Wahyu dan Pangeran tengah bercengkrama dengan ditemani segelas susu hangat dan cookies yang dibeli oleh Wahyu diwarung tadi.
"Pangeran, abang punya berita gembira." Wahyu tersenyum sembari memakan cookies tersebut.
"Berita gembira apa bang?" Setelah mengutarakan pertanyaan tersebut Pangeran menegak segelas susu hangat tadi hingga berkurang setengah.
"Alhamdulillah tabungan abang udah cukup buat beli rumah." Pernyataan yang dilontarkan Wahyumembiat Pangeran mengembangkan senyumannya.
"Beneran bang?" Tanya Pangeran antusias.
Wahyu mengangguk. "In syaa Allah besok abang bakal cari rumah buat kita."
"Alhamdulillah bangg." Pangeran terlampau senang, hingga tanpa sadar Pangeran meneteskan air matanya.
Wahyu yang melihat itupun langsung memeluk Pangeran erat. Diusapnya surai hitam Pangeran.
"Kamu belajar yang giat yaa. Kita sama-sama berjuang buat masa depan kita nanti." Ujar Wahyu.
Pangeran mengangguk. "Pasti bang. Pangeran bakal berikan yang terbaik buat abang."
Wahyu mengangguk. Hati Pangeran sangat sensitif, ia sering sekali menangisi hal-hal sepele. Namun Wahyu tak pernah sekalipun mengolok-olok Pangeran, ia malah berbuat sebaliknya. Ketika adiknya iyu menangis, ia akan dengan senang hati menghampiri Pangeran lalu memberikan pelukan untuk adiknya.
Beberapa jam berlalu. Mereka berdua tidak menunjukkan tanda-tanda ingin tidur. Keduanya terlihat asik bercerita. Hingga tiba-tiba Pangeran mengutarakan sesuatu yang membuat Wahyu kebingungan.
"Bang, nggak tau kenapa Pangeran kangen banget sama ayah kandung Pangeran. Pangeran pengen ketemu ayah." Pernyataan Pangeran sukses membuat Wahyu kebingungan.
"Sabar Pangeran. Nanti kita cari ayah kamu sama-sama. Abang bakal temenin kamu sampe kamu ketemu sama keluarga kandung kamu." Ujar Wahyu mencoba menenangkan Pangeran yang sudah berkaca-kaca.
"Tapi kalo keluarga Pangeran nggak mau terima Pangeran gimana?" Tanya Pangeran, suaranya mulai bergetar menahan tangisnya. Seketika ia teringat makian bundanya beberapa bulan lalu.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu. Nggak ada orang tua yang nggak nerima anak kandung mereka." Ujar Wahyu.
Mata Pangeran terlihat semakin sendu. "ADA BANG! ADAA. BUNDA NGGAK MAU TERIMA PANGERAN BANG." Batin Pangeran menjerit. Sebenarnya ia ingin mengatakan itu pada Wahyu. Namun ia tak cukup berani.
Ia terlalu membebani Wahyu dengan kehidupannya. Wahyu selalu memberikan apapun untuk Pangeran, membuat Pangeran merasa tidak enak.
"Kan kalau misalnya bang. Gimana?" Tanya Pangeran.
"Balik aja ke abang. Abang akan selalu jadi rumah kamu. Kembali atau tidaknya kamu ke abang itu urusan nanti. Intinya, abang akan selalu jadi rumah buat kamu." Ujar Wahyu sembari menatal lembut Pangeran.
Pangeran memeluk Wahyu. "Nanti kalo Pangeran udah nemuin keluarga Pangeran, abang tetep tinggal sama Pangeran ya. Abang tinggal sama Pangeran, sama keluarga Pangeran. Karena keluarga Pangeran juga keluarganya abang."
Wahyu menganggukkan kepalanya. Karena tidak tega melihat Pangeran yang akan menangis lagi, Wahyu pun menyuruh Pangeran untuk tidur.
"Udah malem Ran. Kita tidur aja yuk." Uajr Wahyu.
"Iya bang."
Mereka berdua pun berbaring dikasur king size itu. Malam hening bertabur bintang itu menjadi saksi bisu bahwa ikatan persaudaraan mereka sangat erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Home [Zhong Chenle]
Teen Fiction"Ayah, ayah dimana? Pangeran pengen ketemu ayah. Bunda nggak suka sama Pangeran yah, bunda benci Pangeran. Pangeran pengen ketemu ayah."
![From Home [Zhong Chenle]](https://img.wattpad.com/cover/297666807-64-k49013.jpg)