- 9. Kontrak; 2. Pergi kencan

391 49 54
                                        

Keadaan tidak nyaman membuat Ji-an sedikit menggeliat di atas sofa. Sampai akhirnya, dirinya terbangun cepat dan langsung mengecek sofa yang dia tiduri.

Dia menghembuskan nafas pasrah, "gue lupa kemarin hari pertama mens."

"Anjir, ini gimana. Astaga gue..." Dia menjambak rambutnya sendiri frustasi, "sofa orang, anjir!"

Ah, seharusnya kalian tau apa yang terjadi.

Merasa panik sendiri, Ji-an langsung melompat turun dari sofa dan dikagetkan dengan Haruto yang masih tertidur di bawah sana.

"Lah, gue kira lo ngasih selimut doang, ternyata tidur di sini juga."

"Gue minjem kamar mandi ye," desisnya.

Ji-an melangkahi tubuh Haruto dan langsung pergi ke kamar mandi, tidak lupa menutupi bekas di sofa menggunakan selimut.

Karena tak memiliki pakaian ganti jadi Ji-an kembali menggunakan seragam sekolah nya setelah mandi. Walau dengan rok yang basah. Untung dia membawa banyak cadangan soft*x di dalam tasnya.

Selesai sudah dengan kegiatannya, Ji-an keluar dan melihat Haruto sudah membereskan kasur lipatnya. Dan juga... Selimut nya.

"Kok, heh..." Ji-an berlari menghampiri sofa dan Haruto yang sedang menggulung tikar sebagai alas kasur lipat semalam.

"Itu..." Ji-an yang gugup memberanikan diri meminta maaf atas sikap cerobohnya.

"Gue tadi udah izin minjem toilet sama lo pas tidur, kalo itu..." Dia menggigit bibir bawahnya, "maaf, gue gak sengaja. Nanti gue bersihin kok!"

Haruto yang masih menunduk sambil menggulung tikar terkekeh mendengar perkataan Ji-an yang ketakutan.

Setelah selesai melipat, dia berdiri dan merubah raut wajahnya kembali seperti biasa dan pergi menaruh tikar.

"Bun, jangan datengin Ji-an ya, Bun. Gak sengaja asli Bun T_T" — Ji-an.

Ji-an mengikuti Haruto yang mondar-mandir sedikit membersihkan rumah. "Jangan marah ya? Maap sumpah. Gue malu..."

"Gantiin sofa nya," balas Haruto.

Mata Ji-an sukses terbuka sempurna menatap nya tak berkata-kata membuat Haruto tertawa.

"Ngapain sih, kayak orang dongo." Dia menjulurkan tangannya mengusap seluruh wajah Ji-an agar wajahnya tak terlihat terkejut begitu.

Yang di usap lebih terkejut lagi dan langsung menatap Haruto kesal.

"Rumahnya mau gue kosongin, barang-barangnya juga mau di buang, udah pada jelek."

Haruskah Ji-an sujud syukur sekarang?

"Sofa nya juga?" Haruto mengangguk.

Memang benar harus sujud syukur.

Ji-an merasa tenang sekarang, dia kira memang harus mengganti sofa sebesar itu. Meski sudah usang tetap saja harganya pasti mahal.

Akhirnya setelah Haruto mengurus perihal rumah, dia pamit pada rumah dan juga bundanya.

Keduanya menaiki sepeda motor Haruto pergi dari sana.

"Anter gue ke rumah dong, mau ganti seragam."

Waktu masih menunjukkan pukul 05.52 pagi, cukup untuk perjalanan juga mengganti seragam dan berangkat sekolah.

"Mau sekolah?" Tanya Haruto yang masih fokus mengendarai.

Sebelum Ji-an menjawab matanya tak sengaja melihat wajah kusut Haruto dari kaca spion.

[✓] Pacar KontrakCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang