Catra duduk di samping tempat tidur Aditya, menatap wajah anaknya yang tenang dalam tiduran. Dia mengusap lembut rambut Aditya, mengingat masa lalu yang penuh penderitaan dan kehilangan. Ia merasa sangat berat hati saat mengenang bahwa putranya harus melalui begitu banyak rasa sakit, dan dirinya harus membawa Aditya pergi dari negara kelahiran mereka demi menghindari musuh yang mengincar keluarga mereka.
Senyuman Catra mengembang saat melihat perubahan pada tubuh Aditya. Anak kecil yang dulu kurus karena kekurangan gizi kini mulai tampak lebih sehat dan berisi. Semua usaha Catra untuk merawatnya dengan penuh perhatian mulai menunjukkan hasil.
"Sebentar lagi kamu sembuh nak," ujar Catra dengan suara penuh kasih, mengelus pipi kiri Aditya. Suaranya terkesan lembut, hampir seperti sebuah janji yang dia buat untuk dirinya sendiri.
Aditya hanya menggumam, "Hm papi," dan tersenyum lemah. Catra tak bisa menahan perasaan cinta dan kesedihannya. Dia memeluk anaknya erat, merasa sangat bersyukur meski sakit hati karena penderitaan yang telah dilalui anaknya.
"Putra kesayanganku. Harta berharga yang ditinggalkan belahan jiwaku," gumam Catra. Suaranya bergetar, penuh emosi. Setiap kali dia melihat Aditya, dia teringat akan istrinya yang telah pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang penuh dengan kenangan pahit.
Aditya, meskipun terlihat tenang, kadang-kadang terbangun di tengah malam dengan tangisan yang menggema, mengingat trauma masa lalu yang begitu membekas. "Takut... jangan pukul aku," lirih Aditya dalam tidurnya, menyebabkan hati Catra semakin hancur. Catra, dengan lembut, mengusap kepala putranya.
"Tidak akan ada yang memukulmu nak. Ada papi di sini untuk menjagamu," jawab Catra, berusaha meyakinkan Aditya bahwa tak ada lagi yang akan menyakitinya.
Mendengar kata-kata itu, Aditya tampak lebih tenang. Catra menyadari betapa dalam luka yang dialami anaknya, dan berjanji dalam hati bahwa dia akan melakukan apapun untuk melindungi Aditya dan memberikan hidup yang lebih baik.
Namun, di balik kasih sayangnya yang besar, ada bara api balas dendam yang membara dalam hati Catra. "Aku akan menghancurkan secara perlahan-lahan Satria. Dimulai dari putra sulungmu," bisik Catra dengan penuh kebencian. Kata-kata itu mengalir dari bibirnya dengan senyuman sinis, namun dalam hatinya, ia tahu balas dendam ini harus dilaksanakan, walau harus menunggu waktu yang tepat.
Catra memutuskan untuk tidur di samping Aditya, menemani anaknya yang masih rapuh, menjaga setiap tidur nyenyaknya. Balas dendam, meski menggoda, ia tahu tak boleh mengganggu fokusnya untuk menyembuhkan Aditya. Kini, yang paling penting adalah kesejahteraan putranya. Catra tahu, balas dendam bisa menunggu, tetapi waktu bersama Aditya tidak bisa diulang.
Di Indonesia, aku duduk santai memutar pulpen di tangan. Catra dan Aditya kini berada di Milan, Italia. Catra melarangku terlibat dalam balas dendamnya terhadap Satria, tapi aku tak mengindahkan perintah itu. Sebagian besar rencanaku telah berjalan dengan lancar. Aldo kini menjadi kaki tanganku, mengawasi pergerakan Satria. Dan sekarang, targetku adalah Aprian, untuk terus menerus menggoyahkan mentalnya. Aku berada di tempat dimana Adrian menempuh pendidikan, menunggu kedatangannya.
Tak lama kemudian, kulihat siluet Adrian bersama teman-temannya. Aku menyeringai dan mendekatinya. Wajah Adrian terkejut begitu melihatku.
"Kita bicara empat mata," ujarku.
"Baiklah," jawab Adrian, masih dengan nada terkejut.
Aku baru sadar, ternyata tinggiku berbeda dengan kebanyakan remaja seusia aku. Di usiaku yang hampir 18 tahun, tinggi tubuhku hampir menyentuh 190 cm, bahkan Adrian terlihat lebih pendek dariku.
Kami berjalan ke taman belakang kampus. Di sana, aku menyerahkan foto yang Adrian minta. Aku ingin dia merasa senang dulu, sebelum kemudian aku memainkan gejolak amarahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Ello (END)
Genel KurguOthello Pranaja Zayan, atau yang lebih akrab dipanggil Ello, adalah seorang pemuda berwajah tegas dengan sifat dingin, minim ekspresi, dan benci terhadap pengkhianatan. Meskipun tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, sifat dingin Ello tak pernah b...
