"Demi apa pun, itu serius cowok?"
"Mukanya baby face banget."
"Masa sih cowok?"
"Ya kalo bukan cowok gak mungkin jadi sekretarisnya Pak Brillian, elah. Gitu aja pusing."
"Ih, gue gak terima. Masa cowok mukanya lebih cantik dari gue, sih?"
Aleesha menunduk, memalingkan wajah ke arah berlawanan. Seberusaha mungkin menghindari kontak mata dengan pegawai-pegawai kantor bosnya. Ini bukan cuma terdengar satu dua kali. Sejak kedatangannya bersama Brillian beberapa menit lalu, seluruh pegawai yang melihat Aleesha pasti akan berkomentar.
Aleesha tidak sepeduli itu sebenarnya. Masalahnya, Brillian juga mendengarnya. Aleesha khawatir cowok itu malah termakan omongan mereka. Mengingat sampai saat ini pun, walau ia mengatakan percaya bahwa Aleesha adalah laki-laki, Brillian tetap saja masih tidak bisa bersikap leluasa dengan Aleesha.
Ini akan sedikit menyulitkan misi Aleesha jika Brillian belum percaya sepenuhnya padanya.
Menghela karbon dioksida panjang, kedua bahu Aleesha merosot lemah. Berjalan seraya berusaha kembali menegakkan kepala. Membenarkan kacamatanya pura-pura tidak mendengar gunjingan mereka. Hingga tanpa sadar, Aleesha menubruk seseorang.
Dia nyaris terjungkal. Cewek itu mendongak, mendapati sosok cowok berkemeja biru muda di depannya. Aleesha menundukkan kepala lagi. "Maaf, saya gak sengaja."
"Sekretarisnya Pak Bri, ya?"
Sesaat Aleesha tergugu. Memorinya berputar pada kejadian di kafe beberapa waktu lalu. Cowok ini adalah cowok yang bersama Brillian kala itu. Mengangguk sekali, Aleesha lantas menjawab, "Iya."
"Kok cantik?" gumam cowok itu. Masih dapat didengar Aleesha. Aleesha langsung memalingkan muka. Dia sedikit membungkuk dan berpamit pergi sebelum semakin dicurigai.
"Saya permisi."
"Eh, eh, bentar." Cowok itu menghadang langkah Aleesha. Aleesha meringis dalam hati. Dia menegapkan punggung, balas menatap lawan bicara. Aleesha tidak mau sampai kelihatan penakut. Yang ada dirinya malah semakin terkungkung oleh cowok di depannya ini.
"Nama saya Geovan. Panggil Geo aja. Saya bagian digital marketing, ngomong-ngomong." Cowok itu memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangan. Masih mempertahankan senyuman ramah andalannya. "Saya baru tahu sekretarisnya Pak Bri seimut ini. Boleh tahu nama kamu?"
Kok gayanya kayak cowok-cowok playboy?
"Nama saya Alex." Aleesha menjabat tangan besar Geovan. Namun, begitu mau melepas, cowok itu tidak membiarkan. Geovan terdiam. Matanya terus memperhatikan tangan mungil Aleesha.
"Kecil, ya?"
Aleesha langsung menepis tangan Geovan. Membuat si cowok tersentak. "Ah, saya harus segera ke ruangan Pak Brillian. Saya duluan."
Geovan mengangguk. Dia cuma menatap punggung Aleesha yang semakin menjauh sebelum menghilang dalam lift. Geovan memiringkan kepala. Berpikir dalam-dalam. Satu tangannya berkacak pinggang, sedang yang lainnya mengetuk-ngetuk kepala.
Ia memang sudah mendengar rumor sekretaris baru Brillian. Tapi, Geovan tidak menyangka dia adalah orangnya. Cowok dengan perawakan kecil, tangan selembut pantat bayi, dan bibir kecil berwarna. Geovan terdiam selama beberapa saat. Sampai sebuah tepukan mengangetkannya.
"Hoy."
"Anjir, lo, Ren. Ngagetin sumpah." Geovan berkata sebal. Darren tidak memedulikannya. Dia menengok ke arah pergi Aleesha barusan. Darren sempat melihat percakapan Geovan dan Aleesha.
KAMU SEDANG MEMBACA
GIRL IN SUIT
RomanceAleesha Wijaya rela menyamar sebagai laki-laki dan menjadi sekretaris Brillian Langitra, CEO perusahaan saingan sang kakak, Keandra, untuk mengulik informasi dan menjatuhkan perusahaannya. Demi sang kakak yang selama ini membencinya, Aleesha bahkan...
