"Bagaimana bisa dia hanya memikirkan dirinya? Bagaimana dengan packnya? Bagaimana jika anak-anakku terlahir sebagai manusia sepertiku?" Tanyanya bertubi-tubi
"Aku akan me-rejectnya demi kebaikannya." Lanjutnya.
Arumi, seorang werewolf yang terlahir...
•H a p p y R e a d i n g• Jangan lupa bantu vote&comment^^ • • •
Dua tahun sudah berlalu..
Sekarang usiaku menginjak dua puluh tahun, namun tetap saja aku tidak merasakan kehadiran wolf ku.
Gavin Cullen yang ternyata seorang pangeran vampir dari kerajaan Red Castle memilih untuk melarikan diri karna dia ingin hidup bebas tanpa ada peraturan kerajaan yang mengikatnya. Bukan hanya karna itu, hubungan dia dan ayahnya yang tidak pernah akur membuat dia bertekat bulat untuk melepaskan segala ikatannya pada kerajaan.
Gavin, dia menganggapku sebagai adiknya dan begitupun aku sebaliknya. Dengan sabar Gavin berusaha meyakinkan aku bahwa dia akan menjagaku dan tidak akan pernah menyakitiku, lambat laun aku mulai bisa mempercayainya sepenuh hatiku dan berkat kesabarannya menghadapiku, aku terbebas dari depresi. Sejak aku tinggal selama lima bulan dirumah ini, Gavin sudah mengatur segala identitasku dan mendaftarkan aku di Tomsk State University. Yaps! Aku kini tinggal di dunia manusia, Gavin memberitahu semua tentang manusia padaku agar saat aku sudah mulai beraktivitas aku tidak terlihat aneh dimata mereka. Gavin seperti Dariel, saat hari pertama aku masuk kelas Gavin mengatakan padaku, "Jika ada yang membully mu karna kau tidak berbicara, katakana padaku. Aku akan membuat orang itu menyesal."
Gavin mengatakan itu karna saat aku mulai mempunyai aktivitas diluar rumah aku masih tidak ingin mengeluarkan satu katapun. Gavin mengangga bahwa aku bisu, tentu saja tidak. Dan aku masih belum ingin memberitahukan semuanya pada dia, selama dua tahun aku tinggal bersamanya, dan baru lima bulan ini aku mulai terbebas dari traumaku. Aku menceritakan semua yang aku alami padanya. Berkatnya sekarang suaraku sudah benar-benar kembali.
"Arumikau akan telat!!" Teriak Gavin dari dapur.
"Kakak berisik sekali" Arumi turun dengan wajah yang baru saja terbangun dari tidur.
"Astaga kau belum siap-siap?"
"Aku mau makan dulu kak"
"Ya sudah cepat makan, nanti aku juga kesiangan!"
"Kakak duluan saja, aku akan naik bus"
"Kau yakin?"
"Iya kak"
Gavin mengambil tas kerjanya dan mencium pucuk kepala Arumi lalu pergi dengan mobilnya. Arumi menoleh kearah jam dinding yang terpajang di atas frame pintu dapur. Shit!, umpatnya menyadari bahwa dia benar-benar terlambat ke kampus.
Arumi bergegas menghabiskan makanan yang Gavin buat, lalu ia beranjak dari meja makan dan kembali ke kamarnya untuk mandi serta bersiap-siap. Ia keluar pintu rumahnya dan tak lupa mengunci rumah. Ia langsung berlari menuju halte bus didepan komplek perumahannya dan melihat jadwal bus yang selanjutnya. ah sial,batinnya. Bus selanjutnya akan tiba dua puluh menit lagi, sementara Arumi sudah terlambat lima belas menit. Sampai tiba-tiba saja seseorang dengan mengendarai sepeda motor berhenti dihadapanya,
"Michael?" ucapnya saat Michael membuka kaca helm yang ia kenakan.
"Cepat naik, aku juga kesiangan." sahut Michael.
Tanpa berfikir dua kali Arumi langsung menaiki sepeda motor itu, Michael memberikan aba-aba padanya bahwa ia akan mengendarai dengan kecepatan penuh agar tidak memakan waktu terlalu lama. Arumi mengangguk paham lalu memeluk erat tubuh Michael dari belakang. Tidak ada sesuatu untuk Arumi berpegangan selain memeluk Michael, karna sepeda motor pria itu adalah motor sport. Benarsaja, Arumi telat masuk kelas dua puluh lima menit. Ia tidak diperbolehkan mengikuti kelas, begitupun dengan Grace dan Michael, mereka bertiga sama-sama terlambat.
"Ke taman aja yuk?" ajak Grace dan dibalas anggukan oleh Arumi.
Arumi Greisy Parker, siapa yang tidak mengenalnya? Dikalangan Universitas ia menjadi primadona dan incaran para lelaki karena paras cantiknya. Walaupun awalnya Arumi dianggap gadis bisu oleh seluruh mahasiswa-siswi kampusnya, dosen yang mengenalkannya juga memberikan alas an kenapa Arumi tidak bias berbicara untuk saat ini, semua orang memaklumi akan hal itu. Mereka paham bahwa trauma memang tidak mudah untuk disembuhkan. Arumi yang merasa bahwa dunia manusia lebih baik dari dunia immortal mendapatkan kenyamanan dan banyak kasih sayang dari teman-temannya. Bahkan saat Arumi mulai berbicara kembali, teman-temannya sangat antusias dengannya. Salah satunya adalah Grace, sejak awal masuk universitas hanya Grace orang yang langsung menjalin hubungan erat dengan nya sebagai sahabat.
"Satu tahun lagi kita lulus mi." ucap Grace sambil menyendok ice cream McFlurry nya.
"Iya. apa yang akan kau lakukan setelah lulus?" tanya Arumi.
"Entahlah...ayahku menyuruh untuk lanjut ke S2"
"Yaps, kak Gavin juga mengatakan hal itu." Ucap Arumi sambil memandangi pohon-pohon yang bergerak tertiup angin.
"Arumi!" panggil seseorang dari arah belakang.
Grace dan Arumi sontak menoleh keasal suara tersebut, "Oh, hy Mich" sapa Arumi dengan ramah.
"Emm...ini coklat untukmu." ucap Michael dengan malu-malu.
"Buat ku mana?" sahut Grace.
"Kau beli saja sendiri. Arumi pulang bersam.."
"Tidak!" potong Grace.
"Enak aja kamu! Aku ada janji dengan Arumi, kau kasih dia coklat ada maksud terselubung rupanya?" ketus Grace sambil mendorong tubuh Michael agar menjauh dari mereka.
"Kita memangnya ada janji apa?" tanya Arumi pada Grace.
"Tidak ada, tapi kita bisa jalan-jalan ke mall bagaimana?" jawab Grace.
"Boleh..." dibalas anggukan serta senyuman manis oleh Arumi.
"Astaga Arumi, aku yang perempuan saja terpesona dengan senyummu itu, pantas saja banyak yang menyukaimu."
"Kau berlebihan.." gumamnya sambil melihat kuku-kukunya.
Grace mengambil ponselnya dan membuka aplikasi kamera, "Arumi senyum kesini!!" panggil Grace sambil mengarahkan kamera ponselnya kearah Arumi. Arumi menoleh dan melihat kearah Grace dengan senyuman yang masih terukir diwajahnya.
Ckrek
"Kau memotret ku?! Ah hapus itu pasti jelek!!" pinta Arumi sambil berusaha merebut pnsel milik Grace.
"Jelek apanya? Aku bahkan jadi menyesal sudah memotretmu. Nih lihat!" sahut Grace sambil memperlihatkan hasil fotonya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.