4. Satu Atap

1.9K 162 6
                                        


"Dra, lo serius nyuruh adek lo nyamar? Lo tahu sekeras apa Brillian Langitra. Lo mau adek lo kenapa-kenapa, ha?"

"Lo pikir gue peduli?" Keandra menoleh. Berbalas menatap sang sahabat, sosok yang juga menjadi sekretarisnya. Joe membungkam rapat-rapat bibirnya melihat seringai di garis bibir Keandra. "Justru bukannya malah bagus kalo dia hilang dari hadapan gue?"

Aleesha terdiam.

Berdiri di balik dinding, di sebelah pintu yang sedikit terbuka. Aleesha meremas tali tas selempang yang menyilangi tubuhnya. Ia menunduk dalam. Membuat wajahnya kian tenggelam dalam tudung yang menutupi kepalanya.

Padahal, Aleesha ingin memberitahu Keandra bahwa dirinya berhasil diterima menjadi sekretaris Brillian. Aleesha berhasil memenuhi perintah Keandra. Tapi, kenapa tidak sedikit pun Keandra melirik padanya? Sekadar peduli. Sekadar senang sebab misinya berjalan lancar.

Ini ... bukankah sama saja?

Keandra membencinya. Akan selalu membencinya. Mau seberusaha apa pun Aleesha mengubah fakta, melakukan segala hal agar Keandra menerima eksistensinya. Kenapa rasanya percuma? Kenapa ... malah semakin menyakitkan?

***

"Sha?"

Sesil menjentikkan jari. Lamunan Aleesha terbuyarkan. Cewek berambut laki-laki itu memutar kepala, menggulirkan pandangan pada cewek yang duduk di sebelahnya. Sesil memutar arah duduk, bersila, menghadap Aleesha sepenuhnya.

"Lo mikirin apa, sih? Muka lo tegang banget, lho. Kalo lo emang gak mau ngelakuin ini ya udah gak usah, Sha. Langitra Corp perusahaan besar. Lo jangan main-main apalagi sama marga Langitra."

"Gue gak bisa mundur, Sil. Gue gak mungkin bisa mundur." Aleesha menghirup napas dalam-dalam, lalu menghela perlahan. Ia menjatuhkan diri berbaring di atas kasur, di antara baju-baju yang teronggok belum dimasukkan dalam koper. Kedua tangannya bertautan di atas perut. Saling meremat kuat.

Sesil diam sejenak. Sampai akhirnya ia ikut tidur di sebelah Aleesha. Memandang langit-langit kamar sang sahabat. "Keandra emang berengsek. Harusnya gue minta Jovan buat nonjok dia aja, kan?"

"Jovan duluan yang bakal mati." Aleesha menyahut tenang. Melanjutkan, "Kak Kean dijaga ketat. Ketemu aja susah, apalagi mau nonjok."

"Ck, gue paham maksud si bajingan itu nyuruh lo nyamar gini, Sha."

Aleesha mengangguk. "Hm, buat jatuhin perusahaan Langitra Corp."

Sesil menyentil pelipis Aleesha. Membuat si korban mendesis, menoleh dan memelototi Sesil sebal. "Bukan itu. Kean tuh cuma pengen jebak lo. Cuma di sisi lain dia juga dapet keuntungan andai lo berhasil ngulik informasi dari Langitra Corp."

Aleesha menyipitkan mata. Tidak langsung percaya. "Tahu dari mana lo?"

"Buset, lo sendiri juga tahu seenggak suka apa Kean sama lo, Sha. Makanya lo tuh pikir-pikir dulu kalo mau ngomong. Pake nyamar jadi laki segala. Lo kalo diajak mandi bareng gimana, hah?" Sesil bangkit, duduk bersila melayangkan pandangan menyeramkan. Aleesha ikut bangun, langsung menoyor kepala cewek di sampingnya.

"Ih, pikiran lo jorok banget! Lagian ngapain juga si Brillian ngajak mandi bareng?"

"Kan gosipnya dia gay. Mana tahu, kan, lo mau dijadiin uke dia beneran." Sesil mengendikkan bahu, matanya mengerling menyebalkan. Aleesha mencubit pipi Sesil kesal.

"Idih, amit-amit! Sil, lo jangan nakut-nakutin gue, dong!"

"Akh! Sakiitt!" Sesil menepis tangan Aleesha. Cemberut. Mengusap-usap pipinya walau sebenarnya tidak apa-apa. Aleesha menoleh ke arah kopernya yang terbuka. Beberapa baju sudah masuk tersusun rapi di sana. Tapi, masih banyak barang cewek yang mesti dia bawa.

GIRL IN SUIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang