"Dia temen kamu?" Brillian memecah keheningan. Bertanya seraya fokus menyetir, ia tidak mengalihkan pandangan sedikit pun dari jalanan. Di sebelahnya Aleesha duduk nyaman bersandar, menolehkan kepala pada sang pembicara.
"Iya, Pak. Namanya Jovan."
"Saya gak tanya."
Aleesha tersenyum hambar. Lalu meluruskan pandangan, melunturkan sabitnya dalam sekejap. Aleesha harus banyak menelan kesabaran tiap kali menghadapi si bos satu ini. Bahkan sekalipun Brillian berada di pihak yang salah, Aleesha ragu cowok itu akan menyerah begitu saja.
Ini benar-benar yang dinamakan cobaan hidup.
Mereka berada di jalan pulang. Matahari sudah tenggelam sejak beberapa menit lalu. Aleesha menatap ke arah luar jendela. Wajahnya terpantul berbagai cahaya dari luar. Cewek itu menelengkan kepala, menyandarkan pelipis ke kaca. Hal yang tidak luput dari atensi Brillian.
"Kamu gak ada pikiran untuk mengundurkan diri dari perusahaan saya, kan?" Brillian mendelik curiga. Tidak ada kemungkinan sekretarisnya ini tidak mengkhianatinya. Brillian tidak boleh mempercayai siapa pun semudah itu. Pun pada fana di sampingnya ini.
Aleesha menoleh. Menjawab, "Saya gak ada pikiran untuk resign. Saya aja baru kerja beberapa hari sama Bapak."
Brillian mengangguk. "Bagus, deh."
Aleesha mengernyitkan dahi. Ia masih belum mengerti tujuan Brillian melarangnya untuk mengundurkan diri dari Langitra Corp. Jelas-jelas pertemuan pertama mereka terkesan tidak baik. Brillian bahkan mampu menebak dirinya perempuan semudah itu. Yah, sebelum akhirnya ia berhasil dihasut oleh Darren.
Entah harus bersyukur atau berwaspada. Aleesha masih tidak tahu mesti bertindak apa jika Brillian tidak memberikan kejelasan begini. Mungkinkah Brillian tengah merencanakan sesuatu yang bisa membahayakan keberlangsungan hidup Aleesha?
"Kenapa kamu melotot ke arah saya?" Pertanyaan dingin Brillian menyentakkan kesadaran Alessha. Cewek itu mengerjap, lalu tersenyum kikuk.
"Gak ada apa-apa, Pak. Maaf."
Brillian memutar bola mata. Ia memarkirkan mobil di basement sebelum akhirnya kelusr lebih dulu. Aleesha mengekori sang bos seperti anak bebek. Hingga sampai di apartemen, Brillian langsung melesat masuk dalam kamar.
Aleesha bersorak. Ia segera berlari san masuk dalam kamarnya. Melepas kacamata dan jasnya, melonggarkan dasi yang mencekik lehernya seharian. Aleesha melempar sepatunya asal-asalan sebelum akhirnya merebahkan diri di atas kasur. Kemeja putihnya sedikit keluar. Aleesha membuka dua kancing atas. Ia mengembuskan napas lega.
"Akhirnya. Gue bisa lepas sebentar dari penyamaran serba ribet ini," gumamnya. Memejamkan mata merentangakan kedua tangan merasakan AC dingin yang menyejukkan.
Aleesha membuka kelopak matanya. Menyorot langit-langit kamar, kedua tangannya menjadi bantal. "Gue heran. Kenapa bos ngelarang gue buat resign? Katanya dia bukan gay. Gimana sih?"
Di tengah pikir Aleesha, dering ponselnya menghancurkan lamunan cewek itu. Aleesha merogoh benda itu dari saku celana. Melihat nama Sesil tertera di sana, Aleesha bangkit duduk bersila. Ia meraih bantal dan menaruhnya di pangkuan sebelum akhirnya mengangkat panggilan sang sahabat.
"Shaa!"
Aleesha menyipitkan mata, menjauhkan ponsel dari gendang telinga kala suara cempereng itu menyamabar kencang. Aleesha berdecak. "Bisa gak, sih, jangan teriak-teriak? Sakit nih kuping gue."
"Skip dulu, Sha. Gak penting. Jovan udah tahu lo nyamar, Sha!"
"Hm. Gimana gak tahu orang gue ketemu sama dia di restoran tadi." Aleesha mengatakan dengan nada datar. Ia sendiri tidak menyangka bisa bertemu Jovan di tempat itu. Nasib Aleesha benar-benar apes.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIRL IN SUIT
RomanceAleesha Wijaya rela menyamar sebagai laki-laki dan menjadi sekretaris Brillian Langitra, CEO perusahaan saingan sang kakak, Keandra, untuk mengulik informasi dan menjatuhkan perusahaannya. Demi sang kakak yang selama ini membencinya, Aleesha bahkan...
