Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Membaca
Terimakasih untuk 100 vote targetnya. Bahkan lebih.
Brak
Suara pintu mobil tertutup tidak begitu keras meskipun masih menimbulkan bunyi yang nyaring. "Heum?" gadis itu bertanya tanya mobil siapa yang berada di depan rumahnya ini.
Tapi beberapa detik kemudian sebuah tangan meraih sisi wajahnya untuk menatap si empu. "Ada yang lebih menarik dari pada liat orang didepan kamu?"
"Liat benda mati juga cemburu? Keterlaluan!" jelas Ifa menggeleng pelan dalam genggaman tangan Abian disisi wajahnya.
Abian mendengus smirk, memiringkan kepalanya,"Kenapa nggak? Kalau itu ngalahin perhatian gadisku!"
"Aihhh, udahlah." menarik dirinya dari Abian. "cepetan pulang, jangan buat Papa nunggu!' Imbuhnya.
"Aku antar sampai masuk rumah, baru aku pulang." jelas Abian sudah menarik Ifa lebih dulu untuk berjalan dibelakangnya.
Abian bukan tidak peka, cowok itu juga bertanya tanya mobil siapa yang berada di depan rumah gadisnya. Tak ingin penasaran, cowok itu ingin mengetahuinya.
Dengan alasan mengantar gadis itu sampai dalam rumah. Padahal alasan benarnya ialah ia ingin tahu siapa pemilik mobil itu. Jika laki-laki maka akan sangat membuat hatinya cemburu.
"Ini dia orangnya," ucap seseorang. Berjalan cepat mendatangi dua remaja yang baru memasuki pintu utama. Ia langsung menyentil dahi gadis itu dengan pelan tapi tetap saja gadis itu terkejut.
"Awsss!" desisnya sedikit terasa sakit. Abian yang melihat itu pun mendorong bahu si empu berakhir mengusap pelan dahi gadis itu.
Orang rumah yang melihatnya pun turut mendekati mereka. "Rendi, jangan cari masalah!" peringat Mamanya pada putranya itu.
Namanya Rendi dia adalah sepupu Ifa dari jalur Mamanya. Sempat beberapa kali mengunjungi kediaman Ifa. Itu kenapa cowok manis itu tidak ragu untuk menyentil Ifa. Mereka juga akrab, terkadang seperti tom and jerry.
Ifa menarik tangan kekasihnya dari dahinya lalu menggenggamnya ia berikan usapan kecil untuk menenangkan. Tidak baik jika kekasihnya ini bermasalah.
"Aku nggak papa." ucap Ifa lembut.
"Ah, kenapa jadi canggung gini. Ayo duduk!"
Tia melihat Abian yang masih dengan datar menatap Rendi. "Nak, Bian. Ayo duduk, sebentar." ajaknya.
***
Keheningan benar benar tadi diantara mereka. Abian terlihat duduk sendiri di sofa panjang itu, Rendi dan Mamanya duduk bersebelahan. Tia dan Hermantyo duduk bersebelahan. Ifa ijin untuk mengganti seragam sekolahnya dulu.
"Kenalin," ucap Abian menjulurkan tangannya didepan Rendi. Cowok itu sedikit mengernyit. "Gue tau siapa lo." ucapnya.
Abian mendengus dingin,"Takut lupa."
Rendi menatapnya tak kalah tajam. Cowok itu mau tak mau menerima uluran itu. "Abian, pacarnya Ifa." ujarnya penuh dengan penekanan. Ia meremas pelan tangan Rendi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possesive Abian
Teen FictionNovel bisa di beli di Shopee dan ada versi E-book! IFA SYILA HERMANTYO ( 17 tahun ) satu-satunya gadis yang mampu membuat ABIAN BAGASKARA ( 18 tahun ) begitu tergila gila dengannya. Apapun rintangan dan penghalang yang menerjang, ia akan hancurkan...
