36 (diserang!)

5.3K 314 3
                                        

Taburan bintang malam dan gema takbir yang terdengar di setiap sudut memberikan nuansa haru. Besok adalah hari raya, namun entah mengapa bulan ini terasa begitu berat bagiku.

Aku menikmati hembusan angin malam, merasakannya menerpa wajahku. Firasat mengenai aksi pembantaian Catra membuatku sedikit khawatir. Aku berdiri di atas jendela kamarku, duduk tanpa rasa takut, meskipun kamarku berada di lantai dua.

"Oi, de, turun!" pekik Rin dari bawah.

"Aku hanya ingin merasakan angin malam, kak," jawabku santai.

"Nanti kau jatuh, lho. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa," ujar Rin, khawatir.

"Beberapa bulan lalu aku hampir mati saja, biasa saja. Aku tidak merasa takut akan kematian," ujarku dengan tenang.

"Kamu jangan bicara soal kematian, de. Hidupmu masih panjang. Kehadiranku di sini juga sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga," jawab Rin.

"Feelingku buruk, kak. Aku memang seorang muslim, tapi selama ini aku sering melanggar larangan agama," kataku, sedikit ragu.

"Seorang pendosa yang bertobat lebih baik di mata Sang Pencipta dibandingkan dengan orang yang merasa dirinya paling suci," jawab Rin bijak.

"Kakak pernah melanggar aturan agama?" tanyaku.

"Pernah. Dulu aku masuk ke klub malam karena ajakan teman. Di sana aku meminum satu botol anggur merah sendirian," ujar Rin.

"Anggur merah? Itu memiliki kadar alkohol yang cukup tinggi. Aku dulu satu gelas saja sudah tidak sanggup," kataku, mengenang masa lalu.

"Setidaknya hidupmu lebih beruntung dibandingkan diriku, El. Aku sering menyalahkan takdir. Kenapa aku tidak tahu di mana keberadaan kedua orangtuaku? Banyak hal negatif tentang mereka," ujar Rin, suaranya sedikit meredup.

"Hidup memang terkadang kejam, kak," jawabku, meresapi kata-katanya.

"Kisah Aditya membuktikan bahwa takdir tidak bisa ditolak oleh siapapun," kata Rin.

"Aditya mencoba bunuh diri karena tidak tahan dengan perlakuan Satria dan keluarganya," jawabku dengan nada kesal.

"Motif penculikannya mungkin hanya karena dendam, bukan karena Aditya," jawab Rin, bingung.

"Seseorang yang diliputi dendam tidak akan berpikir panjang. Aditya diperlakukan seperti samsak hidup di sana. Setiap kali mereka kesal, maka yang menjadi sasaran adalah Aditya," ujarku dengan geram.

"Seorang anak tidak ada hubungannya dengan masalah orangtuanya. Bayi yang lahir tidak bisa memilih siapa orangtuanya. Itu semua adalah kehendak Sang Pencipta," kata Rin dengan penuh pengertian.

"Menurut penyelidikan terakhir, mami diracun setelah melahirkan Aditya," jawabku, semakin kesal.

"Tega sekali orang itu," ujar Rin dengan suara pelan.

"Papi yakin pelakunya adalah Satria. Dia terobsesi dengan mami. Wajar sih, mami sangat cantik," jawabku dengan nada penuh kebencian.

"Tapi kenapa kamu menyebarkan video pria yang bercumbu dengan pria lain di internet, bahkan dengan akun palsu?" tanya Rin, bingung.

"Pria itu adalah putra pertama Satria," jawabku tanpa ragu.

"Hey, dia tidak ada hubungannya dengan ini semua!" protes Rin, merasa tidak setuju.

"Memang tidak ada hubungan langsung," jawabku sambil menutup mataku, menikmati kenyamanan angin malam. "Aprian tidak mau bekerja sama untuk menjatuhkan Satria," tambahku.

"Kasihan dia, de," ujar Rin dengan empati.

"AWAS!" teriakku, tiba-tiba.

Aku mendorong tubuh Rin ke lantai kamar. Suara ringisan Rin tidak kuhiraukan. Setelah tindakanku, terdengar suara tembakan menembus jendela kamarku. Tembakan itu terus berlanjut, dan aku merasakan Rin memeluk tubuhku sangat erat. Rin pasti terkejut dengan kejadian ini, wajar saja karena sepanjang hidupnya, dia tidak pernah mendengar suara tembakan pistol seperti ini.

Transmigrasi Ello (END) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang