꒰ completed - james potter x oc ꒱
꒰ written in bahasa indonesia ꒱
mis·chie·vous/ˈmisCHivəs/
causing or showing a fondness
for causing trouble in a playful way.
ia mengenali lelaki itu. lelaki yang
menurutnya sangat nakal dan tidak
suka m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
────────────✦────────────
Author
Auriga kini sudah menjadi sehat dan sedang mengerjakan tugas essay yang diberikan oleh Professor Slughorn di Aula Besar bersama Sirius, James, Remus, dan Peter.
Seperti biasa, Peter yang malas pun langsung ditinggal tidur. Sirius masih sibuk untuk menjahili Remus yang mencoba untuk berkonsentrasi. Dan yang terakhir, James, dia tidak seperti biasanya.
James lebih fokus dan merasa tidak ingin diganggu oleh sahabat-sahabatnya saat ini. "Prongs, kau tidak seru deh!" Sirius mengomel, mendorong bahu sahabatnya pelan tapi James tidak merespon, dia mengabaikan Sirius.
Sirius mengerutkan kening, menatap ke arah James tidak percaya. "Kau mengabaikanku, Prongs." ucapnya dengan nada yang dramatis. "Sirius, kau ini sangatlah dramatis. Kenapa, sih?" balas Remus, menyikut lengan Sirius pelan.
"Abaikan saja, Moons. Sirius memang begitu, sejak kecil dia sudah gila dan dramatis." sahut Auriga memutar bola matanya malas. "Hei! Tidak sopan!" Sirius tambah membuka mulutnya lebar. "Shut up," Peter membuka suara lumayan kencang, kemudian tertidur pulas lagi.
"Wormtail, tidur melulu." Sirius menyipitkan matanya. "Aku mengantuk. Tugas essay ini membuatku ingin tidur saja." jawab Peter sambil menguap lebar.
"Kenapa aku berteman dengan kalian.." Remus memijat pelipisnya, terlihat sangat pasrah dengan kelakuan sahabat-sahabatnya ini. "Sabar, Rem." balas Auriga, mengelus lengan Remus pelan.
"Sebentar lagi kita lulus dari Hogwarts, tidak terasa." kata Sirius menghela nafas panjang. "Yeah, dan reputasimu di sekolah ini sepertinya tidak bagus, Pads." sahut Remus yang membuat Sirius menaikkan kedua bahunya cuek.
"Tapi semua perempuan sepertinya mengagumiku, Moons, lihatlah itu." Sirius menganggukkan kepalanya ke arah para siswi Gryffindor yang saat ini pada menatap Sirius sambil cekikikan. Remus hanya mengernyit tidak suka.
"Sirius!" Marlene memanggil, membuat lelaki bersurai hitam panjang sebahu itu menoleh. "Ya, Marlene?" dia memanggil balik, bertanya.
"Bolehkah aku berbicara denganmu? Privately?" Marlene lanjut bertanya, Sirius pun mengerutkan kening tetapi kemudian dia menganggukkan kepalanya. "Yeah, tentu." jawabnya, berjalan mengikuti Marlene keluar dari Aula Besar.
"Mereka mau apa?" Auriga bertanya sambil mengerutkan kening. "Entahlah. Mungkin Marlene mau menyampaikan perasaannya?" jawab Remus dengan nada cuek, Auriga pun menaikkan kedua alisnya kaget.