- 5. Pacaran

435 60 87
                                        

Banyak pelajaran yang berlalu begitu saja di telinga Ji-an. Sampai akhirnya waktu makan siang datang.

Warga sekolah masih seru berbincang tentang peristiwa tak disangka tadi. Ji-an pun tidak tau apa Jeongwoo sudah sadar dengan semua yang terjadi.

Banyak siswa yang sudah beranjak pergi dari kelas menuju ruang makan.

Lagian Ji-an tidak makan siang, dia juga harus menemui Haruto untuk menyelesaikan masalah ini.

"Ji, kita di sini kalo lo gak makan. Nanti gue beli roti buat ganjel perut," ucap Junghwan yang diikuti anggukan oleh Doyoung.

Bahkan Doyoung yang sedang di ruang guru tadi pun tau tentang kejadian yang baru saja terjadi, bagaimana dengan Jeongwoo.

Ji-an sangat khawatir sekarang. Tapi, dia tidak berani untuk menemui Jeongwoo secara langsung.

"Kalian makan aja, gue mau pergi dulu." Ji-an berdiri dari duduknya dan merapikan roknya yang sedikit kusut. "Nanti kalo Jeongwoo nanya atau bahas soal tadi, diemin aja, ya. Gue mau coba ngomong sendiri," lanjut Ji-an.

Jelas kedua teman didepannya ini melarang. Hampir satu sekolah tengah membicarakan Ji-an, mana mungkin sebagai sahabat yang baik mereka ingin membiarkan Ji-an berkeliaran sendirian.

"Lo mau kemana, Ji? Udah sini aja sama kita, gak usah dengerin yang lain." Kini Doyoung menarik Ji-an duduk kembali.

Ji-an menggeleng, dia kembali berdiri, "pengen sendiri dulu, udah kalian makan siang aja ya."

Tak minat mendengar perkataan kedua temannya lagi, Ji-an langsung keluar kelas dan pergi menuju studio foto.

Di perjalanan Ji-an sedikit takut menyadari banyak yang membicarakan dirinya, bahkan di depan Ji-an secara langsung.

Karena Ji-an tau ini bukan salahnya, dia berusaha mengabaikan dan akhirnya sampai di studio foto.

Dia yang baru masuk langsung disambut oleh Haruto yang berdiri dari duduknya lalu menghampiri Ji-an.

"Ayo, temenin gue foto," ajak Haruto yang langsung berjalan ke ruang ganti.

Ji-an melihat seniornya tengah duduk di mejanya sebagai penjaga studio melempar senyum ramah, kemudian mengikuti Haruto ke ruang ganti.

"Ngapain deh, di sini?" Tanya Ji-an yang baru masuk, mendapati Haruto sedang mencari seragam dan dasi yang pas dengan ukurannya.

"Bahas di sini aja, gue bilang kalo lo yang mau nemenin gue foto," ucap Haruto memberhentikan kegiatannya dan berbalik menatap Ji-an.

"Siapa juga yang mau nemenin lo, gue gak mau lama-lama ya, Haruto. Cepet selesain masalah lo yang bawa-bawa gue."

"Lo jadi pacar gue ya."

Tidak, Haruto tidak bisa menahan malu ini. Dia bahkan benci dirinya sendiri yang tak bisa apa-apa selain membuat Ji-an menjadi pacarnya.

"Gila ya? Gue udah punya pacar. Lagian, gak minat gue sama orang kayak lo," balas Ji-an cepat karena saking terkejutnya.

"Gue udah terlanjur bilang lo pacar gue. Emang kata lo gue mau pacaran sama cewek kayak lo." Haruto balik membalas Ji-an.

"Terus maksud lo apa ngomong gitu tadi?"

Haruto sedikit menyeringai, "siapa coba tadi yang ngaku di ruang musik."

Yang tersindir dengan perkataan Haruto langsung menatapnya tak percaya. "Masih untung gue bantu, anjir!"

"Nah, itu lo juga udah boong, mau gak mau harus dilanjutin."

Ji-an melangkah maju satu langkah, dia menatap Haruto serius, "gue gak mau lanjutin, gue cuma bales bantuan lo waktu gue boong ke Jeongwoo doang. Makanya di sini gue mau lo keluarin gue dari ini masalah."

[✓] Pacar KontrakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang