Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Membaca
"Kamu mau ketemu sama Ayah, beneran?" tanya Ifa memastikan dengan wajah penasaran.
Anggukan dari kekasihnya sudah menjadi jawabannya. Tak ingin berlama juga, karena hari sudah hampir gelap. Mereka baru saja selesai dari cafe yang sempat disinggahi.
"Kenapa nggak nanti malam aja, biar sekarang kamu bisa bersih-bersih dulu." usul Ifa disela jalannya. Gandengan tangan itu tidak lepas sama sekali.
"Enggak mandi juga masih wangi!" balas Abian santai. Ifa berdecih seolah ingin muntah.
"Yang ada bau!" ucapnya.
"Ehh! Kalian udah pulang?! Kamu ini Fa, ditelfon nggak di angkat!" celetuk Tia didepan pintu utama. Pas sekali, wanita yang masih terlihat muda itu baru saja hendak melihat suara mobil siapa yang terdengar dipekarangan rumahnya.
Ternyata sepasang kekasih ini.
Tia tersenyum lega, sebab ia khawatir Ifa tak kunjung mengangkat telfon darinya.
Ifa menarik tangan Tia lalu mencium punggungnya. "Hp Ifa kehabisan baterai Bun, terus tadi aku mampir ke Gramedia sekalian makan sama temen-temen. Abian nganter aku tadi,"
"Hahh, yasudah, ayo masuk!" ajak Tia merangkul bahu sepasang remaja itu.
Abian dipersilahkan duduk diruang tengah. Sembari menunggu minuman datang. Tak lama pria paruh baya tampak ikut duduk di depannya terhalang meja.
"Tumben mampir, sudah mau gelap." heran Hermantyo pria tua itu terlihat berwibawa dengan kemeja lengan pendek.
"Ada yang perlu, aku bicarain. Ini penting!" terang Abian menatap wajah orang tua kekasihnya.
"Soal?"
***
Ifa turun dari kamarnya setelah hampir 30 menit menyelesaikan ritual sorenya. Gadis itu tampaknya sedang mencari keberadaan kekasihnya yang tak ia temukan di ruang tengah sebelumnya.
Ia pun berlanjut menemui Tia
"Abian di mana Bun?" tanyanya.
Tia tengah menyiapkan makanan untuk makan malam nanti. Dibantu dua pelayan yang sedang ribut memasak.
"Abian lagi sama Ayah kamu,"
Dahi putih Ifa mengenyit,"Ngapain?"
Tia menggendikan bahunya pertanda tidak tahu. "Kurang tahu,"
Ifa menghela nafasnya pelan. Ia menelisik sekitar dapur yang tersekat oleh meja pantry lalu terdapat meja makan berukuran cukup besar dan panjang.
"Aku bantuin ya, Bun?"
"Iya, makasih Sayang."
Sedangkan di lain tempat, nampaknya dua pria itu tengah membicarakan hal yang serius. Raut wajahnya pun terlihat cukup serius.
Abian menatap pria yang duduk di sofa singlenya. "Biar aku saja yang menjelaskan, aku nggak mau semakin rumit nantinya."
"Aku tidak mau Ifa mendengar fakta ini dari orang lain." imbuhnya datar.
Suara helaan nafas terdengar nyaring di tempat yang senyap. "Om setuju, Bian."
"Tapi..."
Alis Abian terangkat satu, lelaki itu penasaran dengan apa yang ingin Hermantyo katakan. "Rendi tahu fakta ini."
Decakan keras itu dari Abian. Lelaki remaja berusia 18 tahun ini sudah menebak sebelumnya. "Ponakan Om memang perlu diberi pelajaran!"
"Rendi sudah tahu ini beberapa bulan lalu saat kita pernah membicarakan ini, dan Rendi sempat menguping. Kebetulan waktu itu dia kesini," jelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Possesive Abian
Fiksi RemajaNovel bisa di beli di Shopee dan ada versi E-book! IFA SYILA HERMANTYO ( 17 tahun ) satu-satunya gadis yang mampu membuat ABIAN BAGASKARA ( 18 tahun ) begitu tergila gila dengannya. Apapun rintangan dan penghalang yang menerjang, ia akan hancurkan...
