Rasha kini tengah berjalan santai menuju ke depan gerbang. Tentang amarahnya saat di kantin tadi, dia sudah memaafkan Rafael dan Gibran yang sempat membuatnya emosi dan kesal. Tapi tak apa, Rasha bagaimanapun tetap memaafkan kedua pemuda yang menyukainya itu.
Rasha sudah lama tau kalau mereka mengejarnya. Dan Rasha baru mengetahui mereka dulu hanyalah teman sebelum masa SMA dan Rasha ikut hadir dalam kisah mereka.
Mereka resmi menjadi rival untuk mendapatkan Rasha bagaimanapun caranya. Rafael dan Gibran adalah teman semenjak kelas 2 SMP.
Yang Rasha ketahui, Rafael adalah murid pindahan dari sekolahnya yang lama ke sekolah elit. SMP mereka bahkan sudah menggunakan peralatan digital.
Ya, semacam pertukaran siswa karena Rafael pemuda yang sangat pintar dan pandai berolahraga terlebih badminton atau bulu tangkis. Gibran bahkan terkejut saat Rafael ternyata seorang atlet dan telah memenangkan banyak penghargaan atas prestasinya yang kini disimpan dalam lemari kejuaraan sekolah.
Tak ayal banyak yang mengenal pemuda bernama Huangsa Rafael itu, baik dari dalam maupun luar sekolah. Atau mungkin setiap pemerintah daerah mengetahuinya? Entahlah.
Kemampuan Rafael mulai muncul saat kelas 3 SMP yang mana pada saat itu ia ditunjuk untuk mewakili sekolah. Tentu dia memenangkan semua pertandingan dalam kategori tunggal putra.
Rasha sempat kagum dengan Rafael. Dulu saat pertama masuk ke sekolah, Rasha mengira Rafael adalah anak yang cupu dan tertutup. Tapi siapa sangka Rafael justru adalah berlian bagi sekolah mereka.
Darimana Rasha mengetahui semua ini? Tentu dari bibir Rafael sendiri saat mengajaknya ke lapangan menyaksikan pemuda Huangsa bertanding.
"Eh, Rasha?" Sapa seseorang dengan ragu yang berada di samping kanan Rasha, membuat sang gadis menoleh lalu tersenyum.
Ah, orang yang ia pikirkan kini muncul di depannya dengan senyum lebar dan mengangkat tangannya.
"Halo Raf." Balas Rasha riang dengan melambaikan kedua tangannya pada Rafael.
Ah, jangan lupakan senyum si gadis yang membuat Rafael mabuk.
"Sendirian aja, belum dijemput ya?" Tanya Rafael yang membuat Rasha menggelengkan kepalanya.
"Belum hehe, kamu ngapain disini?" Tanya balik si gadis pada Rafael yang membuat seulas senyum terbit di bawah manisnya.
"Nunggu bus, hehe." Jawabnya lalu membuat Rasha mengangguk-anggukkan kepalanya paham.
Rafael, seorang atlet badminton masih sama dengan kesederhanaannya.
"Tapi bukannya kamu udah bisa beli motor ya? Kan uang hasil pertandingan kamu bisa dipake daripada nunggu bus kaya gini?" Rafael terkekeh lalu mengusak surai hitam Rasha.
"Gak, uang itu aku tabung buat masa depanku sama kamu." Rasha menunduk mendengarnya.
"Cieee, maluuuu." Goda Rafael yang membuat Rasha menutup bagian mulut dan pipinya yang memerah.
Tin!
Rasha menoleh ke depan dan menemukan sang ayah dengan mobil BMW hitamnya. Rafael yang melihat sang gadis menoleh, lalu mengikuti arah pandang Rasha.
"Em, aku pulang dulu ya Raf. Good bye!"
"Iya, Good bye dan hati-hati!" Rasha mengangguk dan berjalan menuju mobilnya meninggalkan pemuda Huangsa yang diam di halte depan sekolahnya.
"Boong amat pake segala nabung nabung." Ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan duduk di sebelah Rafael.
Rafael yang melihat pemuda ini lantas menatap tajam dan memilih untuk memandangi jalanan ramai dengan bermacam-macam kendaraan yang lewat dari arah berlawanan.
Siapa lagi yang berani mengucapkan hal itu selain Gibran?
"Ngapain sih lo?!" Kata Rafael yang menatap geram pemuda di sebelahnya.
Gibran hanya melirik.
"Motor gue rusak."
Rafael terdiam, tapi tak lama-
"Pfftt-HAHAHAHA!" Gibran menolehkan kepalanya menghadap pemuda mungil.
"Gausah ketawa, gue gamau dikata pengasuh orang stress kaya lo." Ucap Gibran yang membuat Rafael tidak berhenti, dia tetap menertawai Gibran.
"Asli, lo itu orang berada ya. Jangan bikin gue ngakak cuma karna lo pulang naik bus gegara motor kebanggaan lo rusak. Motor lo ga satu doang kan?" Kata Rafael yang kini masih menahan tawanya.
Ya gimana ya...emang rada stress si Fael.
"Iya banyak, tapi itu hasil duit gue sendiri karena dapet duit dari tanding sama kerja di kantor papa." Balas Gibran yang membuat Rafael kini sepenuhnya diam.
"Aelah, suruh sopir lo jemput aja kek. Gengsian amat lo." Cibir Huangsa yang membuat Laksamana menoleh.
"Suka-suka gue." Balas Gibran yang membuat Rafael menahan tawanya lagi.
"Kapten kok naik bus."
"Atlet nasional kok diem di halte."
"Kapten kok gengsi."
"Atlet kok pendek."
Rafael mendelik dan memukul lengan Gibran. Gibran hanya mengaduh pelan dan membalas tatapan nyalang dari Rafael.
"Gue ratain muka lo bilang gue pendek."
"Pendek, mungil, galak dih."
Selanjutnya Gibran terjatuh mengenaskan karena tendangan Rafael.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rival [Guanren]
Fiksi PenggemarYang Gibran tau, Rafael hanyalah rivalnya untuk mendapatkan seorang gadis. Tapi siapa yang menyangka hal lain malah terjadi antara mereka? BXB, GAY, LGBT, NOT GS
![Rival [Guanren]](https://img.wattpad.com/cover/300523859-64-k19216.jpg)