Di sisi lain, seorang gadis duduk dengan santainya di rumput, membiarkan angin menerpa kulitnya. Dari wajahnya, ia sangatlah familiar. Dia...
"Aiko, kamu ngapain di sini? Masuk yuk" Tiba-tiba seorang pria meneriaki namanya dan menyuruhnya masuk, masuk kemana? Mungkin masuk ke dalam rumah sederhana itu, di tengah-tengah hutan yang mulai tak terlihat, gelap. Aiko memilih untuk tetap di sini, meski ia terus kepikiran pada teman-temannya yang lain, Aldi, Calya dan juga Iqbaal. Mengapa Aiko bisa bersama lelaki lain? dia ke dunia ini karena sebuah misi! Ingat misi! Bersama dengan ke tiga temannya, ralat bukan tiga tapi kedua temannya, yang satu bukan lagi temannya, melainkan pacarnya.
Aiko berada di salah satu ruangan di rumah itu, ruangan yang lembab, hawa dingin bertebaran di mana-mana beberapa perabotan rumah di letakkan sembarangan, dibiarkan bertumpuk debu. Sementara di atapnya banyak sekali maha karya laba-laba. Aiko menatap lurus keluar jendela. Mengingat-ingat kembali bagaimana ia bisa bersama seorang pria di rumah ini, hanya berdua..
***
"Aku di mana?" Seorang gadis bangun di atas rerumputan. Ia mengingat, dia sedang di culik. Namun, apakah penculikan namanya jika kita menyerahkan diri sendiri kepada penculik itu? Ini lebih dinamankan .. bunuh diri?.
"Hey udah sadar." Lelaki itu, siapa dia? Bisa-bisanya Aiko di bawa ke rumah si bujang ini.
***
Pria yang di temaninya bersama di rumah ini menyerit heran, kenapa gadis itu?
"Hey, kamu kenapa?" Ucap pria itu.
"Kamu siapa sih? Dari mana kamu tau nama aku? Kenapa kamu mau aku?" Aiko mulai terisak, bagaimanapun juga ia rindu dengan teman-temannya, terutama Iqbaal. 'Sebenarnya mau lelaki ini apa?' Batin Aiko.
"Baru aja aku mau jelasin, sini duduk" pria itu menepuk-nepuk sofa di sebelahnya, mengisyaratkan agar ia untuk duduk.
"Jadi aku itu, makhluk yang bawa kamu ke sini, panggil saja aku Juah" dia berhenti sejenak untuk mengambil napas, "penjelasan aku jangan di potong!" Lanjutnya.
"Aku bawa kamu ke sini, karena aku mempunyai misi yang sangat tidak bisa aku lakukan, kamu memiliki elemen api dan itu akan sangat membantu, jika kau ingin membantu akan ku bawa kau kembali kepada teman-temanmu, dan jika kau menolak, kau tidak akan bisa keluar dari dunia ini." Dia berhenti menjelaskan.
"Apa misimu?" Aiko balik bertanya.
"Misiku adalah membakar sesuatu, tunggu sebentar akan ku bawakan barangnya" Pria itu pergi, akan author jelaskan penampilan luar pria itu, dia tinggi, pucat, rambut berwarna sedikit kemerahan, warna bola matanya biru. Dia sepertinya orang yang baik, terlihat juga dari kosa katanya, aku-kamu.
Dia kembali, pria itu menunjukkan barang yang berada di genggaman tangannya kini. "Aku ingin kau membakar ini." Sebuah permainan dam, itu hanya papannya. Aiko menyerit, melihat benda itu dan menatap kembali pria di hadapannya.
"Untuk apa?"
"Karena ini misiku!"
"Aku tak punya hubungan dengan benda ini"
"Kau punya"
"Buktikan!"
Pria bernama Juah itu membalikkan papan dam itu, mata Aiko membuat bulatan. Ia kaget setengah kaget(?) Tertulis di balik papan itu, ada 'WxZ' Oh Tuhan! Tanpa dicari ia datang dengan sendirinya.
"Baiklah, sudah ku buktikan mari kita keluar"
"Hmm" Aiko hanya menganguk paham.
Sampai di luar, Juah memberikan papan permainan itu pada Aiko, tanpa banyak bertanya, Aiko mengambil papan itu dan segera membakarnya.
FUSSH
Api muncul sengan hebat di tangan Aiko yang di situ juga ia memegang papan dam itu. Saat telah selesai, Aiko sama sekali tidak mereasa ia membakar sesuatu, papannya masih utuh.
"Ramalan bodoh itu mungkin benar" kata Juah.
"Ramalan?"
"Papan itu akan bisa dihancurkn ketika gerhana bulan merah datang, sekitar 49 jam dari sekarang, dua hari lebih satu jam, kau akan betah tinggal di sini" ucap Juah.
"Tak akan pernah" ucap Aiko melempar papan permainan dam itu dan segera masuk kedalam rumah yang tak tahu arti dari kata 'bersih.' Juah hanya terkekeh melihat gadisnya itu, tunggu! Gadis-nya?.
***
Aiko, nama itu sudah membuat Iqbaal beberapa hari ini *baru juga satu hari* diam, bungkam, tidak berbicara, bisu(?) dan gila. (Yang terakhir salah)
Calya dan Aldi mencoba menghibur Iqbaal, namun hasilnya tetap saja sama, nihil. Sudah seharian Iqbaal sendirian, sementara Calya dan Aldi mencoba menghancurkan benda kedua, buku aneh yang isinya semua hanya lembaran-lembaran kosong. Mereka mencoba menghancurkannya tanpa Iqbaal. Dengan berbagai macam cara :
Pertama : Mereka berdua mengambil batu yang ada dan menumbuk-numbuk buku itu. GAGAL.
Kedua : Mereka menggigit buku itu, dan tentu saja hasilnya GAGAL.
Ketiga : Calya mencoba keahlian matanya, mencoba menatap buku itu terus menerus tanpa berkedip, mengira laser akan keluar dari matanya. GAGAL.
Keempat : Aldi mencoba memukul buku itu di kepalanya, karena Aldi mengira otaknya yang cepat berpikir akan merobek buku itu hingga habis, otak bisa merobek? GAGAL.
Kelima : Dengan kata merobek tadi, Calya dan Aldi mencoba merobeknya. Namun, kertas di buku itu tak bisa di robek! Lentur, lunak, seperti karet. GAGAL.
Keenam : Mengingat Aiko, Mereka mencoba membuat api dengan menggesekkan kedua kayu secara bersamaan, kedua batu, kedua daun, kedua tangan, sungguh mereka aneh dan GAGAL.
"Apa lagi?" Tanya Calya dengan tatapan lelahnya, ia sudah mencoba enam cara, hasilnya selalu gagal, gagal dan gagal.
Aldi menggeleng, "Mimpiku benar, hanya Aiko yang dapat membakar buku ini."
"Kak Aiko kemana, kok ninggalin kita" Calya menunduk, perasaannya bercampur aduk, gelisah, sedih, dan takut menguasai dirinya. Takut, tanpa Aiko mereka tak akan bisa pulang ke rumah.
-- ToT --
Maaf jika ada kesamaan tempat maupun tokoh. Ini fiksi, jangan di anggap serius. Semoga gak bosen sama cerita ini, meski authornya ngaret banget buat nge-next. Oke see you readers!!
Twitter @nurkhalifah_a
IG efhaa_
ID LINE efhaa02NKA ✌

KAMU SEDANG MEMBACA
Love of Adventure
AdventureSelesaikan dan pecahkan semua masalah ini, meskipin ini nyata, bisa saja ini jadi mimpi yang penuh dengan petualangan. ~ cho_cholate ~