"Apakah sekarang aku sudah tak lagi berarti bagimu? Mengapa aku merasa sulit untuk menerima kenyataan ini?"
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
✧ KATAOMOI ✧
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
"Siapkan ruang operasi! SEKARANG!"
"Apakah Winter mengidap Hanahaki Byou?"
"Maaf, operasinya tidak berhasil. Saya gagal menyelamatkan nyawa Nona Kim Minjeong."
"Winter-ku."
"Aku mencintaimu, Winter."
"Mengapa kau tega melakukan ini padaku, hmm?"
"Kim Minjeong, let's meet again in another life, shall we?"
"Jaemin, bangunlah. Jaemin!"
"NA JAEMIN!"
Jaemin tersentak bangun. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berdegup kencang akibat terkejut, badannya terasa berkeringat. Pandangannya buram, ia mengerjapkan kedua matanya. Ia menatap sekeliling dan menyadari bahwa dirinya masih berada di ruang tunggu rumah sakit.
Jaemin merasa pipinya sedikit basah. Ia mengusap pipinya, dan benar. Ada bekas jejak air mata di sana. Apakah ia baru saja menangis?
"Apa yang terjadi?" Ia bergumam.
Ia menoleh ke samping, dan menemukan Jeno yang sedang menatapnya khawatir.
"Kau tidak apa-apa? Kau sedang tidur, namun kau tidak berhenti menangis. Apa kau bermimpi buruk?"
Jaemin mengerinyit. Ia menggeleng tak yakin. Kemudian, ia tiba-tiba teringat seluruh kejadian di dalam mimpinya. Ia menatap Jeno cemas. "Winter! Bagaimana dengan Winter? Apakah ia baik-baik saja?"
Jeno mengangguk. "Tentu saja. Ia sudah di-pindahkan ke kamar rawat beberapa waktu lalu, namun ia belum sadar."
"Bagaimana operasinya? Apakah berhasil?" Jaemin masih merasa cemas. Jawaban Jeno belum berhasil membuatnya tenang.
"Tenang saja, operasinya berjalan lancar. Winter baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang terjadi. Dokter Moon melakukan semuanya dengan baik." Jeno mengembangkan senyumannya, meyakinkan sahabatnya itu.
"Syukurlah." Jaemin menghela napas lega. Ternyata benar, itu semua hanyalah mimpi buruk. Namun, mengapa mimpi itu terasa begitu nyata?
Ia memutuskan untuk tidak mempedulikan hal itu. Jaemin kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi, memejamkan kedua matanya dan memijat pelipisnya untuk menghilangkan rasa pening.
"Kau tidak mau melihat keadaan Winter?" Jeno bertanya. Ia heran melihat sahabatnya itu kembali memejamkan mata.
Jaemin kembali membuka matanya dan menatap langit-langit rumah sakit. "Nanti. Aku belum siap melihatnya. Jika nanti ia bangun, aku tidak tahu bagaimana aku akan meminta maaf padanya. Juga, aku tidak tahu apakah Winter masih ingin menemuiku. Aku takut kembali menyakiti perasaan-nya." Ia menjawab lirih.
Jeno menatap sahabat terbaiknya itu iba. Situasi ini memang sulit untuknya. "Baiklah, kita tunggu Winter sadar terlebih dulu."
"Ba—"
"Jeno, Jaemin!"
Sebelum Jaemin sempat menjawab Jeno, Karina datang menghampiri dua lelaki itu dengan tergesa.
Napas Karina terlihat terengah-engah. Ia menenangkan dirinya terlebih dulu, kemudian bersuara. "Winter baru saja sadar. Ia ingin menemui-mu, Jaemin."
"Eh? Sekarang juga?" Baru saja ia mengeluh belum siap, Winter sudah ingin menemuinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kataomoi
RomanceAku sangat mencintaimu, Na Jaemin. Sampai ingin mati rasanya. Karenamu, bunga-bunga terus bermekaran. Tentu, sangat menyakitkan. Menyesakkan. Menyayat hatiku. Namun, aku bahagia. Kataomoi (かたおもい) (n.) cinta yang tak terbalas. © 2022, Kireiverse.
