Hai semua, apa kabar? Cukup lama ya saya menghilang. Pada nunggu ga? Maaf ya menghilang beberapa bulan ini, masalah nya banyak banget. Dan sekarang mau lanjutin lagi haha, semoga masih rame ya
Happy reading
"Ayok kak, kita pergi," Joa sudah menarik-narik tangan Kairos. Kairos hanya mengikuti kemanapun Joa pergi.
Joa melirik Kairos yang seperti nya sedang memperhatikan seseorang, Joa pun mengikuti arah mata Kairos.
Dan Joa mendapatkan kakak nya sedang menatap seorang perempuan yang sedang bersama lelaki. Terlihat perempuan itu sangat senang bersama lelaki disebelahnya.
Di satu sisi lain juga, tepat di belakang Kairos dan Joa ada seseorang perempuan yang menatap Kairos dengan senyum, tetapi senyum nya luntur melihat Kairos menatap orang lain yang notabenenya orang itu bukan lah orang yang dia suka.
"Ck, dia lagi, dia lagi. Kairos gak cape mau sama dia, padahal si Kairos udah tau kalo dia udah punya pacar. Masih ngarep lagi, ish," geram kesal perempuan itu. Perempuan itu memilih untuk pergi daripada melihat adegan yang tidak dia sukai.
"Kak, kakak liat apa?" tanya Joa pura-pura bertanya.
Kairos pun menghentikan tatapan nya dari beralih menatap adik nya itu, "Bukan apa-apa kok dek," sayang nya jawaban yang Kairos berikan tidak terpengaruh bagi Joa.
"Kak-kak aku udah liat. Itu kan Fanny?" tepat. Tebakan Joa sangat tepat, Kairos pun yang mendengarkan nya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Kairos kebingungan sendiri, cara apalagi buat dia mengelak. Adik nya sangat pintar.
"Iya dia, Fanny," Kairos pasrah. Lebih baik dia jujur.
Kairos kembali dalam lamunan nya, entah apa yang dia pikirkan. Tiba-tiba saja ada yang mengganggu nya.
Dan....
Brak
Tepat. Tepat sasaran. Lemparan bantal yang diberikan Glory kepada Kairos tepat.
Ya, sebenarnya sedari tadi Kairos hanya bermimpi mungkin? Hanya dia dan Tuhan yang tau.
"Kamu tuh dari tadi tidur aja, udah gitu susah dibangunin. Tumben banget kamu." kesal mamanya, sudah sekitar setengah jam Glory membangunkan Kairos.
Tapi hasilnya nihil, Kairos tetap tidak ingin bangun.
"Maaf..." hanya kata maaf yang bisa Kairos lontarkan, dia merasa tadi itu bukan sebuah khayalan, yang dia pikir itu benar-benar terjadi.
"Ck, udah-udah, cepat kamu mandi, habis itu turun ke bawah, mama tunggu," Kairos yang mendengarkan nya hanya mengangguk.
"Ingat, jangan tidur lagi!" Peringat Glory, Kairos berdecak kesal. Daripada mama nya akan mengomel, akan baik nya dia nurut saja.
Kairos masih memikirkan mimpi nya tadi, mengapa seperti nyata? Pertanyaan itu terus ada di kepala nya.
"Kenapa kamu melamun?" Tanya Kenzo, menyadarkan Kairos.
"Gak papa kok pah," jawab Kairos cengengesan.
—–—
"Pah, mah Kairos berangkat sekolah ya," pamit Kairos. Yap sebenarnya umur Kairos baru menginjak 16 tahun.
"Hati-hati di jalan," ucap Glory.
"Iya ma, shalom," Kairos pun menyalimi tangan kedua orang tuanya.
"Shalom."
"Cielah, baru nyampe lo?" Tanya teman Kairos, Rio.
"Seperti yang lo liat," cuek Kairos.
"Udah lo pr? Tau lah guru kita ini segalak apa, kalo lo gak kerjain tugas nya disuruh nulis jawaban yang benar 10 kali. Emang mau lo?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Indah Pada Waktunya
SpiritualeMemperjuangkan cinta didalam Tuhan? Apakah bisa? Tentu bisa jika kita melakukan nya dengan iman. Itu dialami oleh Kairos, pertemuan yang menyebabkan cinta muncul dalam dirinya. Cinta yang dialaminya bukan cinta biasa, tetapi cinta tumbuh didalam Tuh...
