"Ran? Muka lo kenapa?" Tanya Ilham ketika ia tak sengaja melihat wajah Pangeran yang penuh dengan luka lebam.
"Kemaren gue kecopetan Ham, pas gue lawan eh gue nya dipukul." Jawab Pangeran, yang pasti bohong. Buka begitu kejadian aslinya. Tapi Pangeran berbohong karena ada alasan, ia tak ingin masalah tambah runyam dengan mengatakan yang sejujurnya.
"Kok bisa? Emang gak ada orang yang nolongin lo?" Tanya Ilham.
Pangeran menggelengkan kepalanya. "Pas itu gue lagi di gang sepi, jadi nggak ada yang nolongi."
"Tapi lo nggak papa kan?" Tanya Ilham.
"Nggak papa, tenang aja sih." Ujar Pangeran.
"Syukur deh. Btw, tangan lo kenapa merah-merah gitu? Gatel yaa?" Tanya Ilham.
"Iya gatel. Kemaren nyamuknya banyak banget. Gue digigitin terus." Ujar Pangeran.
"Perlu gue bawain obat nyamuk nggak?" Tanya Ilham.
"Nggak usah. Nanti gue beli sendiri." Ujar Pangeran.
"Oke."
Sementara itu 3 orang siswa dengan penampilan yang sama sekali tidak mencerminkan pelajar duduk dibangku belakang sembari mengamati interaksi antara Pangeran dan Ilham.
"Sok banget dia." Ujar Iyan.
"Dia cuma caper tuh. Paling di mikir kalo dia baikin kita, kita juga bakal baikin dia." Imbuh siswa bernama Rega.
"Betul tuh."
Iyan menatap sinis Pangeran. Setelah itu ia berdiri.
"Cabut!"
Iyan beserta kedua anak buahnya pun keluar dari ruang kelas. Pangeran melirik sekilan Iyan dan kedua temannya.
"Udah ngerjain tugas belom?" Tanya Ilham.
"Udah. Pasti lo belom." Ujar Pangeran.
"Mana ada? Gue udah ngerjain yee. Jangan asal nuduh lo." Ujar Ilham.
"Tumben, biasanya lo nyalin tugas gue." Ujar Pangeran.
"Gue lagi rajin nihh." Ujar Ilham dengan wajah bangganya.
"Dihh! Liat noh muka loo. Nyebelin banget." Ujar Pangeran.
"Nggak! Muka gue ganteng-ganteng aja tuhh." Ujar Ilham sembari membanggakan ketampanannya.
"Hoeek." Pangeran memasang raut jijik, dan berlagak seperti ingin muntah.
"Ihhh jahat banget lu sumpah." Ujar Ilham.
"Paan si Ham." Sinis Pangeran.
Karena respon Pangeran yang tak sesuai harapan, Ilham pun memasang wajah datarnya sembari menatap Pangeran.
***
"Wahyu." Suara seorang lelaki berpeci hitam membuat remaja lelaki yang tengah beristirahat dibawah pohon besar itu pun mengedarkan pandangannya, guna mencari asal suara.
Tak perlu waktu lama kini netra hitamnya menangkap sosok pria berusia 50 tahunan tengah berjalan menuju kearahnya.
"Ustadz? Ada apa ya?" Tanya Wahyu sembari menyimpan topi yang ia gunakan untuk mengipasi wajahnya.
"Temen saya lagu butuh tenaga kerja. Beliau ingin membangun rumah, dan masih kekurangan tukang untuk itu beliau meminta saya untuk mecarikan kuli. Waktu beliau ngomong begitu saya inget kamu. Kamu mau nggak, ambil pekerjaan itu?" Tanya pria yang berusia setengah abad tersebut.
"Lokasinya dimana pak?" Tanya Wahyu.
"Dideket rumah saya." Jawab pak Ustadz.
"Agak jauh ya pak." Ujar Wahyu.
"Iya, lokasinya agak jauh dari rumah kamu. Tapi makan siangnya sudah disediakan. Jadi kalau mau makan nggak perlu repot-repot nyari makanan diluar." Ujar pak Ustadz.
"Iya deh pak. Saya terima tawaran perkerjaan itu." Ujar Wahyu.
"Oke, nanti saya bilang ke temen saya. Ngomong-ngomong kamu sudah dapet rumah yang ingin kamu beli?" Tanya pak ustadz.
"Belum pak. Lagipula, uangnya juga belum berkumpul. Masih kurang untuk membeli rumah." Jawab Wahyu dengan nada sendu.
"Mau saya bantuin? Saya bayarin kekurangannya aja." Tawar pak ustadz.
"Nggak usah pak, makasih. Cuma kurang sedikit." Tolak Wahyu dengan sopan.
"Ya sudah. Kalau kamu butuh bantuan jangan sungkan minta bantuan saya sama keluarga." Ujar pak ustadz.
"Iya pak, sekali lagi terima kasih." Ujar Wahyu sembari sedikit membungkukkan badannya.
"Iya sama-sama Wahyu, kalau begitu saya pamit. Ada urusan yang harus saya selesaikan." Ujsr pak ustadz menyudahi percakapan mereka.
"Iya pak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam." Setelah mendapat jawaban dari Wahyu, baru lah oak ustadz pergi meninggalkan Wahyu.
Senyum Wahyu seketika merekah. Ia sangat senang mendapatkan pekerjaan disamping pekerjaannya yang biasa mencuci piring di restorant dengan gaji yang lumayan kecil. Wahyu kembali berjalan menuju kerumah.
Hari ini ia tidak berangkat ke restorant karena bos dan pegawai lainnya sedang pergi berlibur. Sedangkan Wahyu memilih untuk tidak ikut agar ia dapat menemani sang adik.
Diperjalanan pulang tak sengaja ia melihat sebuah gantungan tas berbentuk boneka lumba-lumba. Ketika melihat gantungan tersebut, seketika ia teringat oleh tawa Pangeran yang hampir mirip dengan suara lumba-lumba.
Wahyu menghampiri penjual tersebut. "Pak, gantungan tas lumba-lumba itu berapa yaa?" Tanya Wahyu.
"20 ribu mas, lagi ada diskon 65%." Jawab pria berusia 40 tahunan itu.
"Saya ambil deh pak." Ujar Wahyu.
"Oke." Penjual itu pun segera membungkus gantungan tas tersebut.
Sedangkan Wahyu langsung membayarnya. Setelah membeli gantungan kunci tersebut, Wahyu kembali melanjutkan perjalanannya kerumah.
***
Kini jam menunjukkan pukul 01.00 tepat, Pangeran masih saja terjaga. Kini ia merasa gelisah, makian yang orang-orang berikan kepadanya trtus saja terputar digendang telinganya, bagaikan sebuah kaset radio.
Pangeran mengacak rambutnya kasar. Sesekali ia juga memukul dadanya yang terasa sesak.
"Ayah, ayah dimana? Pangeran pengen ketemu ayah. Bunda nggak suka sama Pangeran yah, bunda benci Pangeran. Pangeran pengen ketemu ayah." Pangeran meneteskan air matanya. Ia sangat ingin bertemu dengan ayah kandungnya. Walau kemungkinan reaksi ayahnya akan sama seperti bunda nya, ia tak peduli. Yang terpenting ia dapat mengetahui siapa ayahnya.
"Pangeran cape. Pangeran kangen sama ayah sama ibu. Pengen ubi rebus yang dibikin ibu, Pangeran pengen nyusul ayah sama ibu ajaa. Pangeran capek." Lagi-lagi Pangeran merasa putus asa. Tak jarang juga ia memiliki niat untuk bunuh diri.
Tapi ketika niat itu sudah membutakan akalnya, ia pasti akan selalu teringat oleh Wahyu. Wajah lelah Wahyu sehabis kerja selalu berhasil menenangkan pikiran Pangeran.
Kini Pangeran beralih menatap wajah Wahyu yang tengah terlelap. Setelah beberapa menit, kini atensinya terfokus pada gantungan tas berbentuk lumba-lumba yang sudah tergantung dengan cantik diresleting tasnya.
Pangeran mengembangkan senyumnya. Wahyu adalah obat terbaik yang pernah ia dapatkan. Pangeran membaringkan tubuhnya disamping Wahyu. Rasa sesak didadanya berangsur menghilang.
Ketika ia hampir menyelami alam mimpinya, bayangan seorang gadis berhijab panjang itu terlintas dikepalanya. Dan berakhir dengan matanya yang kembali terasa segar.
Bayangan Rayna yang tengah tersenyum tiba-tiba saja terlintas diotaknya. Pangeran kembali mengembangkan senyumannya. Gadis yang sukses merebut hatinya itu kini juga menjadi salah satu alasan supaya Pangeran untuk tetap hidup.
Tiba-tiba saja rasa kantuk mulai menyerangnya. Ia segera mengambil posisi nyaman dan mulai menutup matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
From Home [Zhong Chenle]
Ficțiune adolescenți"Ayah, ayah dimana? Pangeran pengen ketemu ayah. Bunda nggak suka sama Pangeran yah, bunda benci Pangeran. Pangeran pengen ketemu ayah."
![From Home [Zhong Chenle]](https://img.wattpad.com/cover/297666807-64-k49013.jpg)