Chapter 3

7 2 0
                                    

Hallo gaes. lama tidak update nih. semoga tetap suka sama ceritaku ya, selamat membaca :) 

***

Jam istirahat sudah tiba, Bian dan Varrel memutuskan untuk pergi ke lapangan basket. Dengan senang hati, Bian mengajaknya berkeliling sebentar dan melihat-lihat sekolah elite yang di tempatinya saat ini. Varrel cukup kagum dengan semua pemandangan ini. Baginya, tidak salah pilih dia sekolah di sini. Pemandangannya masih sangat asri. 

"Gimana? Bakal nyaman gak di sini?" tanya Bian sembari duduk di kursi samping lapangan. 

"Tergantung, karena gue udah kenal sama lo, betah-betah aja sih, kayaknya." Jawabnya. Tatapannya tidak lepas dari para pemain basket yang ada di lapangan. 

"Gue yakin lo betah di sini, soalnya cewek di sini cakep-cakep semua, cuy!" Bian berucap antusias. 

"Cewek mulu di otak lo, gedek gue!" kesalnya. 

Varrel bangkit dari duduknya, lalu bergegas menuju sebuah tempat yang bisa mengisi perutnya, "Antar gue ke kantin," teriaknya sambil berjalan. 

Bian hanya menggelengkan kepalanya, ternyata ribetnya masih sama kayak dulu. Varrel adalah orang yang sulit sekali untuk ditebak, yang Bian tahu, dia akan melakukan hal bodoh jika dirinya ada masalah dengan keluarganya. Ya, mungkin semua orang akan seperti itu, termasuk Bian sendiri. 

Setibanya di kantin, Bian langsung memesan soto ayam yang menjadi favorite semua siswa di sini. "Lo harus cobain soto paling enak di sini." 

"Semua makanan sama saja, bikin kenyang." 

Di tengah perbincangan mereka, seorang gadis dengan langkah kaki yang di lenggok-lenggokkan, berjalan ke arah Bian dan Varrel, tak lupa dirinya di temani oleh dua orang temannya yang lain. Gladis, Audrey dan Mila. Mereka adalah geng kakak kelas yang ditakuti oleh siswa lain, sebab mereka sangat suka menghina dan membully orang-orang yang menurutnya sangat kurang menarik. 

"Hai, lo murid baru, ya, di sini?" tanya Gladis seraya duduk di hadapan Varrel.

"Menurut lo?" ketusnya. 

Gladis sedikit canggung, karena uluran tangannya tidak diterima oleh Varrel. Audrey dan Mila saling bertatapan. "Gila cuek bangwt tuh cowok, menarik juga." Bisik Audrey. 

"O'ya, kenalin, gye Gladis, ini teman-teman gue, Audrey sama Mila." 

"Haii ...." Audrey dan Mila melambaikan tangan dengan semringah. Akan tetapi Varrel tetap acuh dan lanjut menyantap makanan yang sudah dari tadi sampai. Bian pun demikian. 

Selesai menyantap makanan, Varrel bergegas pergi dari kantin, meninggalkan Gladis dan teman-temannya, di susul denga Bian. 

"Songong banget sih tuh cowok, awas aja, gue bakal dapetin dia!" ucap Gladis penuh emosi. 

"Emangnya lo bisa? Terus si Raffa gimana? Lo buang?" tanya Audrey polos. 

Pletak! 

"Raffa itu ATM berjalan gue, mana mau gue putus sama dia!" katanya dengan tatapan masih tertuju pada Varrel yang sudah menghilang dari pandangannya. 

"Ya udahlah, jangan macem-macem, ketahuan si Raffa tahu rasa lo!" Mila mencoba memperingati. 

Gladis tidak memedulika ucapan kedua temannya. Dia pun melangkah masuk kelas karena merasa bosan di kantin.

***

Nadine berjalan beriringan bersama Dinda. Keduanya melangkah bersama menuju pulang ke rumah masing-masing. Namun, diperjalanan mereka bertemu dengan anak baru di kelas XII dan temannya, Bian.

Nadine menatap lelaki itu dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Mereasa terkejut juga heran, mengapa dirinya ada di sini? Nadine berusaha untuk tidak memedulikannya dan memutuskan untuk segera pulang.

Di temani Dinda, Nadine memintanya menginap kembali, karena mendapat kabar kedua orang tuanya tidak bisa pulang. Lagi-lagi, Nadine harus merasa kesepian. Untuk apa semua harta kekayaan yang dimilikinya jika bahagia dan keharmonisan dalam keluarga saja jarang dia dapatkan.

Brak!

"Ups, sorry, sengaja," kata Gladis setelah menyenggol Nadine.

"Lo apa-apaan, sih, kalau jalan tuh pake mata!" emosi Dinda. Wajahnya sudah memerah. Gadis itu memang menyebalkan dan suka cari masalah.

"Si Cupu aja gak protes gue tabrak, kenapa lo nyolot?" timpal Gladis gak mau kalah.

"Iiiiiiihhhh, awas kalau lo berani nyakitin Nadine!" Katanya lagi. Setelahnya, Dinda pergi menolong Nadine yang sempat tersungkur ke tanah.

Pertengkaran itu berhasil mencuri perhatian Bian dan temannya, Varrel. Saat hendak menghampirinya, Bian mencekal tangan temannya itu. "Jangan, kalau lo ke sana, yang ada Nadine akan tambah masalah sama Gladis, dia perempuan licik."

"Dia suka menindas?" tanya Varrel dengan tatapan dingin.

"Iya, apalagi Nadine, hanya karena penampilannya yang sederhana, Nadine menjadi bulan-bulanan Gladis saat masuk ke sekolah ini," jelas Bian panjang lebar.

Varrel mendengus kesal, lalu masuk ke mobil untuk bergegas pulang. Baru pertama masuk sekolah, sudah disuguhkan hal tidak menyenangkan, perempuan pula.

Sementara itu, Nadine dan Dinda memutuskan untuk mengabaikan Gladis yang masih asyik bicara dengan nada sengitnya. Wajah cantiknya tak selaras dengan perilakunya yang seperti setan kesurupan. Sangat menyeramkan.

"Awas lo!" teriaknya saat Nadine dan Dinda berlalu pergi.

***

The Last Love Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang