Aleesha melenguh. Dia membuka kelopak matanya perlahan, memamerkan sepasang kelereng cokelat miliknya. Dia melepas pelukannya pada guling, lantas bangun pelan-pelan. Aleesha sedikit meringis. Punggungnya masih agak sakit, walau tidak separah semalam.
Mengedarkan pandangan ke sekeliling, Aleesha mengernyitkan dahi. Sejak kapan dirinya terdampar di kamarnya? Terakhir kali Aleesha ia ia digendong Brillian masuk dalam mobil.
Sebentar ...
Digendong Brillian?
Bola mata Aleesha membulat seperti bola pingpong. Aleesha baru inget semalam Brillian juga yang membawanya ke kamar. Meletakkan di kasur dan dengan seenak jidat Aleesha tidur mengabaikannya. Aleesha menjambak rambutnya, meringis dalam hati. Bisa-bisanya dirinya digendong Brillian dua kali hingga masuk dalam kamar. Cowok itu tidak mengetahui apa pun tentang identitas Aleesha, bukan?
"Sial! Sial! Mampus gue kalo sampe Pak Bri tahu sesuatu." Aleesha merutuki dirinya. Ia ingin menangis saja, meluapkan kekhawatirannya. Tapi, air matanya tidak mau keluar.
Menurunkan kedua kakinya ke lantai, Aleesha berdiri perlahan. Ia melangkah menuju pintu, sedikit membukanya dan menyenbulkan kepala. Aleesha mengintip keluar. Mencari keberadaan Brillian. Aleesha kembali masuk dalam kamar. Ia menengok jam di nakas. Sudah pukul nyaris tujuh pagi. Aleesha membelalak.
"Mampus, gue bakal dicekik gara-gara belum siap-siap ngantor." Aleesha buru-buru masuk dalam kamar mandi. Segera membersihkan diri secepat yang ia bisa.
Sampai akhirnya ia selesai, Aleesha telah rapi dengan kemeja dan celana kain seperti biasa. Tidak lupa mengenakan kacamata dam menyisir rambutnya, cewek itu segera turun. Aleesha tidak bisa berjalan cepat seperti kemarin karena punggungnya masih terasa sakit. Meski begitu, ia tidak boleh sampai ke rumah sakit bersama Brillian.
"Pak, saya minta maaf karena terlam–bat." Aleesha tergugu begitu sampai di ruang televisi. Ia mengedipkan mata sekali. Dua orang yang duduk di sofa itu menoleh. Brillian memakai kemeja biru, tampak menyandarkan punggung seraya melipat dua tangan di depan dada. Sedang wanita di sebelahnya mengerutkan kening. Menatap penuh tanya pada Aleesha.
"Kamu mau ke mana?" Suara Brillian memecah keheningan. Aleesha teralihkan. Balas menatap Brillian bingung.
"Kantor. Bapak gak ke kantor? Bukannnya hari ini ada rapat penting."
"Rapatnya siang nanti. Saya bisa ke sana sendiri. Kamu boleh cuti hari ini."
Aleesha tercenung. Kok tumben baik?
"Kamu siapa? Tinggal sama Bri?" Ayudia bertanya. Memutar arah duduknta agak menyamping demi melihat Aleesha dengan jelas. Pandangan Ayudia menelisik. Maniknya bergerak dari bawah ke atas seakan memindai Aleesha.
"Saya sekretaris baru Pak Bri. Ibu ..."
"Mama saya. Namanya Ayudia." Brillian menjawab kebingungan Aleesha. Ia berdiri dari duduknya, memasukkan tangan dalam saku celananya. Brillian menggerakkan dagu ke dapur. "Ayo, makan. Mama saya yang masak hari ini."
"Eh? Saya makan nanti aja, Pak. Bapak sama Ibu Ayudia duluan aja."
"Kamu ini cowok atau–"
"Ya, dia cowoklah, Ma. Kalo cewek bakal aku buang." Brillian menyela kesal tahu maksud pertanyaan sang mama. Ayudia menoleh, mendongak menatap Brillian sinis.
"Buang cewek? Kamu tahu mama itu cewek, kan? Mau buang Mama kamu?" Ayudia memelototi Brillian. Ia tidak tahu mau sampai kapan Brillian terus begini. Menganggap semua perempuan adalah kuman berbahaya dan menjijiikkan. Aydia sering kali menyuruh Brillian terapi ke psikolog. Namun, sulung Langitra itu benar-benar keras kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIRL IN SUIT
RomanceAleesha Wijaya rela menyamar sebagai laki-laki dan menjadi sekretaris Brillian Langitra, CEO perusahaan saingan sang kakak, Keandra, untuk mengulik informasi dan menjatuhkan perusahaannya. Demi sang kakak yang selama ini membencinya, Aleesha bahkan...
