30. Mimpi Buruk

888 98 3
                                        


"Bang Bri!"

Cowok yang dipanggil itu menoleh. Berhenti di tengah koridor, menolehkan kepala ke arah belakang, Brillian menggelombangkan kening. Di sisinya, Aleesha ikut memutar kepala dan pandangan pada sosok yang berjalan terburu-buru ke arah mereka.

Cowok berjas navy dengan rambut agak kecokelatan tersenyum pada Brillian, mengulurkan tangan sebelum akhirnya dibalas oleh Brillian. Aleesha belum pernah melihat manusia ini sebelumnya. Terlebih ia kelihatan dekat dengan sang bos.

"Gimana si Surya? Udah Abang tanganin?" Jason menanyakan hal yang membuat Aleesha menatap Brillian spontan, bingung. Brillian melirik Aleesha sekipas lalu tidak mengacuhkan kekepoan yang terpancar dari dua pupilnya.

"Udah. Kamu gak masalah kan proyek antara kamu dengan perusahan si Tua itu batal?"

Menggeleng, Jason menyahut, "Nope. Perusahaan dia gak ngefek apa-apa sama perusahaan aku."

Brillian mengangguk.

Pandangan Jason bergeser kemudian. Mendapati orang lain di antara mereka, Jaosn sedikit memutar arah berdirinya. Ia mengulurkan tangan pada Aleesha, masih mempertahankan senyum ramahnya.

Aleesha tergugu.

"Kamu sekretarisnya Bang Bri, kan? Aku Jason, sepupu bos kamu yang gosipin gay."

Menarik notulen dari tangan Aleesha, Brillian lantas memukulkannya kepala Jason. Membuat si cowok langsung mengaduh. Mengerucutkan bibir menatap Brillian sebal.

"Sakit, sih, Bang!"

"Sekali lagi kamu ngomong gitu, saya bisa lempar meja ke kepala kamu." Brillian berkata dingin. Sebelum akhirnya berbalik, meninggalkan Jason yang masih misuh-misuh. Aleesha menatap Jason bersalah. Brillian memang kasar. Bahkan pada sepupunya sendiri. Walau memang cuma bercanda, tapi Jason kelihatan kesakitan sungguhan.

"Anda tidak apa-apa, Pak?" Aleesha bertanya khawatir. Melihat itu, Jason tersenyum sebagai balasan.

"Udah biasa." Diam menjeda, Jason mengamati Aleesha lekat-lekat. Sedikit tercenung dalam batin. Tapi, tidak mau terlalu berterus terang, Jason memilih berdeham dan berkata, "Kamu ... punya perawakan yang kecil, ya. Bang Brillian pasti ngelantarin kamu."

Aleesha berusaha tertawa walau sulit. Ia tidak akan melakukannya kalau lawan bicara ini tidak tertawa lebih dulu. Candaan Jason ngena sekali. "Iya, saya emang gak bisa tumbuh lebih tinggi lagi semenjak SMA."

"Bukan karena ditindas Bang Bri, kan?"

Aleesha menggelengkan kepala buru-buru.

Tawa Jason kembali berdegung dalam telinga Aleesha. Untuk beberapa saat, Aleesha dibuat terpukau. Jason memiliki wajah yang baby face. Matanya selalu menatap berbinar. Bibirnya selalu melengkungkan sabit ramah. Jason benar-benar berbeda dengan cowok lain.

Heran. Kenapa cowok semanis Jason bisa bersepupu dengan manusia seperti Brillian?

"Aku duluan, ya. Kamu hati-hati sama Bang Bri. Dia kan gay." Jason tersenyum, tertawa di akhir kalimat. Cowok ini benar-bensr receh. Aleesha hanya membalas menyunggingkan sabit kikuk. Hingga Jason melangkah lebih dulu meninggalkan Aleesha di koridor itu. Aleesha menghela napas panjang.

"Dia cowok paling ramah yang pernah gue temuin." Aleesha bergumam. Menggeleng takjub.

Teringat Brillian, Aleesha meringis. Ia harus segera menyelesaikan laporan meeting barusan atau Brillian akan memberinya khutbah semalaman. Segera berlari kecil, masih agak tertatih karena lukanya belum benar-benar pulih, Aleesha menekan lift. Ia menunggu beberapa beberapa saat. Sampai pintu terbuka, Aleesha lantas masuk.

GIRL IN SUIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang