16] Kebencian Aarav

818 125 33
                                    


Jangan lupa tekan bintang dan tulis komentar!
DIBIASAKAN!!!
________________

Note: Ada lima orang yang akan mati di cerita ini.
Dua orang laki-laki akan mati saat cerita mendekati ending.
____________________

Happy reading gaes

•°•°•°•

Dhira menghela napas panjang. Dirinya merasa bersalah lantaran Devon demam setelah ditakut-takuti dengan kecebong. Hari ini, dia terpaksa tidak berangkat ke sekolah demi merawat Devon yang demam tinggi. Bahkan, Saka juga ikut sakit sebab terlalu lama bermain air saat mencari kecebong di selokan.

Saat Devon sakit, Dhira dibuat panik olehnya. Lantaran laki-laki itu akan sering mimisan serta muntah-muntah. Devon memang jarang sakit. Namun, sekali sakit, dia akan membuat semua orang panik.

"Hmm," Devon menggeliat tidak nyaman. Tubuhnya terasa sakit semua. Bahkan, kini perutnya seperti ingin mengeluarkan sesuatu.

"Kenapa, hm?" tanya Dhira lembut sembari mengusap peluh yang membasahi kening Devon. Sesekali dirinya akan menepuk-nepuk bahu Devon agar laki-laki itu tertidur dengan tenang.

Mata Devon yang terpejam, perlahan-lahan terbuka. Laki-laki itu meringis kala merasakan pusing di kepalanya. "Pusing, Ra." lirihnya dengan bibir yang pucat.

Tak lama kemudian, laki-laki itu mengeluarkan seluruh isi perutnya. Bibirnya yang pucat bergetar pelan. Dia menangis lantaran tidak kuat merasakan sakit. Dhira yang melihat itu sontak membersihkan muntahan Devon yang mengenai sprei kasur dan baju laki-laki itu sendiri.

Dhira sangat telaten saat mengusap leher Devon yang kotor dengan tisu basah. Setelah bersih, dirinya mengganti pakaian Devon, dan meletakkan pakaian kotor itu ke dalam mesin cuci.

"Ra, pusing... hikss," rengek Devon, lalu menyembunyikan kepalanya di perut Dhira. Tangan kekarnya memeluk pinggang gadis itu dengan lemah.

"Nggak mau sakit lagi. Nggak enak," racau Devon yang membuat Dhira mengulas senyum sendu lantaran tidak tega dengan kondisi Devon. Perasaan bersalah terhadap laki-laki itu pun semakin besar.

Dhira mengembuskan napas berat. Tangannya perlahan-lahan terangkat untuk mengusap-usap punggung Devon. Lama-kelamaan, dirinya mendengar deru napas teratur milik laki-laki itu. Sepertinya, Devon sudah tertidur lelap.

"Kakak cantik." panggil Saka yang berjalan sempoyongan ke arah Dhira dengan wajah pucat pasi. Anak itu mengerucutkan bibirnya yang bergetar lantaran merasakan sakit di seluruh tubuhnya.

Mendengar itu, Dhira langsung menoleh. Dia meringis kala melihat darah yang mengucur dari hidung anak kecil itu. Benar dugaannya, Saka mimisan. "Sini, Sayang." titahnya lembut seraya merentangkan kedua tangannya.

"Mas Devon sakit juga?" tanya Saka yang sedang berusaha naik ke atas ranjang. Anak itu menatap Devon dengan tatapan bersalah. "Mas Devon sakit karena Saka, ya?"

Dhira menggeleng seraya mengulas senyum tipis. "Enggak, Sayang. Mas Devon sakit karena tadi pagi mandi pakai air dingin." balasnya berbohong agar Saka tidak menangis. Tangannya bergerak untuk mengelap darah di hidung Saka dengan hati-hati.

"Kakak cantik, Saka tidur, ya? Ngantuk," gumam Saka. Kemudian berbaring di sebelah Devon dengan mata yang perlahan-lahan menutup sempurna.

831 Baby SitterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang