53. talking to him

878 128 63
                                        

──────────── ✦ ────────────

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

──────────── ────────────

Author

"Sirius, sudah tenang?" Remus bertanya, Sirius langsung menggelengkan kepalanya. "Tentu saja belum, Remus. Apakah kau gila?" balasnya, Remus pun kembali menepuk punggung sahabatnya itu, menenangkannya.

"Marlene.." Lily menundukkan kepalanya, masih bersedih karena hal yang tidak terduga terjadi, kematian sahabatnya malam kemarin.

Auriga menekuk wajahnya, tidak berani untuk membuka suara sedari tadi, jarang sekali dia melihat sosok Sirius yang seperti ini.

"Sirius, sudah, sudah," Remus berkata, menatap ke arah mata Sirius yang saat ini sudah berwarna merah, berair, dan bengkak.

"Marlene.." kata Sirius dengan suara yang kecil dan masih sedikit terisak. "Yeah, aku tahu, aku tahu." Remus membalas lagi, setengah berbisik.

Auriga menatap ke arah kakak laki-lakinya lirih. Sungguh, dia menjadi sangat sedih melihat semua ini. Seharusnya kemarin adalah hari terbaik Sirius, menikah dengan Marlene, dan akhirnya memiliki keluarga yang dia inginkan.

Auriga memejamkan matanya, menghela nafas berat. "Setelah Marlene mau siapa lagi?" Hestia bertanya, masih menangis. "Entahlah. Voldemort sepertinya memang menarget tim kita ini." sahut Dorcas memutar bola matanya.

"Kurasa kalian memang harus tetap tinggal di rumah kalian masing-masing. Voldemort dan pengikutnya tidak akan tahu.." kata Auriga, membuat semua orang yang ada di ruangan ini mendongak, menatapnya dengan eskpresi yang sulit dijelaskan.

"Siapa juga yang ingin mendengarkan nasihat dari seseorang yang bukan termasuk anggota Orde?" Emmeline membuka suara, Auriga pun menoleh, menatap ke arahnya.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kau ijinkan aku masuk ke Orde saja?" Auriga berkata, terdengar sedikit menantang.

Emmeline yang mendengar itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan segera memalingkan wajahnya, tidak berani menatap ke arah wajah perempuan bermarga Black itu.

"Ijinkan Aurie masuk ke Orde, Mad-Eye. Kau tentu tidak masih mencurigai dia, kan?" Remus bertanya, Moody hanya diam, tidak merespon pertanyaan lelaki Lupin itu.

"It's fine, Remus. Aku juga tidak perlu masuk ke dalam Orde. Aku lebih baik bekerja sendiri daripada bekerja sama dengan orang yang.. yeah," ujar Auriga, kini berbisik di kalimat terakhirnya, Remus menyenggol lengannya pelan.

"Kau akan mati kalau tidak memilih sisi di saat-saat seperti ini." Remus menjelaskan.

Auriga mendengus. "Rubbish. Aku bisa mengurus Riddle. Dia dan aku sudah bertemu dua kali, dan aku yakin kalau kita bertemu lagi aku akan memojokkannya dan menghabisinya." katanya panjang lebar.

MISCHIEVOUS, james potter ✔️Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang