Langit pagi tampak cerah, seolah ikut menyambut semangat baru di hari sekolah. Angin bertiup pelan, menerbangkan beberapa daun kering yang jatuh dari pohon mahoni di halaman depan sekolah.
Amara berjalan menyusuri koridor kelas sambil memeluk tas ranselnya. Rambut hitamnya diurai bebas, hanya dijepit di sisi kiri dengan jepit kupu-kupu kecil berwarna biru muda. Jepitan itu tampak kontras dengan wajahnya yang kalem—seakan memberinya sentuhan ceria di tengah ekspresinya yang selalu tenang.
“Pagi, Amara!”
“Eh, pagi ibu bendahara!”
Sapaan dari beberapa teman lewat membuat Amara tersenyum dan mengangguk kecil. “Pagi juga,” balasnya lembut, dengan senyum hangat khas yang entah kenapa membuat siapa pun merasa seperti disambut pulang ke rumah.
Ia masuk ke kelas yang setengah penuh. Suasana belum ramai, beberapa siswa masih sibuk di kantin atau lapangan. Amara berjalan ke depan, merapikan meja guru yang terlihat sedikit berantakan—kertas modul berserakan, spidol tanpa tutup, dan penghapus papan tulis yang menggelinding ke lantai.
Selesai dengan tugas kecilnya, Amara hendak melangkah keluar menuju ruang OSIS. Tapi langkahnya tertahan saat suara gaduh dari ujung koridor tiba-tiba menggema.
“Woy, woy, minggir! Legendaris sekolah mau lewat!”
Sudah pasti Sandi dan Harsa—dua juru yang eksistensinya tidak pernah bisa ditolak oleh keheningan sekolah. Beberapa siswa menoleh dengan ekspresi antara geli dan pasrah.
Di belakang mereka, dua sosok lain muncul. Chandra, dengan seragam putih abu-abu dan atribut OSIS yang sempurna, dasi terpasang, dan rambut tersisir rapi.
Arka, sebaliknya.
Kaos hitam dengan kerah seragam terbuka lebar, rambut acak-acakan tapi tidak berlebihan. Tapi justru itu yang membuatnya terlihat terlalu bebas. Terlalu bandel untuk aturan sekolah. Dan terlalu dingin untuk diajak basa-basi.
Amara, entah kenapa, tidak langsung berjalan. Ia tetap berdiri di tempat, seperti menunggu sesuatu—atau seseorang.
Chandra yang menyadari keberadaan Amara lebih dulu, mengangkat tangan dan tersenyum hangat.
Arka hanya menoleh singkat saat melewati mereka. Matanya menatap Amara sekilas—singkat, nyaris tak bermakna. Tapi cukup untuk membuat jantung Amara berdebar tak jelas. Wangi parfum yang khas—dingin, sedikit maskulin, dan entah kenapa terasa familiar.
Chandra melihatnya lebih dulu. Ia melambai pelan dengan senyum hangat di wajahnya. Senyum yang tulus, sopan, dan tahu batas. Chandra memang begitu—tenang dan selalu peka terhadap keberadaan orang lain, apalagi Amara.
"Pagi, Ra.”
Amara membalas lambaian itu dengan anggukan kecil. "Pagi, Chan."
Tapi Arka?
Ia hanya menoleh singkat ke arah Amara. Matanya sempat bertemu dengan mata gadis itu selama sepersekian detik—dingin, datar, dan tanpa niat menyapa. Lalu ia memalingkan wajah begitu saja dan berjalan melewatinya tanpa sepatah kata pun.
Saat ia lewat tepat di depan Amara, semilir aroma parfum maskulin menyeruak—aroma yang dingin, tajam, dan samar-samar mengingatkan pada hujan pertama musim kemarau. Wangi itu membuat Amara tanpa sadar menarik napas lebih dalam, seolah ingin mengingat rasa itu diam-diam.
Gadis itu menunduk perlahan. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa, atau bahkan kenapa ia merasa perlu bereaksi.
Langkah Arka makin menjauh.
Chandra yang menyadari arah pandang Amara hanya bisa tersenyum samar. Ia tahu—meski tidak dikatakan, tidak ditunjukkan—bahwa ada sesuatu dalam diam itu yang terlalu terasa untuk diabaikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
TAK BERHARGA, TAPI SAMA
Teen FictionArkana Dmitriev Cakrawala. Arshaka Dmitriev Bagaskara. Dua lelaki yang lahir dari rahim yang sama, tetapi dunia tak menganggap keduanya setara. Yang satu bersinar terang bagai mentari pagi. Yang satunya sering dianggap redup, tapi masih berdiri.
