14. Tentang Sup

1.1K 123 4
                                        


Brillian membuka kelopak mata. Hal pertama yang ia lihat adalah Alex. Cewek itu tidur di sofa, meringkuk kedinginan, ia masih mengenakan kemeja kerjanya. Brillian meraba keningnya. Mengambil kain basah di sana dan menaruhnya di mangkuk di nakas.

Bangun perlahan, menurunkan kaki-kakinya hingga menyentuh lantai, Brillian tidak mengalihkan manik dari Alex. Kenapa sekretarisnya itu keras kepala sekali? Padahal Brillian sudah mengusirnya sejak beberapa jam lalu. Tapi, ia kekeuh mengompres Brillian walau cowok itu telah minum obat.

Ia berdiri. Meraih selimut miliknya, Brillian menutupi tubuh kecil itu hingga sebatas leher. Brillian terdiam sesaat. Menatap Alex lekat-lekat. "Kenapa rasanya aneh?"

Entah ada apa. Tapi, Brillian merasakan sesuatu yang tidak benar. Ia berjongkok, matanya menatap menelisik wajah putih dan bersih cowok itu. Brillian menelengkan kepala. "Kayaknya lo bakal bener-bener bisa bantu gue."

Brillian menghela napas, merasa sedikit lega. Alex memiliki wajah begitu manis. Bagi Brillian sekretarisnya ini adalah harapannya. Sedikit demi sedikit Brillian mulai terbiasa dengan Alex. Brillian harap dengan menganggap Alex perempuan bisa sedikit mengurangi traumanya.

"Gak mau ...."

Brillian baru saja mau berdiri. Namun, lenguhan serak itu mengambil seluruh atensinya. Menghentikan pergerakannya. Brillian kembali menoleh pada Alex. Melihat cowok itu tidur dalam kegelisahan.

"Gak mau ...." Alex kembali melenguh. Kali ini ada air yang menerobos lewat sudut matanya. Brillian tergugu. Melihat hal itu, sesuatu seolah mencekat napasnya.

Alex mengeratkan selimut. Memeluk diri, lalu menangis kecil dalam tidurnya. Sementara Brillian masih terpaku, tidak mampu bergerak sedikit pun.

Apa yang Alex mimpikan? Apa yang sekretarisnya itu takutkan hingga menangis seperti ini? Brillian seketika dibuat penasaran.

"Alex," panggil Brillian. Tangannya terulur, menepuk pundak Alex beberapa kali berusaha membangunkannya. "Alex, bangun."

Terjaga, Aleesha membuka matanya. Linglung. Kelereng cokelatnya mengerling ke kanan dan kiri, mencerap ruangan sekitar. Brillian menjentikkan tangan di depan wajah cewek itu. Aleesha tersentak. Dalam batin terkejut mendapati Brillian berjongkok di depannya. Aleesha buru-buru bangun menepis selimut.

"Maaf, Pak, saya ketiduran." Aleesha menunduk. Ia segera memberesi selimutnya. Brillian bangkit berdiri. Memperhatikan saksama Aleesha.

"Kamu bisa ke kamar kamu."

Aleesha menoleh. "Tapi, Bapak masih sakit."

"Saya gak apa-apa. Pergi ke kamar kamu lalu istirahat. Saya bisa jaga diri saya sendiri." Brillian menggerakkan dagu ke arah pintu kamarnya. Melihat Brillian sudah lebih baik dari sebelumnya, Aleesha menurut, menganggukkan kepala.

"Kalau gitu, saya ke kamar saya dulu. Kalau Bapak butuh sesuatu, Bapak bisa panggil saya."

"Ck, iya. Sana."

Aleesha mengulum bibir, lalu berbalik sembilan puluh derajat, berjalan keluar kamar. Brillian menatap jejak-jejak kepergian Aleesha sebentar sebelum akhirnya mendudukkan diri di sofa. Ia menumpukan siku di atas lutut. Brillian berpikir lama.

"Ck, kenapa gue ngerasa Alex beda dari cowok kebanyakan?"

***

Pagi hari.

"Alex, kamu liat jam tangan saya? Terakhir kali saya pake kemaren sepulang dari kantor ...."

Ucapan Brillian terhenti. Pun langkahnya. Cowok yang sudah rapi dengan kemeja putih dan rompi navy itu mengedipkan mata dua kali melihat pemandangan di depan. Alex tampak berkutat di dapur. Walau tidak secekatan mamanya, untuk ukuran cowok –bagi Brillian– itu cukup jauh dari kata lumayan.

GIRL IN SUIT Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang