Bertemu Gadis Omega

449 51 0
                                        

Alpha berkulit tan (baca : eksotis) nampak tengah menyeret Alpha putih pucat sekuat tenaga. Tujuannya adalah rooftop sekolah yang sepi dan tersembunyi, satu-satunya tempat di mana mereka bisa berbicara tanpa menjadi pusat perhatian. Keduanya bagai kopi dan susu, sangat kontras—Brian dengan kulit eksotis dan ekspresif, Dean dengan kulit pucat dan wajah datar—namun keduanya sama-sama memancarkan aura dominan yang kuat. Sepanjang lorong, jalanan seolah terbuka dengan sendirinya, bak lautan terbelah, akibat tekanan tak kasat mata dari kehadiran mereka. Para siswa yang berpapasan segera menyingkir, menundukkan pandangan, merasakan otoritas alami dari kedua Alpha tersebut.

Begitu sampai di rooftop yang lengang, hanya diisi deru angin sepoi-sepoi dan pemandangan gedung-gedung di kejauhan, Brian melepas cengkeramannya dari lengan Dean. Dia segera membalikkan badan, napasnya terengah, bukan karena lelah fisik, melainkan karena menahan gelombang emosi yang meluap. Frustrasi jelas terpancar dari setiap gerakan Brian.

"Dean, dah gila lu ya?!" cercah Brian, suaranya sedikit meninggi, memecah keheningan rooftop. Ada nada putus asa dalam pertanyaannya. "Mereka itu geng dari klan Diamond King yang diseganin, bro! Mereka bukan cuma Alpha biasa, tapi hampir semua isinya Alpha Superior, termasuk si Sean itu! Lu napa dah cari masalah ama mereka?!" Brian mengacak rambutnya, gerakan refleks saat dia merasa buntu.

Si Alpha putih pucat itu, Dean, hanya menganggap cercaan sahabatnya seperti angin lalu. Matanya yang dingin dan tak berekspresi hanya fokus pada batang pocky terakhir—kali ini rasa coklat—yang masih ia kunyah. Gerakannya lambat, tak terburu-buru, seolah dunia di sekitarnya bergerak dalam slow motion sementara dirinya tetap pada ritmenya sendiri. Sebuah ketenangan yang menjengkelkan bagi Brian.

'Hyuuh, sabar, sabar. Orang sabar itu gans,' Brian mengucapkan mantra penenang dalam hati, berusaha keras menahan diri untuk tidak menjitak kepala sahabatnya yang super menyebalkan itu. Percuma juga kalau dijitak, Dean pasti tidak akan merasakan apa-apa. Atau mungkin, dia hanya akan melirik Brian dengan tatapan 'apaan sih lu', yang justru akan membuat Brian semakin frustrasi.

"Hish, sumpah dah, Dean!" Brian menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum kembali menyerbu. "Lu tuh kalo cari masalah jan ama mereka! Apa sih yang lu lakuin ampe lu bisa dapet masalah segede ini?!"

Dean mengunyah pockynya hingga habis, menjilati sisa bubuk stroberi di jarinya dengan acuh tak acuh. "Gua makan."

Brian mengerutkan kening, menunggu penjelasan lebih lanjut. "Makan doang? Terus masalahnya di mana?!" Ia tahu Dean adalah orang yang paling irit bicara, jadi dia harus sabar.

Dean menoleh, tatapannya yang datar bertemu dengan tatapan menuntut Brian. "Gua makan terus disuruh pindah tapi gua ga mau." Kali ini, Dean bahkan tidak melihat mata Brian, tatapannya menembus ke kejauhan, ke langit biru di atas mereka.

Brian terdiam sejenak, otaknya memproses informasi singkat dari Dean. Baginya, menangkap momen langka Dean berbicara panjang lebar seperti itu adalah sebuah pencapaian. Dean itu memang orang yang akan menjawab pertanyaan dengan sangat singkat, kalau bisa hanya dengan satu kata atau anggukan. Tapi ini Brian, Alpha berkulit tan yang menjadi sahabatnya semenjak junior high. Dean paham betul, kalau sahabat satu-satunya ini sangat rewel dan akan terus menuntutnya hingga ia risih jika tidak segera menjelaskannya.

"Eh, disuruh pindah ga mau doang?" Brian mengulang, masih setengah tak percaya. Lalu, otaknya seperti baru tersambar petir. Matanya membelalak, menyadari kebodohannya. "Bentar... dasar! Pantesan Bang Zio marah, lu duduk di meja mereka, bah!"

"Mana tau," timpal Dean santai, suaranya masih tanpa intonasi, sama sekali tanpa nada penyesalan atau kekhawatiran.

Brian menghela napas berat lagi, mencoba menenangkan diri dari rasa kesal yang bercampur cemas. "Lu tuh besok lagi jan duduk di sana, sebisa mungkin lu ngehindarin ketemu salah satu dari mereka. Firasat gua ga enak, juga biasanya kek Bang Zio itu ga bakal ngelepasin orang yang dah bikin dia kesel." Brian sebisa mungkin memperingati sahabat satu-satunya itu. Suaranya berubah lebih serius, penuh keprihatinan.

SOMETHING (UN)NORMALTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang