Rak buku di depan Dara masih sangat berantakan. Harap maklum, Dara baru saja datang tiga hari yang lalu di kota ini.
"Lo beneran mau sekalian nyari dia keliling kota ini?"
Perempuan dengan rambut pendek sebahu yang sedang memegang gelas berisi kopi hitam pekat itu masuk ke kamar Dara tanpa permisi.
"Nggak tahu. Mungkin iya, mungkin juga nggak."
"Dar, yang perlu lo tahu luas kota ini lebih dari 600 kilometer persegi. Kemungkinannya kecil bisa ketemu sama dia kalo lo ga punya celah informasi sedikitpun."
"Gue tahu, Nin. Dan sekarang gue lagi ga mau mikirin itu. Biarin gue tenang dulu ngerapiin buku-buku gue."
"Mau gue bantuin?"
"Yang ada ini buku makin berantakan kalo lo yang ngurus."
Nina nyengir sambil sesekali menyeruput kopinya.
"Tapi, kalo lo serius mau nyari dia gue bantuin deh. Daripada lo nyari sendiri kayak orang ilang."
"Nin, ini bukan prioritas gue dateng ke kota ini btw. Lo ga usah repot-repot ikut mikir gimana caranya gue bisa ketemu sama dia apa nggak. Yang gue pikirin sekarang kerja dulu. Urusan ketemu sama dia itu cuma jadi bonus."
"Iya deh iya, si denial."
"Dih."
Nina menaruh gelas kopinya ke atas meja persis di samping Dara berada.
"Emang lo nggak nyari tahu dia ada dimana sekarang lewat temen-temennya dia gitu?"
"Gue nggak mau memperpanjang masalah kalo tanya ke temen-temennya dia. Males nyeritain panjang lebar tentang dia. Apalagi yang mereka tahu gue ga sedekat itu sama dia."
"Aneh banget sih, gue jadi ikut bingung. Ini sebenernya lo sama dia ada hubungan apa sih?"
"Harus banget gue jawab ya?"
"Ya... Enggak sih."
Dara menghela napas dan meletakkan dua buku terakhir ke dalam raknya.
"Akhirnya selesai."
Dara merebahkan diri di lantai kamar barunya. Menatap langit-langit kamar dan memejamkan mata.
"Eh Dar, tapi kalo tiba-tiba malah dia yang nyariin lo terus ketemu sama lo dengan cara yang nggak lo duga gimana?"
"Nggak usah halu deh, Nin. Lo kebanyakan nonton sinetron dan baca cerita-cerita khayalan babu begitu."
"Ya kali aja gitu, dia inisiatif nyari lo duluan."
Dara membuka matanya, kemudian memutuskan untuk duduk persis di depan Nina.
"Gue terakhir ketemu sama dia itu dua tahun yang lalu, Nin. Dan setelah itu nggak ada kabar sama sekali. Gue cuma pernah tau dia ada di instastory temen gue, mereka lagi nongkrong bareng. Kalo dilihat-lihat dia baik-baik aja dan bahagia banget tuh."
"Ya terus nagapain lo mau nyari dia kalo dianya aja kesannya kayak udah menghindari lo dan keliatan bahagia malah?"
"Nggak tahu. Tapi, hati nurani gue bilang kalo gue harus ketemu sama dia dulu. Gue ngerasa ada hal-hal yang masih ganjel, belum kelar. Jadi, sekalian mau gue kelarin gitu, biar gue juga nggak merasa bersalah. Kalo setelah itu dia mau ngilang selamanya dari hadapan gue, ya silahkan."
"Aduh kok makin ruwet ya."
"Makannya lo nggak usah sok-sokan ikut mikir. Puyeng kan?"
Nina mengangguk.
- E N D -
