yang dibawa si pak Sahoy hingga beliau hampir saja terjungkal karena masih mengantuk ditambah serangan tiba-tiba itu.
"Ihh, kak Vano sukanya yang pink" celetuk seorang bocah di sana yang gue rada lupa namanya.
"Gue mah sukanya hijau, uang contohnya" kata gue dengan bangga
"Lo kalau pakai baju yang senooh dikit dong. Banyak anak dibawah umur ini. Mana iler lo dimana-mana lagi" si Via tiba-tiba nyeletuk yang ngebuat gue otomatis liat baju gue sekarang.
Baju kaos tanpa lengan, dan boxer pink gambar chooky, apanya yang tidak senooh cobak? Sebentar, sepertinya ada yang salah.
Coba ulang, coba ulang.
Baju kaos tanpa lengan, boxer Pink gambar chooky. "Anjir!!" Kata gue tanpa sensor karena kaget liat ni celana.
"Kakak mulutnya!" Kata si mama dengan nada peringatan yang gak gue balas. Gue masih syok, kagak bisa berkata-kata liat ni celana yang mempermalukan gue banget.
"Ya ampun!! Panci mama penyok kak!" Akhirnya suara itu menyadarkan gue dari keterkejutan gue.
"Penyok dikit ma" kata gue santai. Padahal dalam hati dah ketar-ketir takut dimarahin.
"Cuma dikit kamu bilang?" Marah si mama kemudian dengan garang melangkah ke gue.
Plak
Miris, kepala gue jadi sasaran. Mana pukulannya kagak main-main lagi. "Sakit ma" rengek gue