9 - I Dare You

75 6 1
                                        

Ethan's POV

"ETHAN!"

Suara itu mengejutkanku dan mengalihkan perhatianku dari si kunyuk satu ini. Siapa lagi kalo bukan Nathan. Cowo yang sok akrab sama Emma dari bertahun-tahun yang lalu. Emang deket sih sebenernya. Cuma aku ga suka lihatnya.

Emma melangkahkan kakinya mendekati aku dan Nathan. Mukanya terlihat kesal dan shock. Mungkin ia tidak percaya aku dapat melakukan hal seperti ini. Hanya demi dia.

"Lo apa-apaan sih, Than?" tanya Emma dengan nada amarah.

"Bukan urusan lo, Lyn," bantahku sambil melepaskan genggaman tanganku dari kerah baju Nathan.

"Tapi lo gangguin temen gue. Itu urusan gue," sergah Emma.

Aku hanya bisa terdiam.

"Sebenernya apa yang lo mau dari Nathan? Sampe lo lakuin ini?" tanya Emma setelah amarahnya sedikit reda.

"Gue mau lo jauh-jauh dari dia. Karena dia enggak pantes deket sama lo,"

Dia nggak pantes buat gantiin posisi aku di sampingmu, Em.

"Siapa bilang gue ga pantes deket sama Lyn?! Gue udah deket sama dia dari kecil!" ucap Nathan melawan tidak terima dengan perkataanku.

Emma menghela nafas panjang, "siapapun berhak deket sama gue. Entah itu Nathan atau Ethan. Selama dia baik sama gue, gue juga baik sama dia."

Nathan memandangku. Matanya seakan berkata denger itu! Aku hanya bisa melotot membalas pandangan itu. Sejenak hening kembali muncul. Tidak ada sepatah kata terucap dari ketiga mulut kami. Hanya ada suara angin dan sayup-sayup keramaian.

"Gini aja deh. Buat nentuin siapa yang pantes deket sama Lyn, kita adain game. Masing-masing dari kita punya waktu 1 hari jalan bareng sama Lyn. Terserah mau kemana aja asal bisa bikin Lyn bahagia. Setelah masing-masing dari kita jalan, Lyn nentuin sama siapa dia paling bahagia. Yang menang yang boleh deket sama Lyn. Gimana?" usul Nathan.

Aku hanya bisa mengangguk.

Ide itu boleh juga, pikirku.

Sementara Emma masih memikirkan ide yang memang agak gila. Keningnya berkerut-kerut memikirkannya. Aku dan Nathan dengan sabar menunggu keputusan Emma. Aku optimis menang walaupun aku belom punya rencana mau kemana sama Emma.

"Baiklah. Kalo kalian ini cara terbaik buat kalian nggak berantem kayak anak kecil lagi. Tapi yang kalah tetep boleh temenan sama gue kok," akhirnya Emma bersua juga.

Mataku dan Nathan seketika membara. Tidak sabar membayangkan kemenangan masing-masing. Aku tidak sabar melihat Emma jauh dari Nathan yang selalu menempel padanya.

"Tapi siapa yang bakal jalan duluan? Gue ya?" tanyaku.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 14, 2015 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DreamcatcherCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang