BAB 9 : Keputusan

34 2 1
                                        

" Nah kan.." Bintang memasuki lebih dalam lingkungan sekolah, setelah melihat sesosok yang dikenalnya, dengan menahan gejolak dalam tubuhnya. Bintang mendekati sesosok itu, lalu menepuk bahunya.

" Lo, buat papa sama gue kena serangan fajar." Bumi hanya mengangkat satu alisnya.

" Lu dengerin gue nggak sih." Seketika Bintang menepuk jidatnya, menyadari keterbatasan Bumi. Sementara Bumi menunggu perkataan Bintang.

" Lo kemana tadi?" Tanya Bintang mencoba sabar.

" Jalan = jalan." Jawab Bumi singkat

" Jalan = jalan gundulmu, kalau jalan = jalan bilang dulu."

" Biar gue bisa ikutan." Bintang menyegir.

" Emoh.." Balas Bumi singkat.

" Udah mulai berani ya."

" Apa? " Bumi melirik tajam Bintang membuat siempu seketika takut

" Enggak papa, nih bekal buat lo." Bintanv menyerahkan sebuah kotak bekal keBumi.

Bumi menatap singkat kotak bekal itu, lalu memasukkannya kedalam tas, kemudian pergi meninggalkan Bintang.

" Mau kemana?"

" Astagfirullah gini amat punya saudara."

***

" Bumi, gue masih belum lega denger penjelasannya elo tadi." Kata Bintang menyelidiki. Bumi yang tadi membaca majalah olahraga menatap malas saudaranya. Lelaki itu menyuruh Bintang untuk duduk.

" ( Cerita bayar seket ewu ) " Kata Bumi dengan isyarat.

" ( Gue nggak punya uang) " Balas Bintang otomatis menggunakan isyarat.

" ( No money, no story )"

" CK..." Bintang berdecak, " gue nggak punya uang, sebagai gantinya lo boleh ambil jatah camilan gue nanti."

" Hmm.." Bumi menerimanya.

" Lah segampang itu."

Bumi menceritakan alasan kaburnya tadi pagi, dengan Bintang menyimak secara seksama setiap gerakan tangan Bumi agar tidak terjadi kesalahan dalam menterjamahkannya, sementara teman = teman sekelas Bumi, melirik kearah meraka penasaran, percakapan apa yang mereka bahas.

" Oh jadi lo bosen, mau nyari suasana baru."

" Hmmm.."

" Ya udah, kapan = kapan kita main ketrawas disana dingin, sejuk nggak kayak disini."

" Sekalian ketretes buat cuci mata." Ajak Bintang ngaco sembari meracuni kepolosan Bumi.

" Ngapain kesana?" Ucap Bulan tiba = tiba datang kearah mereka.

" ( Kamu jangan kesana.)" Cagah Bulan. Bumi membalikkan punggung tangannya mengisyaratkan alasan dari ucapan Bulan.

" Bumi sesat." Jawabnya. Kemudian gadis itu memberikan selembar amplop cokelat kepada Bumi.

" ( Dari kepsek untuk kamu, nanti baca dirumah)."

" Bulan cantik kemana?" cegah Bintang menghentikkan langkah Bulan.

" Mau balik kekelas."

" Ikut.." Bintang berdiri dari tempatnya mengekori sosok Bulan, smeentara Bumi hanya menatap mereka dengan sorot misterius.

Tidak tahan ditinggal sendiri, Bumi bangkit dari duduknya mengikuti mereka berdua.

" Lan, lo ada jadwal nggak minggu ini?" Tanya Bintang.

Bulan melirik kekiri atas, mengingat apa ada urusan apa tidak.

" Enggak, tapi nggak bisa mastiin, masih nunggu Bumi, perlu pendampingan peer apa nggak."

MY EXCEPTIONAL ENEMY  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang