"Mampus, karton nya ketinggalan." Ji-an mengacak rambutnya, kesal.
Baru saja Ji-an memasuki kelas, tapi tubuhnya terpaksa berhenti dan sepertinya akan kembali pulang ke rumah karena kelalaiannya. Karton putih milik kelompoknya tertinggal di rumah.
Bukan kemauan Ji-an, tapi dia terpaksa harus kembali ke rumah demi tugas kelompoknya. Bisa-bisa Ji-an diamuk oleh teman sekelompok nya.
"Junghwan!" teriak Ji-an.
Junghwan menoleh.
"Gue balik dulu, karton kita ketinggalan. Nih tangkep!" Ucap Ji-an cepat kemudian melempar tasnya dan lari keluar kelas begitu saja.
Junghwan yang tak siap menangkap pun gelagapan, dan akhirnya membiarkan tas Ji-an jatuh berguling di lantai.
"Pikun nya kumat, tuh."
• • •
"Pak, karton saya ketinggalan."
"Terus? Ini udah lewat 3 menit dari bel masuk," Tanya Pak Hesa, selaku guru piket sekolah ini.
"Ya, saya ingin meminta izin kepada Baginda pak Hesa, untuk memberi saya i-" mulut Ji-an ditutup dengan buku oleh Pak Hesa.
Pak Hesa tau, sangat tau. Panjang kalimat yang akan Ji-an katakan mengalahkan panjang sungai Nil, dengan segera Pak Hesa memberhentikan mulut berisik Ji-an itu.
"Ga di izinin juga tetep pergi, kamu mah. Dah sana."
"Pak! Sarangekkk," Ji-an pun berlari sambil membentuk tangannya seperti simbol hati juga melakukan kiss-bye, kepada guru piket itu.
Melihat tingkah Ji-an yang semakin hari semakin kehilangan akal sehatnya, Pak Hesa hanya menanggapi dengan senyuman juga geleng-geleng kepala.
Sebenarnya, rumah Ji-an tak jauh dari sekolah. Tapi, karena tidak memungkinkan memesan ojek online atau menaiki bus diapun berlari secepat mungkin untuk sampai ke rumahnya.
Cuaca yang cerah juga angin yang berhembus tenang sangat dinikmati Ji-an saat berlari pulang.
Begitu juga dengan laki-laki berseragam sama dengan kardigan biru yang sedang berjalan santai menuju arah yang berlawanan dengan Ji-an.
Surai hitam miliknya berkilau dikarenakan cahaya matahari, dengan headset dikedua telinga juga tatapan yang berkutat pada ponsel genggamnya.
Dia tampak sangat menikmati cuaca pagi ini.
Tapi, tidak lagi dengan Ji-an.
Ji-an mengibaskan rambutnya kebelakang dan menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi pengelihatan nya.
"Panas banget, buset."
Bugh!
"Sorry, gue ga se–" baru saja ingin meminta maaf, mata Ji-an terbuka lebar, pupil matanya bergetar dan tubuhnya lemas.
Apa yang harus Ji-an lakukan sekarang.
Ponsel milik laki-laki yang ditabraknya itu terjatuh sekaligus terinjak oleh Ji-an, membuat layarnya retak juga pinggirnya yang rusak.
"Gue lagi bokek, anjing." — Ji-an.
Sesegera mungkin Ji-an tersadar dan langsung mengambil ponsel biru milik lawan jenis dihadapannya.
Tatapan dingin dilontarkan si Empunya ponsel genggam tersebut.
Ji-an sudah berkali-kali menekan tombol power pada ponsel tersebut, tetapi tetap tak ada reaksi darinya. Apa serusak itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] Pacar Kontrak
Romansa❝Terlepas dari kertas kontrak, perasaan ini lebih tulus❞ || Watanabe Haruto "Tolongin gue, 100 hari doang." "Gue udh punya pacar, anjir!" Jihyunnx, 15 Mei 2022
![[✓] Pacar Kontrak](https://img.wattpad.com/cover/310672693-64-k42597.jpg)