Siang terasa sangat terik hari ini. Dua hari di tinggal Ayah dan Bunda kerumah nenek yang berada di luar kota mengharuskanku tinggal berdua dengan Bang Athmar, saudaraku satu-satunya.
Hayfa Zahira, nama yang dipilihkan orang tua untukku, memiliki Bapak dan Ibu yang sangat berpegang teguh pada prinsip Islam, membuatku dan Bang Athmar menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan sehari-hari kami. Terlebih diriku dan Bang Athmar mengikuti organisasi LDK waktu di bangku perkuliahan.
Sebulan sekali, Aku dan Bang Athmar terbiasa ditinggal Bapak dan Ibu keluar kota untuk menjenguk nenek, ibu dari bapak. Setelah kepergian kakek, nenek hanya tinggal berdua dengan Tante Riana, adik bapak yang paling kecil. Sebagai anak sulung, sudah berkali-kali bapak dan ibu membujuk nenek untuk tinggal di rumah kami, namun nenek tetap menolaknya karena alasan terlalu banyak kenangan beliau dengan kakek di rumah tempat kediamannya saat ini yang berada di kampung.
Bapak yang memiliki tiga bersaudara pun membagi jadwal kunjungan kepada saudaranya untuk menjenguk nenek. Bapak mempunyai jadwal pekan pertama, sedangkan Om Imran pekan kedua, dan Tante Lidia di pekan ketiga, selebihnya Tante Riana lah yang menjaga nenek sehari-hari.
Kebiasaan kami ketika ditinggal bapak dan ibu adalah memesan makanan via online. Aku meminjam ponsel Bang Athmar untuk memesan makanan siang ini, karena ponselku masih dalam keadaan mati karena lupa mengecasnya tadi pagi.
Setelah makanan yang kami pesan datang, aku memutuskan makan bersama Bang Athmar di taman belakang rumah, tepatnya di bawah pohon mangga dan pohon kersen dengan menggunakan tikar plastik.
Taman belakang rumah memang salah satu tempat favorit kami ketika siang hari. Selain karena angin sepoi-sepoi yang tercipta dari lambaian beberapa pohon kersen dan pohon pohon mangga yang usianya sudah mencapai sepuluh tahun, beberapa tanaman hias yang tumbuh dengan bunga yang sedang bermekaran membuat mata semakin dimanjakan untuk betah berada ditempat ini.
Dengan membawa dua buah piring dan sebotol minuman dingin, Bang Athmar telah mendahuluiku untuk duduk di atas tikar yang telah kugelar sebelum makanan kami datang.
"Bang, umurnya sekarang berapa tahun?" Tanyaku padanya ketika makanan sudah habis masuk ke dalam perut, tinggal tersisa air putih yang masih tinggal setengah gelas.
"Itung aja sendiri," jawabnya dengan cuek, sambil melanjutkan sisa makanan yang tersisa hanya tinggal dua suap.
"Gue serius nih, Bang. Bang Athmar sudah waktunya nikah, kan?" tanyaku kembali dan membutuhkan jawaban yang pasti darinya.
"uhuk...uhuk.." Bang Athmar yang sedang minum pun tersedak mendengar kalimat terakhirku.
"Pelan-pelan, Bang..." Aku memberikan tisu padanya, "Bunda sama Ayah sudah waktunya punya cucu dari Abang, memangnya Abang mau kalau Bunda dan Ayah menimang cucu di usia senja?"
Usiaku memang tidak terlalu terpaut jauh dengan Bang Athmar, hanya terpaut tiga tahun, tapi melihat usianya yang mendekati kepala tiga, ditambah lagi dengan melihat usia orang tuaku yang beberapa tahun lalu sudah menginjak setengah abad, rasanya meminta Bang Athmar untuk segera menikah adalah pilihan yang tepat menurutku.
"Nikah itu bukan perkara usia, Adek manis. Nikah butuh banyak persiapan. Butuh ilmu nikah, butuh modal, kesiapan mental, dan juga harus punya calon untuk dinikahi..." Bang Athmar meminum sisa air yang ada di gelasnya.
Aku mencerna kalimat Bang Athmar sambil sesekali melirik bunga kesukaanku, bunga krisan yang berjejeran ditanam di pelataran teras belakang rumah. Bunganya sedang bermekaran dengan berbagai macam warna.
"Nah, bukannya semuanya sudah disiapkan ya, Bang? Modal tinggal minta sama Ayah, ilmu nikah, pasti dong Bang Athmar sudah mengantongi banyak ilmu, buktinya banyak buku tentang nikah di kamar Abang, dan satu lagi apa tadi..." aku berusaha mengingat kalimat Bang Athmar barusan.
"Oh iya, mental. Hayfa sudah seratus persen pasti Abang sudah siap, Kan?" lanjutku dengan diikuti senyum termanis untuknya.
"Eh iya, calonnya tapi belum ada ya?" Selidikku dengan penuh penekanan.
"Atau Abang mau nikahnya sama Haura aja, biar aku sama Haura bisa ketemu tiap hari. Terus Abang terima beres, masalah proses ta'arufnya ntar Hayfa yang bantuin, gimana Bang?" sambungku dengan mata berbinar memikirkan Haura, sahabatku bisa jadi istri Bang Athmar, aku sedikit memonopoli percakapanku dengannya. Karena dari tadi Bang Athmar hanya diam mendengarkanku berbicara panjang lebar.
"Emang kamu mau, punya ipar seperti Haura?" Tanya Bang Athmar yang membuatku bingung dengan pertanyaannya.
"Maksud Abang?" Aku menjadi lebih serius mendengar pertanyaan Bang Athmar.
"Bukannya kamu sendiri yang cerita, Haura itu kekanak-kanakan, egois, bucin, susah move on..." Bang Athmar mendekte sifat-sifat Haura sesuai cerita yang selalu aku curhatan padanya.
"Tapi kalau nikah sama Abang pasti dia bisa berubah, buktinya aku kan bisa berubah kalau sudah ditegur sama Abang," jawabku dengan memamerkan senyuman lesung pipit untuknya.
"Terserah kamu dah, Dek. Intinya, Abang akan menikah setelah adiknya Abang yang manja ini menikah terlebih dahulu. Abang akan merasa tenang jika sudah ada yang menggantikan posisinya Abang untuk menjaga kamu," katanya mencubit ujung hidungku sambil berlalu membawa beberapa piring kotor untuk dibawa ke dapur.
"Abang... kan aku masih belum mau nikah," kataku sedikit berteriak karena Bang Athmar sudah berada di dapur. Aku kemudian mengekornya ke dapur dengan membawa beberapa plastik sisa makanan kami.
"Sudah sudah, mikir tentang nikah ditunda dulu, banyak cucian piring ini yang harus kamu selesaikan," katanya ikutan berteriak supaya suaranya bisa kudengar. Bang Athmar tidak tahu kalau aku sudah berada tepat satu meter dibelakangnya.
"Haura sudah putus dari pacarnya yang kemarin, Bang. Dia mau hijrah sekarang, mungkin kalau Abang bisa menikah sama dia, dia bisa menjadi wanita solehah seperti yang Abang impikan. Selebihnya, aku dan Haura bisa ketemu setiap hari disini," kataku setelah sejajar dengannya di wastafel dapur.
Memikirkannya saja aku sudah sangat girang, walaupun aku tau sifatnya Haura yang sangat kekanak-kanakan, aku berharap semoga dia bisa berubah jika benaran berjodoh dengan Bang Athmar.
"Sudah berapa kali Abang katakan, kamu nikah dulu baru Abang nikah," katanya yang masih setia membantuku meletakkan piring-piring yang sudah selesai kubilas.
Pertanyaan perihal nikah yang kutujukan pada Bang Athmar ternyata bumerang untukku. Bukan hanya karena belum siap nikah yang menjadi alasanku, tetapi lebih tepatnya aku masih memilih menunggu orang yang selama beberapa bulan terakhir yang sering mengganggu pikiranku.
"Abang punya sahabat, dia soleh Dek. Orangnya humoris, penghafal Qur'an, dan dia sedang mencari pendamping hidup. Mau ta'aruf ndak sama dia, nanti Bang Athmar yang akan jadi perantara kalian, gimana?" Tanyanya dengan menggerakkan alisnya naik turun sambil memamerkan gigi ginsulnya, membuat dirinya menjadi tambah tampan

KAMU SEDANG MEMBACA
House Of Hope
Ficção AdolescenteRumah adalah tempat tinggal ternyaman bagi semua orang, namun bagaimana seandainya di dalam rumah yang menjadi tempat tinggal kita berubah menjadi sebuah penjara karena kehadiran orang yang tidak pernah diharapkan kehadirannya.