Selepas pulang sekolah. Varrel tidak berpikir panjang, ia segera menuju rumah kekasihnya karena merasa khawatir terjadi sesuatu. Ia pergi sendiri dan meninggalkan Bian yang kesal di parkiran.
Sepanjang perjalanan, pikirannya tidak bisa tenang, bahkan ia sendiri tidak mendapat kabar apa pun dari Nadine. Tidak seperti biasanya.
Setelah menempuh perjalanan panjang dengan cuaca yang panas. Varrel tiba di rumahnya. Lalu, bergegas masuk saat di izinkan oleh penjaga rumahnya.
Di sana Varrel langsung masuk ke kamarnya setelah di tunjukkan oleh Bi Lastri. Saat membuka pintu, Varrel terkejut saat Nadine terjatuh dari tempat tidur dalam keadaan pingsan dan hidung mimisan.
"Nadine!" katanya histeris. Varrel membawa tubuh Nadine dalam pangkuannya.
"Sayang bangun, ada apa sama kamu?" paniknya. Ia segera ke dapur dan meminta Bi Lastri untuk mengantarkan air hangat untuknya.
Nadine terlihat sangat pucat. Tubuhnya begitu panas. "Kenapa Nadine bisa seperti ini, Bi?" lanjutnya saat Bi Lastri tiba di kamarnya.
"Bibi kurang tahu, Nak Varrel. Semalam Non Nadine melamun, tiba-tiba mimisan dan pingsan," jelas Bi Lastri. Setelah itu, ia kembali ke dapur dan membiarkan mereka berdua di kamar.
Entah apa yang menjadi pemicu Nadine melamun. Apa karena rindu orang tuanya? Rasanya itu sudah pasti. Karena mereka pergi berbulan-bulan.
Varrel menatap wajah mungil kekasihnya. Wajah yang selama ini tidak ia lihat secara langsung. Di balik sikapnya yang dingin, ada sikap dan perasaan manja pada kekasihnya ini. Akan tetapi, itu semua tidak berlaku padanya saat ini. Nadine membutuhkannya.
"Eemhhh." Nadine mengerang, ia membuka matanya perlahan dan terkejut saat melihat Varrel ada di sampingnya. "Kamu? Kok di sini?"
Varrel melongo, "iyalah di sini. Aku khawatir kenapa kamu gak sekolah."
Nadine hanya tersenyum. Lalu, berusaha untuk duduk walau badannya terasa sangat lemas. "Aku gak apa-apa. Cuma kecapekan aja, kok."
"Kita ke dokter, ya?" Varrel menawarkan.
"Engga, Rel. Aku baik-baik aja kok, jangan khawatir," jelasnya. Padahal ia sendiri tahu badannya lemas. Dasar Nadine!
"Terus kenapa mimisan?" tanyanya lagi.
"Mimisan gimana? Enggak kok!" Nadine meraba-raba hidungnya. Tidak ada darah yang keluar.
Tentu saja, Varrel sudah membersihkannya. Jadi, tidak ada lagi darah yang menempel dihidungnya.
"Udah aku bersihkan," jawab Varrel singkat. Ia tersenyum tipis, menatap Nadine pekat. "Jaga kesehatan ya, aku gak mau kau kenapa-napa," lanjutnya.
Setelahnya, mereka berpelukkan.
***
Satu minggu sakit, akhirnya Nadine kembali bersekolah. Menghirup kembalo udara segar dari sekolah yang ia rindukan. Kini, ia tidak ragu lagi untuk di jemput oleh Varrel dan berangkat sekolah bersama. Terkadang, banyak yang iri dengan kebersamaan mereka. Namun, ada juga yang mengira bahwa Nadine memanfaatkan Varrel karena dia orang kaya.
"Halah, paling cuma manfaatin doang!"
"Cewek cupu kayak dia mana bisa di sukai sama si Varrel, paling dia selingkuhannya!"
"Kayaknya dia emang murah deh, jadi selingkuhan aja mau!"
"Paling cuma pelampiasan nafsu doang!"
Beberapa ucapan itu, Nadine dengar saat berita pacarannya dengan Varrel menyebar. Padahal cuma posting foto mereka saat makan es krim di taman saat Nadine baru pulih dari sakit. Ada yang mendukung, ada juga yang menghujat karena mereka tidak tahu latar belakang Nadine seperti apa. Apalagi Nadine selalu tampil biasa saja dan sederhana walau kekayaannya melimpah.
Ia melangkah ke kelas di antar Varrel. Mereka bergandengan tangan sepanjang lorong sekolah. Seolah kebahagiaan hanya milik berdua.
"Aku masuk kelas dulu, ya! Semangat belajarnya," ucap Varrel saat tiba di kelas.
"Iya, makasih sudah antar aku, janyan khawatir, aku pasti baik-baik aja," balas Nadine dengan senyum. Ia belum pernah seromantis ini sama Varrel.
Setelahnya. Nadine masuk kelas saat Varrel juga berbalik arah menuju kelasnya. Ia merasa semangat menjalani harinya dan itu di mulai hari ini, ia merasa ada yang menjaganya. Akan tetapi, Nadine tidak pernah sadar bahwa selama ini ia menjadi pusat perhatian kakak kelas laki-laki yang brandalan.
"Nadiiiiiine!" suara nyaring itu terdengar memekikkan telinga. Nadine mengusap-usap telinganya.
"Lo kemana aja sih, kenapa sakit gak ngabarin gue?!" protes Dinda saat ia baru mengetahui bahwa Nadine sakit seminggu ini.
"Enggak apa-apa. Gak mau ngerepotin kamu aja kok Din, gimana masalah kamu? Udah selesai?" Nadine mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau sahabatnya khawatir memikirkan kondisinya. Apalagi Varrel selalu merawatnya seminggu ini, walau tidak 24 jam.
"Em, gitu deh. Gue gak tinggal sama mereka lagi, Mama sama Papa gue pisah dan gue ikut tinggal sama Papa gue, karena cuma Papa yang peduli sama gue, Nad. Mama lebih milih nyusulin Lili daripada gue," jelas Dinda. Ia merasa hidupnya berat apalagi menyaksikan kedua orang tuanya bercerai di saat mereka sudah dewasa.
Dinda pikir mungkin ini yang terbaik baginya, kesehatan mental jauh lebih penting daripada apa pun, karena selama ini Dinda selalu mendapat perlakuan tidak adil dari ibunya sendiri. Bahkan sebenarnya, Dinda adalah anak kandungnya. Akan tetapi, ia memilih anak angkat itu hanya karena lebih banyak mendapatkan prestasi daripada dirinya.
Dinda memang kalah dalam akademik, tapi bukan berarti ia tidak punya kelebihan. Kadang, seorang anak akan merasa di bandingkan jika orang tua mereka tidak menghargai apa pun yang ada dalam diri anaknya.
"Em, aku tahu perasaan kamu, tetap kuat ya! Kamu kan perempuan hebat," ucap Nadine memberi semangat.
"Kuat dari mana? Emang gue robot?" kata Dinda. Ia tertawa setelah mengucapkan itu.
Nadine turut tersenyum. Akhirnya ia melihat sahabatnya ceria kembali seperti biasa. Mereka bersiap untuk masuk kelas, karena bel sekolah sudah berbunyi. Menikmati setiap momen berharga saat masih pelajar.
***
Hallo, maaf baru update ya. Lagi stuck banget idenya. Semoga suka ya!

KAMU SEDANG MEMBACA
The Last Love
RomancePerbedaan agama membuat kedua insan ini harus saling berjuang mempertahankan hubungan mereka. Nadine yang tidak menyangka kekasihnya berpindah keyakinan, membuatnya harus bersabar dan berusaha meyakinkan diri bahwa dirinya dapat bersatu dengan kekas...