EIGHTH PIECE

68 16 1
                                    

I don't even know what's wrong with me anymore.

I don't even know what's wrong with me anymore

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

...

Aku menyobek secarik kertas dari notebook yang kutemukan di atas meja belajarku. Kembali mengecek pesan yang dikirim oleh nomor tidak dikenal. Aku sempat membalas pesannya yang terakhir tapi tidak ada balasan lainnya. Dan ada satu hal yang akhirnya kusadari. Tanggal dikirimnya pesan-pesan itu.

Pesan pertama : 15-12-2021 : 30 November

Pesan kedua : Kursi kosong ke-25 : 4 Desember

Pesan ketiga : Your room : 8 Desember

Pesan keempat : Peacock : 12 Desember

Pesan ini memiliki pola. Kelipatan 4.

Aku mencatatnya di kertas yang kusobek. Jika ini memang ditujukan untukku, apa maksudnya?

15 Desember adalah hari ulang tahunku dan itu lusa. Kursi kosong ke 25? Kamarku? Dan burung merak? Aku pernah melihat satu lukisan burung merak yang terpajang di kantor ayah. Tapi apa itu yang dimaksud? Apa semua yang disebutkan dalam pesan ada di dalam rumah ini? Kalau begitu orang yang mengirim pesan pastinya orang dalam rumah, karena ayah tidak pernah mengundang tamu ke rumah ini.

Aku mengalihkan pandanganku menuju pojok ruangan kamar -tempat menaruh lukisan untuk lomba yang aku ikuti. Kusandarkan kepalaku pada sandaran kursi meja belajar.

"Apa perlu gua tunggu sampe lusa?" gumamku. "Klo ada apa-apa pas hari ultah, baru gua beneran nyari maksud chat-an nya,"

Aku masih belum bisa mempercayai 100% mimpiku saat aku sedang dalam koma. Terdengar tidak masuk akal dan aku masih menganggapnya mimpi tanpa arti. Ingatanku tentang mimpi itu memang masih melekat dengan jelas di kepalaku, tapi entahlah aku merasa aneh.

+ x + x +


"Kepala lo beneran gapapa?" tanyanya menunjuk dahiku agak takut. "Bukannya mending bolos aja? Nanti gua bilang ayah deh, biar gua yang dimarahin!"

Abangku yang sekarang tengah berdiri di hadapanku ini terlihat sangat takut kalau aku akan terluka jika pergi ke tempat les lagi. Aku mengerti, dia pasti merasa bersalah karena di saat kecelakaan terjadi seharusnya dia yang menjemputku dengan mobil, mungkin itu bisa mencegah kepalaku agar tidak terluka seperti sekarang.

Tapi mana mungkin aku membiarkan Bang Xiaojun dimarahi ayah jika aku tidak masuk les. Terlebih lagi aku baru saja melihat kemarahan ayah yang langsung diungkapkannya kepada Bang Haechan. Mimpi buruk jika itu terjadi juga pada Bang Xiaojun.

"Gapapa, udah lo anterin sama jemput aja!" aku menepis tangannya dari hadapanku lalu masuk ke dalam mobil.

Bang Xiaojun mengantarku ke tempat les sambil terus menanyakan hal yang sama, "beneran mau masuk aja? gua puter balik nih kalo gajadi,"

PUZZLE PIECE | NCT 2020Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang