Kedua pria yang kupanggil Papi dan Daddy itu adalah saudara kembar identik. Catra Zayan, yang lahir lima menit lebih dulu, adalah sosok serius dan tenang. Sementara itu, Cakra Zayan, yang lahir kemudian, lebih ceria dan suka bercanda. Meskipun sifat mereka sangat bertolak belakang, keduanya memiliki satu kesamaan: rasa sayang yang besar terhadapku.
Oliver pernah bercerita bahwa saat aku masih bayi, Catra dan Cakra sering menculikku tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku. Kisah itu selalu membuatku tersenyum sekaligus heran dengan tingkah mereka.
"Rencanamu bagaimana, Nak?" tanya Cakra sambil tersenyum santai.
"Permainkan mereka, Daddy," jawabku tegas.
Cakra mengangguk, matanya meneliti wajahku. "Aku belum menerima kerja sama mereka. Tapi dari sorot matamu, aku tahu adik barumu adalah orang yang tersakiti oleh keluarga Pratama."
"Daddy cenayang, ya?" candaku.
"Wajah kau dan Oliver saat dendam terlihat sangat berbeda," komentar Catra yang sedari tadi diam.
"Perasaan wajahku biasa saja," sanggahku sambil mengangkat bahu.
"Target utama adalah Satria Pratama," Catra menyatakan dengan tegas.
"Dan dimulai dari anak pungutnya," tambahku.
"Wait—anak pungut?" tanya Cakra memastikan, alisnya terangkat.
"Ya. Dia diambil dari panti asuhan Bunda Sayang Kamu," jelasku.
"Nama panti asuhannya alay banget," komentar Oliver dengan nada malas.
"Lihat saja siapa yang mendirikannya," balasku sambil melirik Cakra.
"Pasti ulahmu, Cakra," tebak Catra dengan nada datar.
"Aku gabut, Kak. Lagipula, aku ingin nama panti itu berbeda dari yang lain," jawab Cakra tanpa rasa bersalah.
"Lu cari informasi tentang anak pungut Satria Pratama," perintah Catra.
"Tenang, tinggal telepon pasti langsung ada," sahut Cakra dengan penuh percaya diri.
Cakra segera mengambil ponselnya, mengetik sesuatu dengan cepat, lalu mengacungkan jempol kepadaku. Isyarat itu cukup untuk memberitahuku bahwa dia sudah mendapatkan informasi yang diperlukan.
"Bacakan informasinya, Bang," pinta Oliver sambil menatapnya.
"Lu aja. Ngapain nyuruh yang lebih tua?" jawab Cakra sambil melemparkan ponselnya ke arah Oliver.
Oliver menangkapnya dengan sigap, meskipun wajahnya jelas menunjukkan rasa jengkel. Sementara itu, Cakra malah memeletkan lidahnya, membuatku tertawa. Interaksi mereka benar-benar seperti anak kecil, dan Catra hanya diam, mungkin malas melerai adik-adiknya.
"Oliver, baca informasinya," ucap Catra dengan nada tegas.
"Ya, aku mengerti, Kak," sahut Oliver sambil mendesah.
"Ayah, wajahnya yang ikhlas dong," candaku, terkekeh melihat ekspresi Oliver yang kesal.
Oliver menggumam tak jelas sambil membuka file di ponsel Cakra. Aku hendak beranjak dari sisi Catra, tapi dia tiba-tiba menahan pergelangan tanganku.
"Jangan terburu-buru, Ello. Dengarkan ini baik-baik," ucap Catra dengan nada yang lebih serius dari biasanya. Wajahnya menyiratkan sesuatu yang penting. Aku hanya diam, menunggu Oliver mulai membacakan informasi yang baru saja ditemukan.
“Arya, remaja berusia tiga belas tahun, telah tinggal di panti asuhan sejak bayi. Namun, ada hal yang sangat janggal: setiap ulang tahunnya, Satria Pratama—sosok yang dikenal sebagai pria berpengaruh—selalu berkunjung ke panti asuhan "Bunda Sayang Kamu" dan memberikan hadiah kepadanya. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata Arya memiliki hubungan darah dengan Satria.”
“Alasan Arya dibuang ke panti asuhan adalah karena dia merupakan hasil hubungan Satria dengan istri keduanya yang telah tiada. Demi menyelamatkan reputasi, tiga belas tahun lalu, Satria tega membuang Arya.”
Oliver akhirnya menyelesaikan penjelasannya, meskipun ekspresi wajahnya menunjukkan sedikit kekesalan.
“Tidak ada rekaman CCTV Satria membuang Arya?” tanyaku.
“Di sini tidak ada, El,” ucap Oliver.
“Tumben banget manggil El?” aku heran.
“Nanti yang di sebelahmu malah ikutan nengok,” jawab Oliver santai.
“Informasimu kurang akurat, Cakra. Aku akan memerintahkan anak buahku untuk menggali lebih dalam,” ucap Catra serius.
Cakra menunjuk hidung Catra sambil berseloroh, “Anakmu kebanyakan bergaul sama kakak, jadinya sifatnya nular.”
Catra diam saja, sudah terbiasa dengan sikap kurang ajar saudara kembarnya itu.
“Kak, lu nggak niatan punya anak gitu?” tanya Cakra lagi, masih dengan nada bercanda.
“Jangan menanyakan hal yang tidak penting, Cakra,” tegur Catra tegas.
“Gini, Kak. Gue udah punya lima buntut, si Oliver punya tiga, lah elu malah betah menduda.”
“Ada Ello dan adiknya. Mereka jadi penerus perusahaan,” balas Catra datar.
“Gila banget ide lu, El. Masa transplantasi otak sih. Itu kayak mengambil inti dari komputer,” tukas Cakra padaku.
“Daddy punya kenalan dokter spesialis kanker di sini?” tanyaku, mengabaikan pembicaraan mereka.
“Banyak. Daddy akan datangkan semuanya. Demi putra Daddy, itu bukan masalah,” jawab Cakra serius.
Di tengah percakapan, suara tawa melengking tiba-tiba terdengar.
“Hihihihihihi…”
Cakra langsung memeluk tubuh Catra erat. Wajah Oliver pun memucat, sementara aku dan Catra tetap tenang.
“Itu… kuntilanak datang!” pekik Oliver.
Aku mengikuti arah pandangnya, namun tetap tidak bereaksi. Catra dengan cepat mengeluarkan pisau dari balik jaketnya dan melemparnya ke arah suara. Pisau itu hanya mengenai udara kosong—ternyata suara itu berasal dari hologram.
“Sepertinya ulah kakek,” ucapku santai.
“Kakek kalian memang suka menjahili sejak dulu,” tambah Catra.
“Jangan bilang ini ke Rasen, ya,” pinta Oliver.
“Asal ada uang tutup mulut saja,” candaku.
Oliver langsung menyerahkan black card dari kantong celananya untukku. Aku tertawa kecil—lumayan, dapat kartu gratis.
Keesokan harinya, aku mendengar Arya akan bersekolah di tempat yang sama denganku. Aku mulai menyusun rencana, berusaha menggertak dia untuk membantuku menghancurkan keluarga Pratama. Namun, ide itu memicu perdebatan dengan Catra.
“Dia tidak bersalah. Jangan libatkan anak itu untuk balas dendam,” ujar Catra tegas.
“Tapi dia mengambil kasih sayang yang seharusnya didapatkan adikku!” protesku.
“Kita harus tetap rasional, El. Anak itu hanya korban,” ucap Oliver.
Akhirnya, kami memutuskan untuk fokus menyusun rencana lain. Catra memberikan beberapa informasi awal, dan aku hanya tinggal mengeksekusi rencana tersebut.
“Pertama-tama, cari tahu siapa saja pembully di sekolah Arya. Kau bebas melakukan apa pun kepada mereka, tapi ingat, jangan sampai ketahuan,” perintah Oliver.
“Dia sekolah di mana?” tanyaku.
“Satu sekolah denganmu,” jawab Catra santai.
Aku hanya bisa menghela napas panjang. Tugas ini terasa berat, tapi aku tahu keluarga Zayan menaruh harapan besar padaku.
Sampai jumpa
Jangan lupa tinggalkan vote, komentar, dan kritikan bagi penulis agar semakin bersemangat menulis
Senin 07 November 2022
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Ello (END)
General FictionOthello Pranaja Zayan, atau yang lebih akrab dipanggil Ello, adalah seorang pemuda berwajah tegas dengan sifat dingin, minim ekspresi, dan benci terhadap pengkhianatan. Meskipun tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, sifat dingin Ello tak pernah b...
