Sadar dari pingsan, aku mendapati diriku berada di kamarku. Kondisiku mungkin baik-baik saja, namun ada sesuatu yang terasa aneh. Aku bangun dan segera menuju cermin. Wajahku yang sedikit cokelat dan rambut hitamku terlihat begitu familiar, namun bukan seperti tubuh putih mulus yang seharusnya milik Aditya. Aku menyadari bahwa aku kembali ke tubuh asliku.
"Adit kemana?" aku bertanya dalam hati, kebingungan.
Aku membuka pintu kamar dan hanya menemukan Rasen yang sedang asyik menonton TV. Aku menepuk pundaknya, dan dia menatapku sejenak. Firasat buruk muncul di hatiku mengenai kondisi Aditya, ada sesuatu yang tidak beres.
"Kakak sudah sadar ya? Abang tadi dibawa sama ayah dan bunda ke rumah sakit," kata Rasen sambil melirikku.
"Aku Ello, dek," jawabku dengan sedikit kebingungan, tidak bisa percaya apa yang baru saja aku alami.
"Eh?!" Rasen terkejut.
"Kita ke rumah sakit saja, penjelasannya nanti saja," ucapku, dengan hati yang penuh pertanyaan.
Aku kembali ke kamar untuk mengambil jaket, lalu bersama Rasen kami bergegas menuju rumah sakit. Pikiran-pikiran berkecamuk di kepalaku. Kenapa setelah rekaman berakhir, aku dan Aditya jatuh pingsan bersamaan? Jika tubuh Aditya yang jatuh pingsan, aku bisa mengerti, tetapi kenapa tubuhku ikut pingsan juga?
Taksi yang kami tumpangi melaju dalam keheningan. Aku masih tenggelam dalam pikiranku, sementara Rasen sepertinya lebih memilih untuk diam. Lalu, dia tiba-tiba memukul wajahku, membangunkanku dari lamunan.
"Apa dek?" tanyaku, agak terkejut.
"Kita sudah sampai, bang! Melamun terus sih!" pekik Rasen, membuatku tersadar.
"Oh iya," jawabku, kembali fokus.
Aku membayar ongkos taksi dan menggenggam tangan kanan Rasen dengan erat. Kami memasuki rumah sakit, dan Rasen bertanya tentang ruangan tempat Aditya dirawat.
Tiba-tiba, suara seseorang memanggilku, "Hey, kau!"
Aku tidak menghiraukan suara itu, karena aku sudah mengenali siapa pemilik suara tersebut. Aprian, kakak pertama Aditya, pasti akan mengganggu Aditya lagi. Dan aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adikku, apalagi Aprian.
"Bocah sombong!" ujar Aprian dengan nada kesal.
Aprian dengan cepat mencengkram pundakku, berusaha menarik perhatian. Aku melepaskan cengkeramannya dengan cepat dan memeluk tubuh Rasen, melindunginya dari Aprian yang kini semakin kasar. Rasen memberontak, tetapi aku tidak peduli. Aku akan melindungi dia.
"Kau tahu keberadaan bocah pembawa sial itu?" tanya Aprian, dengan nada mengancam.
"Aku tidak mengenal orang yang kau sebutkan, tuan," jawabku datar, tidak merasa terintimidasi.
"Aku tidak pikun, ya! Kau orang yang berkelahi dengan adik keduaku!" serunya kesal.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu, tuan," ujarku, tenang meskipun suasana semakin tegang.
"Tidak ada waktu untuk membuang waktu demi bocah songong sepertimu," balas Aprian sarkastis.
"Aditya Ello Pratama, kau anggap apa?" tanyaku, tidak peduli dengan keberadaan Aprian yang semakin membuat suasana buruk.
Aprian terdiam sejenak, matanya tajam menatapku. Aku tidak takut. Dia menarik kerah bajuku, wajahnya semakin memerah, tanda emosinya mulai meledak.
"Tidak perlu membawa nama Pratama dari anak pembawa sial tersebut!" geram Aprian.
"Aditya, your little brother," ucapku dengan tegas.
"Dia bukan adikku! Adikku hanya tiga, bukan empat!" teriak Aprian, marah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Ello (END)
General FictionOthello Pranaja Zayan, atau yang lebih akrab dipanggil Ello, adalah seorang pemuda berwajah tegas dengan sifat dingin, minim ekspresi, dan benci terhadap pengkhianatan. Meskipun tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, sifat dingin Ello tak pernah b...
