Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, sepasang ayah dan anak saling pandang dengan ekspresi berbeda. Aditya tampak enggan meninggalkan tempat kelahirannya, sedangkan Catra terlihat tegas dan tak mau mendengar alasan apa pun dari putranya.
"Pih, kita bisa berobat di Indonesia saja," bujuk Aditya, mencoba mengubah keputusan ayahnya.
"Keputusanku tidak bisa dibantah, Aditya!" tegas Catra.
"Pih, kau pemaksa sekali," celetuk Rasen yang ikut menemani.
"Terserah," balas Catra acuh tak acuh.
"Kalian hubungi kami jika sudah tiba di Amsterdam," ucap Oliver dengan nada serius.
"Ya," jawab Catra singkat.
"Kakak!" panggil Rasen, menghentikan langkah Aditya yang sudah bersiap masuk ke ruang keberangkatan.
"Ada apa, Rasen?" tanya Aditya, menoleh dengan senyum kecil.
"Berjuang melawan penyakitmu, ya," ucap Rasen dengan penuh harap.
"Tentu," jawab Aditya sambil membalas senyuman itu.
"Kami berangkat," ucap Catra akhirnya, menggenggam tangan kanan Aditya.
Aditya melambaikan tangan ke arah Oliver dan Rasen, namun langkah mereka tiba-tiba terhenti. Catra membungkuk, lalu langsung menggendong tubuh Aditya. Dari kejauhan, Oliver melihat pemandangan itu dan tersenyum kecil. Ada tawa lepas di wajah Catra, sesuatu yang jarang ia lihat sebelumnya.
"Papi sering tertawa ya, sejak ada kakak," ujar Rasen sambil menatap Oliver.
"Benar, Nak. Dulu papi hanya bisa tertawa lepas saat bersama mendiang ibumu dan oma," jawab Oliver sambil menghela napas.
"Berarti kakak sangat berharga buat papi," gumam Rasen.
"Sangat. Bahkan, aku yakin dia pasti akan melakukan aksi balas dendam terhadap keluarga Pratama," ucap Oliver sambil tersenyum tipis.
"Dendam? Bosan aku mendengarnya," keluh Rasen.
"Suatu hari nanti kau akan mengerti, Nak," ucap Oliver sambil mengelus rambut putrinya.
Di sekolah, aku duduk di kelas sambil mendengarkan penjelasan Ibu Astuti tentang sistem ekskresi manusia. Namun, pikiranku terus melayang ke bandara. Bayangan Aditya dan Catra yang kini dalam perjalanan ke Amsterdam tak henti-hentinya mengganggu konsentrasiku.
"Maksud papi dengan masa lalu apa sih?" pikirku, bingung.
Kemarin malam, Catra dan Aditya menginap di rumahku. Aku terbangun tengah malam karena kehausan, dan saat kembali ke kamar, tanpa sengaja mendengar percakapan Catra tentang sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu.
"Papi kehidupannya penuh misteri. Membuatku bingung," batinku.
"Othello Pranaja Zayan!" suara tegas Ibu Astuti membuyarkan lamunanku.
"Kenapa memanggil namaku?" tanyaku, agak terkejut.
"Kau ini memang keponakan pemilik sekolah ini, tapi peraturan sekolah tetap berlaku untukmu. Tidak ada hak istimewa sama sekali!" tegasnya.
"Aku mengerti, Bu," jawabku patuh.
"Lari keliling lapangan sebanyak sepuluh kali!" perintahnya.
"Baik, Bu," ucapku, lalu keluar kelas untuk menjalankan hukuman.
Identitasku sebagai salah satu pewaris keluarga Zayan telah terungkap, dan sejak itu banyak siswa dan siswi mendekatiku. Namun, aku tidak menerima kehadiran mereka begitu saja. Aku tahu mereka hanya ingin mendekat karena nama besar keluarga Zayan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Transmigrasi Ello (END)
General FictionOthello Pranaja Zayan, atau yang lebih akrab dipanggil Ello, adalah seorang pemuda berwajah tegas dengan sifat dingin, minim ekspresi, dan benci terhadap pengkhianatan. Meskipun tumbuh di tengah keluarga yang harmonis, sifat dingin Ello tak pernah b...
