BAB 8 : Bumi Menghilang

34 1 0
                                        

Bumi berencana untuk datang ke sekolah lebih awal pagi ini. Dirinya ngidam untuk mengendarai motor gede kesayangannya.

Buat apa punya motor kece nggak dipakai, lagian juga jok penumpang si Blackie motor ninjanya Bintang sudah tipis dan tidak empuk membuat dua bongkahan empuk miliknya sakit.

Bumi mengendap - ngendap ke garasi dan membuka pintu ruangan tersebut, sengaja ia memilih waktu setelah subuhan untuk melancarkan aksinya.

Dirasa aman, Bumi melancarkan aksinya dan akhirnya berhasil, sekarang tinggal membuka gerbang tanpa ketahuan.

Sengaja bumi mengeset volume teratas alat dengarnya, agar bisa mendengar seberapa keras sumber suara yang dihasilkan dari para kaum pintu di rumah.

Sakit iya, yang penting lolos. Setelah mendorong motornya sampai keluar gerbang, Bumi menutup pintu gerbang lalu mendorong motornya agak jauh untuk memanaskan mesin tanpa ketahuan.

Sedangkan di kamar Bintang membuka kelopak matanya dan bangun untuk membuang hajat kemudian berniat untuk tidur kembali.

Dilihatnya jam di nakas masih menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit, masih ada sisa empat puluh lima menit sebelum alarm alami berbunyi serta suara khas mama Guadiana membangunkan anak kembarnya.

Kembali ke Bumi yang saat ini menikmati dua buah sosis yang dibalut dengan dua lembar roti tawar dibuat dadakan, tidak lupa dua bungkus susu pisang favorit Bumi, guna mengeyangkan tubuh sembari menikmati suasana taman.

Aroma udara pagi masuk ke lubang hidung lelaki tersebut, ia jarang sekali menghirup udara pagi selama di Surabaya, karena kota tersebut terkenal dengan udara panas yang bisa menghasilkan beberapa tetes keringat.

Setelah sarapan Bumi, membersihkan tangan dengan cairan pembersih, kemudian mengambil bola voli yang sudah ia siapkan tadi di tas, lalu memainkannya, melambangkan bola keatas dan menerimanya berulang kali sebagai latihan agar tubuh dan tangannya tidak kaku.

" duk duk duk!!" suara pantulan bola voli, melihat bola voli Bumi teringat akan nasib Bintang yang menjadi calon sasaran wawancara sang ibunda.

Bagaikan kekuatan telepathi, Bintang bangun karena mendengar langkah kaki mencurigakan, membuat akal dan tubuhnya otomatis bangun membuat tameng menghadapi sosok yang akan menghampirinya.

"bau - bau mau dimarahi." Gumam Bintang pelan.

"ngomong - ngomong si Badang belum bangun juga." Bintang melihat selimut bumi yang belum terlipat di ranjang atas.

" bangunin nggak ya, nggak aja deh, biar dia kena amukan lebih parah dari gue." Bintang terkekeh jahat, melihat kearah ranjang atas.

Brakk!!

Pintu kamar si kembar terbuka keras.

"BINTANGGG" suara mama mengelengar memenuhi lantai atas. "nah kan" batin Bintang.

" dalem ibunda?" Menjawab perkataan sang mama dengan berusaha bersikap tenang.

Kenapa ibu negara marah dan panik padahal dirinya tidak membuat ulah akhir - akhir ini, pikir Bintang.

"Mana Bumi?"

" tuh diatas?" bintang menunjuk ranjang Bumi dengan satu jarinya.

"Bintang mana Bumi? "

"diatas mama, tuh masih ada selimutnya." Tunjuk Bintang keranjang atas.

" terus kenapa papa bilang motor bumi nggak ada kalau dia masih dikamar?" Tanya nyonya Guadiana.

" dicuri kali mah?" Balas Bintang enteng.

mama guadiana menaiki tangga ranjang untuk mengecek keberadaan bumi, ditariknya selimut milik Bumi, dan benar saja hanya ada bantal dan guling sengaja disusun terlihat seperti dirinya masih tertidur.

MY EXCEPTIONAL ENEMY  Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang