Harusnya tak terjadi,

13 1 0
                                    

Ardan menatap sejenak Gedung yang ia dapatkan dari hasil jerih payahnya. Hal itu selalu ia lakukan saat semangatnya sedang down, tiba-tiba saja sebuah kata yang sangat dirindukannya muncul dalam benaknya

“Ibu, sekarang Ardan sudah jadi orang sukses, Ardan pengen Ibu ada disini” mata Ardan berkaca – kaca mengucap kata itu dalam hatinya

Andai saat itu Ardan mempunyai keberanian dan tidak menuruti omong kosong bapak waktu itu, pasti Ibu masih hidup sekarang” hatinya merutuki atas kejadian itu.

(Flashback)
Menjelang petang Ardan dan  Danu masih terlihat menjual koran di sekitar lampu merah pertigaan dan perempatan. Biasanya menjelang petang Ardan akan pulang duluan guna belajar dan sebagainya, mengingat besok hari minggu Ardan ingin membantu Bapaknya yang nyambi cuci piring di sebuah kedai nasi goreng tak jauh dari tempatnya berjualan koran.

“Ardan gak capek?” tanya Danu dengan nada agak khawatir.

“Enggak dong pak, Ardan mau cari uang yang banyak buat berobat Ibu” jawab Ardan dengan semangat.

Mendengar kalimat yang keluar dari anak sekecil itu Danu dirundung rasa antara Bangga, sedih dan semangat. Mengingat saat ini istrinya hanya bisa berbaring di ranjang saja. Sehari – hari untuk merawat dan memberi obat, Danu mempercayakannya kepada Adik perempuannya yang tinggal tak jauh dari rumahnya.

Waktu menunjukkan pukul 11 malam, Ardan tertidur di salah satu meja pembeli, untungnya pemilik kedai nasi goreng tidak mempermasalahkan hal itu.

“Pak Danu, bapak pulang saja dulu, kasihan Ardan, toh juga pengunjung sudah mulai sepi” Wahyudi tersenyum sambil melirik ke arah Ardan.

Endak papa saya tinggal sekarang  Pak” elak Danu dengan nada tak enak

iya ndak papa Pak Danu, ini imbalan Pak Danu untuk hari ini, semoga berkah dan semoga Bu Aisyah segera diberi kesembuhan” keduanya mengaminkan doa dari Wahyudi.

Danu segera membangunkan anaknya, Ardan yang masih kecil menunjukkan sifat polos khas anak – anak yang diganggu dari mimpinya.

“besok kan sekolahnya libur pak, jadi Ardan tidur lagi ya” rengek Ardan yang disambut senyum serta tawa kecil dari Danu, Wahyudi dan dua orang pengunjung yang ada di tempat tersebut.

Setelah nyawanya terkumpul Ardan akhirnya mau diajak pulang. Ditengah perjalanan pulang Ardan dan Bapaknya berjalan sambil bermain tebak – tebakan kecil

“14 dikali 3 sama dengan berapa hayo” tanya Danu kepada Ardan.

“42 Pak, yee benerkan pak?” sambil menghitung – hitung dengan jarinya.

“Pak, Ardan besok pas udah gede pengen kayak orang itu” Ardan sambil menunjuk pria berjas rapi dan menenteng sebuah koper di tangannya.

Danu hanya tersenyum dan mengelus – elus rambut Ardan.

brrraaaaaaakkkkkkk sebuah mobil nampak menabrak seseorang.

Danu dan Ardan kompak menengok kearah suara tersebut. Betapa terkejutnya Danu dan Ardan kala melihat pria yang sedang dibicarakannya terkapar berlumuran darah, refleks Danu segera menghampiri orang tersebut.

Danu terlihat memberikan pertolongan pada pria tersebut, sementara Ardan masih saja diam, dia masih harus mencerna apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Matanya terarah ke sebuah tas, yang sedari tadi dibawa oleh orang tersebut. Ia memutuskan untuk mengamankan tas orang tersebut.

Dengan langkah kecilnya Ardan menghampiri tas tersebut, samar-samar ia melihat pecahan uang seratus ribuan dari tas itu. Ardan putuskan untuk mengintip tas tersebut. Alangkah terkejutnya, kala dalam tas tersebut Ardan menemukan uang lembaran seratus ribuan, setelah ia buka dalam tas tersebut terdapat sekitar puluhan bahkan ratusan juta.

"Inalillahi wa innailaihi rajiun" sayup-sayup Ardan mendengar itu dan ia nampak sedih. Tak lama kemudian Ambulans yang ditelpon salah seorang pengendara yang melintas datang, petugas medis tampak sigap dalam mengurusi korban laka itu.

"Bapak tidak melihat ke arahku" gumam Ardan dalam hati.

Setelah Ambulans pergi, Danu menghampiri Ardan, ia melirik ke tas yang dibawa oleh Ardan.

"Ini tas siapa nak?" Tanya Danu.
Ardan hanya diam, dalam hatinya ia ingin memakai uang tersebut untuk membayar biaya pengobatan Ibunya.

"Ini tas orang tadi ya" cecar Danu.
"I i yaa pak, didalamnya ada uang banyak, kita pakai buat berobat Ibu ya pak?" Pinta Ardan sambil berkaca-kaca.

"Ndak boleh, itu bukan hak kita Ardan, dalam agama, kita tak seharusnya memakai uang tersebut, sini biar Bapak kembalikan besok" Danu mengambil tas itu dari tangan Ardan.

Ardan kecil hanya bisa diam dengan rasa kecewa dan gelisah dalam hatinya.

Enam bulan berlalu . . .
Malam ke sembilan bulan Ramadhan

Suasana begitu hening, suasana kesedihan menyelimuti seisi rumah saat itu, hati Danu hancur karena belahan jiwanya telah pergi menyebrang ke alam lain, yang tak kalah hancur adalah Ardan kecil, sedari selesai Ibunya dimandikan, ia hanya tiduran dalam pangkuan sang Ibu yang telah membisu. Tak ayal pemandangan itupun terasa memilukan bagi siapapun yang melihatnya, siapa tahu, dalam hati anak sekecil itu menyimpan kebencian pada keadaan. Ibu tercinta telah dipisahkan dari Ardan.

Tak terasa satu bulan sepeninggal Aisyah, Ardan masih kerap menunjukkan kesedihannya, ditambah ia sedang marah kepada sang Ayah, kenapa tidak mengambil uangnya untuk berobat ibu saja, Andai saat itu uang yang ditemukan buat berobat Ibu pasti sembuh.

"Permisi, Saya Ammar" seorang berpenampilan sangat rapi terlihat masuk dan berbincang-bincang dengan Danu.

Ardan tak mau menghampiri dan mendengar pembicaraan sang Ayah dengan tamunya, kebiasaan Ardan yang selalu kepo dan cari perhatian pada orang yang bertandang kerumahnya hilang, sejak sepeninggal Ibunya.

"Ardan, om Ammar ingin mengajakmu untuk bersekolah di Yogyakarta, ia ingin kamu jadi orang sukses" Mata Danu tampak berbinar-binar.

Ardan mengangguk lesu tanda setuju.

Setelah itu Ardan bersekolah di Yogyakarta, ia mendapat fasilitas dari Putra Bangsa Foundation, ia mendapat fasilitas sampai level sarjana. Pasti bertanya-tanya kenapa kok tiba-tiba ada orang dari yayasan besar datang kerumahnya dan mengajak gitu aja, eitzzz ini merupakan awal cerita untuk part ke depannya, Ammar ini siapa? Pokoknya ada hubungannya dengan kejadian kecelakaan lalu lintas dan insiden nemu uang.
Sampai jumpa lagi.
Tetep waspada,
Stay at home
Jangan lupa,
"Ngaji yuk Boss"

Ngaji Yuk Bos [Bersambung]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang