Di bawah tangis langit bersama dengan hati yang sakit, Nebula Esteria bertemu dengan lelaki yang mengajaknya bangkit. Mereka saling mengobati, hingga saling menaruh hati.
Dalam perjalanan berlabuhnya hati Nebula padanya, ia menemukan banyak fakta y...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hujan telah reda, namun hati Nebula tetap cidera. Katanya, yang paling berpotensi membuat luka adalah orang-orang yang paling disayangi, dan Nebula menyetujui.
Ia membenarkan karena sekarang Nebula merasakan. Merasakan bagaimana diperlakukan semena-mena dan melihat orang tua selalu bertengkar karena dirinya ada.
Sedari dulu Nebula menerka-nerka, apa salahnya?
Kenapa mereka hanya melihat kekurangan dan tutup mata akan kelebihan yang Nebula punya? Selalu berpikiran buruk dan marah pada Nebula, menyalahkan semuanya pada Nebula, padahal ia rasa dirinya tak salah, ia tak tahu apa-apa.
Mungkin, hadirnya Nebula adalah kesalahan terbesar mereka.
"Kamu seneng kan liat saya kaya gini?"
"Kamu seneng kan kalo saya capek dan mati? Kalau saya mati hidup kamu akan tenang kan?" Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang hanya berasal di dalam pikiran sang Mama.
Kasih tahu Nebula, siapa anak yang senang kalau orang tua nya pergi? Bukan kah sekecewa apapun seorang anak kalau orang tuanya pergi dari dunia dia tetap akan terluka?
"Mama itu mamanya Nebula, rasa sayang Nebula gak ada tandingannya. Dan Mama malah bilang gitu? Mana ada, Ma. Mana ada Lala senang Mama pergi, justru dunia Lala hancur."
"Tapi bagi saya, kamu bukan anak saya. Kamu pergi, saya akan bersenang hati."
"Gitu ya, Ma?" Bibir Nebula bergetar, menahan air mata beserta isakan yang akan keluar. Terluka kembali saat mengingat ucapan Mama yang terus hinggap di kepala.
Nebula berharap bahwa perkataan itu tak pernah diutarakan, atau berharap kata-kata itu tak benar adanya dan tidak keluar dari dalam lubuk hatinya, terucap begitu saja karena sang Mama sedang menyimpan amarah yang bukan karena Nebula.
Sesak, dadanya sesak saat perkataan buruk terus memaksa Nebula untuk mengingatnya. Ia memukul kepala, berharap isi di dalam kepala tak lagi ada.
Helios yang melihatnya segera menyimpan gelas yang ia bawa dan menahan tangan Nebula.
"Lepasin."
"Hey, jangan kaya gini. Mukul-mukul gak akan ngubah apa-apa justru malah bikin kepala kamu makin sakit." Nebula menatap Helios sendu. Ia terenyuh, gadis di hadapannya itu begitu hancur.
"Nangis, keluarin semuanya. Atau enggak teriak aja, itu bisa buat kamu lega," lanjutnya.
Nebula menjauhkan tangan Helios. ia tertawa miris, membuat hati Helios teriris.
"Nangis juga gak ngubah apa-apa."
Satu pertanyaan muncul, "apa yang terjadi dengannya?" Namun Helios tak bertanya, mengingat ia orang asing baginya.
"Tapi setidaknya hati kamu lega." Helios mengambil gelas yang berisi susu hangat yang tadi ia bawa, mengerahkan pada Rebulla dan dengan ragu ia menerimanya.