Aku menatap langit biru yang semakin gelap, di atas atap kamar tidurku, menikmati setiap hembusan angin meski mendung mulai menutupi langit. Cuaca sepertinya akan hujan, tapi aku tetap di sini, mencari ketenangan. Namaku Othello Pranaja Zayan, dan orang-orang bilang aku dingin, irit berbicara, serta minim ekspresi. Aku tak peduli, mereka tidak akan pernah mengerti.
"Aku benci dengan orang-orang yang lemah," gumamku, suara itu seperti menggema di kepala. Aku tak ingin menjadi seperti mereka, mereka yang tak tahu bagaimana caranya bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Tiba-tiba suara ibu memanggilku, "Ello!"
Aku membuka mata, sejenak melirik ke bawah dari atap. Bunda pasti kesal. Aku segera turun dan menuju ke bawah, tahu betul bahwa lebih baik segera menghampiri daripada nanti harus menghadapi amukan darinya.
Bunda berdiri di depan pintu dengan tangan terlipat di dada. Ekspresinya marah, tapi aku hanya tersenyum tipis, seperti biasa. Aku berjalan mendekat, lalu memeluknya erat, menenangkan suasana.
"Abang bosan bun," ucapku dengan suara pelan, hampir terdengar seperti bisikan.
"Adikmu menunggumu lho," jawab Bunda, sedikit tersenyum meski masih kesal.
Rianti Wijaya, ibuku, adalah wanita terbaik yang pernah ada bagiku. Dia selalu ada untukku, meski aku tak pernah benar-benar menunjukkan perasaanku padanya. "Tadi izin tidur siang, lho, sama abang," lanjutku.
"Tidak bisa tidur katanya mau peluk abang dulu," jawab Bunda, dengan nada yang tak bisa kusebut marah atau senang.
"Aku ke kamar adik dulu ya bun," ucapku, mencoba menghindar dari obrolan lebih lanjut.
"Makan siang dulu, abang kan belum makan," Bunda mengingatkanku.
"Iya, aku makan dulu," jawabku singkat.
Aku mengikuti Bunda ke meja makan, menikmati masakan terbaik dari ibu, tapi pikiranku masih melayang ke kejadian-kejadian yang lebih penting.
Setelah makan, aku segera menuju kamar Rasen. Di sana, adikku menungguku.
"Abang!" teriak Rasen dengan suara ceria, meski aku tahu di balik itu ada kekhawatiran.
Rasendria Atala Zayan, adikku, berusia 13 tahun. Aku sangat menyayanginya. Dia adalah satu-satunya yang bisa membuatku tersenyum meski dunia terasa berat. Meskipun dia tomboy, ada sisi lembut di dalam dirinya yang selalu ingin dekat denganku.
"Bang, maraton anime yuk!" ajak Rasen, dengan mata berbinar.
"Maraton anime baru?" tanyaku dengan nada skeptis, tidak begitu tertarik.
"Spy x Family, judulnya keren banget, dari sinopsis sih bagus," jawab Rasen, menggoda agar aku mau menontonnya.
"Nonton dua episode saja," ucapku, setengah setuju meski tahu akhirnya akan berakhir dengan dia menang.
"Sampai habis season satu, yuk!" Rasen terus membujuk.
Aku menghela napas, tak bisa menahan diri. "Masalahnya abang sudah baca komiknya," jawabku dengan nada datar.
Rasen menatapku, kecewa, dan aku pun melangkah pergi dari kamar. Tak ingin berdebat lebih lanjut. Rasen memang selalu seperti itu—penuh semangat dan kadang memaksa.
Di kamarku, aku duduk di meja membaca buku. Kali ini tentang transmigrasi jiwa, sebuah topik yang menurutku sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa jiwa seseorang berpindah ke tubuh orang lain? Semuanya terasa seperti cerita fiksi.
"Idih, abang gaya banget baca buku transmigrasi!" suara Rasen kembali mengganggu, membuatku terpaksa mengalihkan perhatian.
"Tidur, Rasen," jawabku dengan suara dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Ello (END)
Ficción GeneralOthello Pranaja Zayan, atau yang lebih akrab dipanggil Ello, adalah seorang pemuda berwajah tegas dengan sifat dingin, minim ekspresi, dan benci terhadap pengkhianatan. Meskipun tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, sifat dingin Ello tak pernah b...
