Harapan

3 0 0
                                    

Semoga dipertemukan dengan manusia yang bisa menemukan Allah dalam hatinya.

Pagi yang cukup cerah, hari yang sempurna untuk memulai hal yang baik. Setelah berdiskusi dan berencana dengan Hasna terkait rasa tertariknya kepada Alya, Ardan langsung memutuskan untuk segera melamar Alya.

"Bapak dimana mbok?" Tanya Ardan ke Mbok Inah, pembantu di rumah Pak Danu, Bapaknya.

"Lagi tidur Den" balas Mbok Inah.

"Mau dibangunkan atau gimana Den" lanjut Mbok Inah.

"Gausah Mbok" Ardan berlalu menuju ruang keluarga, meraih remote televisi dan menyalakannya.

Suasana hatinya memang sedang baik ketika niatan untuk melamar Alya muncul dalam benaknya. Namun hal itu tidak serta merta menghilangkan amarahnya kepada Pak Danu perihal kepergian mendiang Ibunya.

Satu jam berlalu, Pak Danu muncul dari salah satu kamar yang berhadapan dengan ruang keluarga.

"Ardan, akhirnya kamu mengunjungi Bapak, sudah lama sekali semenjak kamu kesini" Pak Danu berjalan setengah berlari ke arah Ardan.

"Aku cuman sebentar, hanya ingin ngasih tahu, aku akan melamar seorang perempuan" tutur Ardan terdengar ketus.

Setelah mengatakan itu ia lantas beranjak dan meninggalkan rumah yang dibelinya khusus untuk Pak Danu. Namun rumah mewah sekalipun tidak bisa mengobati kehilangan seorang ayah atas perubahan sikap Ardan.

Pak Danu hanya melihat dari ruang tengah ketika Ardan melangkah meninggalkan rumah itu, hingga akhirnya tubuh Ardan sudah tidak terlihat lagi. Pak Danu duduk pada sebuah kursi, nampak senyum terlukis dari wajahnya, bagaimanapun ia bersyukur anaknya memiliki keinginan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Semoga dengan pernikahannya nanti ia bisa sedikit mendapat obat sakit hatinya.

Resto Hidangan Raja
Pukul 20.15

Ardan duduk seorang diri menunggu kehadiran tiga orang yang ia tunggu, Mbak Hasna, Mas Bian dan tentunya Alya. Ya hari ini adalah hari eksekusi rencana perjodohan yang dicanangkan Mbak Hasna.

Nampak dari kejauhan tiga orang berjalan menuju meja tempat Ardan duduk menanti, Mas Bian nampak rapi dengan setelan jas berwarna biru donker, sedang Mbak Hasna memakai setelan gamis krem dibalut dengan blazer warna coklat, sedang Alya memakai gamis panjang dengan nuansa putih. Deg setelan Putih Ardan nampak serasi dengan busana yang dikenakan oleh Alya. Padahal nggak ada rencana couplean.

"Udah lama nunggunya Dan?"
Sapa Mas Bian, yang dilanjut dengan menjabat tangan Ardan.

"Gak terlalu lama kok Mas"
Balas Ardan.

"Silahkan duduk, Mbak, Mas dan Alya" lanjut Ardan.

Nuansa galak, kaku dan dingin dari Ardan hilang malam ini, faktor suasana.

Setelah tiga puluh menit mereka terlibat obrolan ringan dan menyantap makanan di restoran, tibalah mereka masuk ke topik serius.

"Ehhmm, gini maksud kita berkumpul pada malam hari ini sebenarnya ada suatu hal yang penting untuk dibicarakan" Mas Bian memulai pembicaraan, sedang Ardan, Alya dan Mbak Hasna nampak memperhatikan dengan seksama.

"Jadi gini Alya"
lanjut Mas Bian, yang sontak membuat yang punya nama menoleh dengan tatapan serius.

"Ardan hendak melamar kamu menjadi istrinya"
Mas Bian mengakhiri kalimat dengan mengarahkan netra ke Alya.

Alya yang mendengar hal itu jelas dibuat bingung oleh pernyataan Mas Bian, otaknya sedikit mencerna kata-kata barusan.

"Ini bercanda atau bukan? Tapi rasanya gak mungkin Mas Bian bercanda soal beginian" batin Alya terus meyakinkan.

"Gimana Al?" Suara berat khas laki-laki yang keluar dari mulut Ardan membuyarkan lamunan Alya

Bagi Alya ini merupakan sesuatu yang sangat mendadak, seingat dia pertemuan antara Alya dan Ardan baru terjadi dua kali yang pertama 11 tahun yang lalu, ketika Mbak Hasna menemui Mas Bian di Asrama, dan ketika Alya diantar pulang dari Asrama setelah mengajar ngaji.

"Al, kamu nggak papa?" Mbak Hasna bertanya dan memastikan Alya yang masih bingung dengan situasi yang terjadi.

"Emm, Mas Bian boleh Alya ngajuin pertanyaan ke Mas Ardan?" Tukas Alya.

"Gimana Dan? Bersedia ditanya-tanya Alya?" Sahut Mas Bian

Ardan hanya menjawab lewat anggukan ringan.

"Apa alasan Mas Ardan, milih saya jadi calon istri?" Dengan nada yang lembut dan tenang Alya melontarkan pertanyaan pertama.

"Aku melihat perempuan sebelas tahun lalu, kemudian aku sulit memalingkan wajah darinya, kupikir hanya perasaan sesaat, sampai tiga minggu yang lalu aku bertemu lagi dengannya, dan aku membuat keputusan ini" jawaban dari Ardan sukses membuat pipi Alya memerah, menampilkan kecantikan hakiki dari Alya.

Mbak Hasna dan Mas Bian hanya tersenyum hangat mendengar kata-kata dari Ardan barusan, mereka seakan-akan kembali ke masa-masa muda mereka dulu duh romantisnya batin Mbak Hasna

"Pernikahan itu adalah sesuatu yang suci dan sakral, aku mau sepanjang hidupku hanya sekali menikah dan menghabiskan sisa usia dengan orang tersebut" Alya melanjutkan dan menghentikan kalimatnya untuk sementara.

"Mas Ardan sudah paham tentang dasar-dasar agama untuk menjadi imam yang baik? Untuk membimbing keluarga ke arah yang baik? Sakinah mawadah warahmah?" Pertanyaan kedua dari Alya membuat mereka berempat diam untuk beberapa saat

Ardan terdiam di seberang sana pandangannya mengarah ke kolam yang ada di samping restoran.

"Alya mau, calon imam Alya nanti adalah orang yang sudah menemukan tuhan dan menempatkannya di posisi pertama dalam hatinya" Alya menjelaskan dengan mata yang berkaca-kaca.

"Mengamalkan agama dengan baik dan benar dan memiliki akhlak yang bisa menjadi panutan untuk keluarga" lanjut Alya.

"Itu harapan Alya Mas, Sebelum ada ikatan halal antara kita, Mas Ardan bisa mewujudkan harapan itu?" Tutup Alya.

Ardan terdiam untuk waktu yang lama, sedang Mbak Hasna dan Mas Bian menanti jawaban Ardan dengan wajah yang cemas.

"Saya rasa untuk sementara itu jawaban saya Mas Ardan, mungkin pembahasan ke depan bisa kita lanjutkan jika Mas Ardan berkenan memenuhi harapan saya, saya pamit dulu" Alya beranjak dan meninggalkan meja makan yang kemudian disusul oleh Hasna, sementara Mas Bian menemani Ardan yang masih terdiam sambil memandang kolam di samping restoran.

"Mas Bian, kok rasanya jauh sekali jarak antara aku dan Alya" kata dari Ardan mengejutkan Mas Bian.

"Dan, mungkin Alya adalah jawaban dan petunjuk untukmu pulang, kembali ke jalan yang benar, kembali ke jalan Tuhan yang sudah lama kamu tinggal" terang Mas Bian.

"Gimana caranya Mas?" Tanya Ardan.

"Ngaji Pak Bos" jawab Mas Bian sambil menepuk bahu Ardan.

"Tapi ingat niatkan atas nama Allah, bukan karena cinta Alya" lanjut Mas Bian.

Ardan hanya terdiam dan mengangguk dengan samar.

Tuhan punya cara yang indah untuk membawa kita pulang Ke fitrah, sejauh apapun kita melenceng pasti ada petunjuk untuk meluruskan arah.

Cakrawala Cerita

Ngaji Yuk Bos [Bersambung]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang