Gibran dan Rafael kini sudah berdiri di rak dimana ada banyak makanan kucing berbagai macam merek dipajang disana. Rafael menilik satu persatu merek dari komposisi, tanggal kadaluarsa, kandungan gizi, hingga gambar kucing yang ada di bagian depan kemasan.
Gibran menatap Rafael jengah karena daritadi atlet badminton itu hanya melihat-lihat tanpa mau memastikan mana yang akan dia beli.
"Yang mana ya gib, ini bagus tapi mahal banget anjing." Katanya yang membuat Gibran memutar bola matanya.
"Asal aja, udah cepetan." Rafael yang mendapat respon seperti itu lantas mendengus kesal. Gibran memang suka tidak nyambung!
"Ini aja deh, eh beli berapa ya?" Gibran menaikkan alisnya lalu mengambil merek yang Rafael pastikan. Secara tergesa-gesa, Gibran langsung mengambil tiga bungkus makanan kucing yang mempunyai berat 1 kilogram itu.
Rafael mendelik lalu menatap Gibran.
"Gausah ngawur lo, ini buat usia setengah tahun anjing gib. Gue kan belum bilang iya!" Sahut Rafael.
Gibran mendengus.
Lagi.
Rafael lalu berjalan menuju ke rak makanan cair. Bagaimana menjelaskannya ya, rak itu berisi ikan mentah yang digiling halus dan dikemas.
Senyum Rafael mengembang saat dirinya menangkap bungkus makanan dimana tercetak disana '0-6 bulan'.
Perkiraan Rafael, Mowie masih berusia 2 bulan, terlihat badannya yang masih kecil dan sangat menggemaskan seperti bulatan berbulu putih.
Rafael mengambil sekitar 5 bungkus ikan giling itu ke dalam keranjang kecil merah yang dibawa Gibran tadi.
"Yang ini aja...gib?" Rafael menoleh ke belakang tapi tak menemukan sosok sang rival disana.
Matanya beredar lalu menemukan Gibran tengah berdiri di sebuah rak kecil mainan kucing dan susu untuk anak kucing.
Terlihat tangan pemuda itu mengambil beberapa bungkus susu bubuk dan wadah makan untuk Mowie. Setelah itu Gibran mengamati beberapa mainan memiliki bulu diujung nya.
Rafael menghampiri sang kapten basket lalu ikut bergabung. Gibran terkejut karena Rafael tiba-tiba datang dan menaruh makanan ikan itu ke dalam keranjang di tangannya.
Rafael mengambil tongkat berbulu itu lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Gibran hanya diam melihat yang dilakukan oleh rivalnya itu.
"Udah, yuk balik." Kata Rafael yang kemudian berdiri disusul dengan Gibran.
"Ga beli sabun?" Rafael menaikkan alisnya bingung.
"Buat apa?"
"Buat mandi Yanti- Mowie lah." Kata Gibran yang membuat Rafael mendengus.
"Emang perlu mandi ya?" Tanya Rafael polos yang membuat Gibran menghembuskan nafasnya lelah.
"Ya perlu bego, kalau ga usah berati bawa ke pet shop aja biar dimandiin disana." Kata Gibran yang membuat Rafael semakin bingung.
Pet shop ada jasa pemandian hewan ya?
Ia baru tau.
"Loh, ada ya?"
"Au deh." Balas Gibran yang sudah kesal dengan kepolosan Rafael. Tampang saja galak dan berotak cerdas, tapi ternyata masih sepolos kain kafan.
"Y-yaudah bawa ke pet shop nya aja, kalo dimandiin sendiri malah takut kenapa-napa." Gibran akhirnya mengangguk dan menaruh keranjang berisi makanannya ke meja kasir.
•••
Rafael beserta sang rival kini sudah berada di depan kediaman pemuda Huangsa. Ah, sebenarnya bukan kediaman, lebih tepatnya ini rumah sederhana milik Rafael sendiri yang ia beli dengan keringat dan kerja kerasnya.
Keluarga Rafael berada di luar kota karena merawat dan tidak bisa meninggalkan nenek Rafael yang sudah sepuh. Rafael iya-iya saja dan masih ada pamannya yang tinggal di dekat sini.
Yang Gibran lihat hanya ada satu sepeda dan satu motor yang ia yakini itu adalah milik Rafael.
Gibran yakin Rafael hidup sendiri di rumah pribadi yang dibelinya menggunakan uang hasil pertandingan badminton selama ini.
"Masuk dulu, gue tau lo capek." Kata Rafael yang membuat lamunan Gibran buyar.
Gibran mengangguk lalu memasukkan motornya ke dalam rumah Rafael setelah si pendek itu membuka pagarnya.
"Lo tinggal sendirian?" Rafael mengangguk dan melepaskan sepatunya. Gibran lalu melakukan hal sama.
"Oh, pantes yang ambil raport lo kalau ga lo sendiri ya om-tante lo." Rafael tersenyum singkat lalu memasuki kediamannya.
"Ya iya, orang tua gue di Jogja, jadi gue disini sendirian." Kata si Huangsa lalu menghidupkan lampu rumahnya.
Baru saja menekan saklar lampu, ia dikejutkan dengan Mowie yang tertidur di sofa abu-abu miliknya. Pasti anak kucing ini tertidur karena menunggu dirinya.
Rafael menghampiri Mowie lalu mengusap punggungnya, membuat si anak kucing itu menyamankan posisinya.
Gibran yang melihat itu lantas duduk di sisi sebelah kiri Mowie. Gibran hanya menatap interaksi mereka saja.
Rafael membuka kresek merah berisi barang yang mereka beli lalu meletakkan tempat makan Mowie di bawah nya. Kemudian Rafael membuka satu bungkus makanan kucing dan menuangkannya sedikit ke tempat itu.
Pemuda Huangsa lantas mengambil sedikit air dan menuangkan bubuk susu ke dalam air itu. Rafael kemudian menuangkan susu tersebut kedalam tempat makan di sebelahnya.
Gibran yang melihat itu lantas menggendong Mowie dan membuat si kucing terusik hingga akhirnya bangun. Gibran tersenyum melihat pemandangan menggemaskan ini.
"Mowie, makan yuk." Kata Rafael kemudian mengambil alih bulatan bulu itu dan membiarkan makan di bawahnya.
"Kaya ngurus anak ya." Pekik Gibran yang membuat Rafael tersenyum.
"Iya, btw dia lucu banget-
-kaya gue." Kata Rafael pede sambil terkikik geli.
"Lebih lucu Mowie aja gak sih? Lo mah kemanisan sampe eneg." Rafael tersenyum.
"Makasih." Gibran mendengus.
"Gue bakal jadi bapak yang baik deh buat Mowie."
"Enak aja, gue yang nemu!"
"Gue yang bawa dia kesini."
"Gak! Gue pokonya!"
"Gue aja deh gib."
"Ck, yaudah lo mak nya gue bapak nya gimana?" Rafael nampak berpikir sejenak.
"Oke!" Balas Rafael.
Yang tanpa mereka ketahui, Mowie adalah awal kisah mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival [Guanren]
Fiksi PenggemarYang Gibran tau, Rafael hanyalah rivalnya untuk mendapatkan seorang gadis. Tapi siapa yang menyangka hal lain malah terjadi antara mereka? BXB, GAY, LGBT, NOT GS
![Rival [Guanren]](https://img.wattpad.com/cover/300523859-64-k19216.jpg)