8. Gemas

578 100 15
                                        

Rafael kini tengah membasuh wajahnya di kamar mandi setelah bermain badminton dengan teman sekelasnya. Dia menatap pantulan wajah tampannya pada cermin besar yang berada tepat di depannya.

Sejak kemarin dirinya selalu diliputi perasaan senang saat bersama Gibran.

"Loh Raf? Ngapain lo ngelamun disitu?" Tanya Gibran yang meletakkan Mowie kembali ke karpet dan membiarkannya bermain dengan mainan bulunya.

Rafael yang mendengar panggilan dari Gibran lantas tersentak dan menggelengkan kepalanya. Apa yang ia baru saja pikirkan?!

"Eng-enggak! Gapapa kok." Jawab Rafael sambil menyodorkan mangkok yang baru saja ia bawa dari dapur ke Gibran.

"Makan aja disini, sekalian ngajak main Mowie sampe tidur." Kata Rafael yang membuat Gibran mengangguk.

Mereka akhirnya memindahkan makanan yang mereka beli ke mangkok masing-masing. Makan dengan nikmat di malam hari diikuti dengan 'anak' mereka yang juga memakan makanannya.

"Eh?" Pekik Rafael saat menemukan Mowie yang melompat di sela-sela kakinya. Rafael tersenyum lalu mengusak bulu putih kucingnya.

"Mowie, jangan ganggu bunda yang lagi makan ya." Gibran mengambil alih kucing itu dan menggendongnya. Terlihat Gibran mengusap-usap punggung si kucing, membuatnya menggeliat nyaman.

Rafael? Diam..

Merasakan detak jantungnya yang bekerja lebih cepat karena panggilan dejavu itu.

bunda..

BUNDA?!

Udah, gue mabor aja udah -rafael.

Rafael melihat Gibran yang bermain dengan Mowie. Menggemaskan menurutnya.

Rafael mengalihkan pandangannya ke arah mangkuk Gibran, soto nya belum habis.

"Eh Mowie, jangan ganggu ayah yang lagi makan ya? Sini sama bunda.." Kata Rafael yang membuat Gibran terdiam dan menatap wajah Rafael yang kini berusaha mengambil alih kucing itu.

Rafael yang berhasil merebut Mowie, kemudian membiarkannya lepas dan bermain dengan laba-laba mainannya.

"Lo bilang apa tadi? Ayah? Bunda? Lo-" Gibran tiba-tiba tidak bisa bicara. Suaranya seperti tersendat di tenggorokan dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.

Apenih anjing. -Gibran.

Rafael hanya menatap Gibran. Dia menatap pemuda di depannya datar walaupun sebenarnya jantungnya serasa ingin melompat keluar dan mencoba tidak tersenyum.

Kuat gue mak, kuat gue sama yang beginian, TAPI GAK GINI JUGA KONDISINYA ADUH MAAAA! -Rafael.

"Keselek soto lo gak bisa ngomong?" Kata Rafael yang membuat Gibran menggelengkan kepalanya ribut dan menatap ke arah lain.

Rafael terkekeh.

Ide jahil muncul di kepalanya.

"Gimana sih, ayah gajelas banget."


PLAK!

"Brengsek!" Umpat Rafael ketika sang rival- Gibran menepuk bahunya keras. Ralat, memukul.

"Ngape lo senyum kaya orang stress di depan cermin?" Tanyanya pada yang lebih pendek. Rafael mencoba mengulum bibirnya untuk menahan senyum yang entah dia sanggup menahannya atau tidak.

"Oh gue tau, lo suka sama orang selain Rasha ya? Bagus, gue bisa deketin dia tanpa halangan." Ucap Gibran sambil terkekeh membuat Rafael menatapnya sengit.

"Gak ya, gue udah palling in lop sama dek Rasha. Ngaco lo." Gibran kembali terkekeh.

Mata dengan sorot tajam, bibir melengkung ke bawah, tangan yang bersedekap di dada, pipi yang menggembung lucu. Bisakah Gibran mengatakan pemuda di depannya ini sangat menggemaskan?

"Rasha gak bakal mau kali sama lo, lo nya aja tiny winy bity gini." Gibran menyenderkan punggungnya ke tembok membuat si kecil menatapnya lebih tajam.

"Berisik." Kata Rafael lalu berjalan keluar dari kamar mandi.

Tapi dirinya kalah cepat karena Gibran menahan tangannya membuat pemuda Huangsa terhuyung sedikit ke belakang.

Kini Rafael sudah di depan Gibran. Wajah mereka bahkan sudah sangat dekat.

Rafael terkesiap. Jantungnya...

"Bunda gemes banget, ayah belajar dulu ya dadah!" Gibran meninggalkan Rafael yang mematung di tempatnya.

Rival [Guanren]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang