Minggu-minggu berlalu setelah insiden di kantin. Tanpa disengaja, Alpha pucat dan si gadis Omega manis beberapa kali bertemu dalam kejadian yang hampir serupa. Entah itu Dean yang secara kebetulan berada di dekatnya saat Inami terjatuh dari tangga perpustakaan, terkilir dan harus digendong ke UKS, atau saat Dean berpapasan dengan Inami di gerbang sekolah ketika hujan lebat tak kunjung reda dan terpaksa mengantarnya sampai rumah. Setiap pertemuan itu adalah takdir yang tak terhindarkan, sebuah kebetulan yang terlalu sering terjadi untuk disebut kebetulan.
Dean sendiri tak acuh. Dia bahkan dengan cepat melupakan apa yang telah ia lakukan, menganggapnya hanya sebagai interaksi singkat yang tidak penting. Baginya, menolong seseorang adalah hal biasa, tidak perlu diingat-ingat atau dipermasalahkan. Tapi bagi si gadis Omega manis, setiap tindakan kecil Dean itu semakin menumbuhkan benih-benih kekagumannya pada si Alpha pucat. Sikap Dean yang dingin, misterius, namun diam-diam penuh perhatian, justru menjadi pesona tersendiri. Singkatnya, tanpa disadari Dean, Inami telah jatuh hati padanya.
Maka, di suatu siang saat jam istirahat sekolah tengah mencapai puncaknya, Inami, dengan keberanian yang entah datang dari mana, memutuskan untuk menyatakan perasaannya.
Itu terjadi di depan Kelas 10 B, tak jauh dari keramaian lorong. Inami nampak malu-malu, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan si Alpha pucat. Jantungnya berdebar kencang, nyaris meledak. Gerak-geriknya terlalu menonjol untuk tidak menebak apa yang akan dia lakukan. Pipinya merona merah padam, dan aroma manis buah peach dan permen karet-nya sedikit menguat, tanda kegugupan yang luar biasa. Kerumunan siswa mulai terbentuk, menyadari akan ada sesuatu yang tidak biasa terjadi.
"Dean..." Suara Inami nyaris berbisik, teredam oleh detak jantungnya sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. "Aku suka kamu. Eh, ngga, lebih dari itu... aku jatuh cinta sama kamu." Kata-kata itu meluncur begitu saja, terasa begitu berat namun juga melegakan.
Para Beta dan Alpha yang melihat, yang sejak tadi sudah menahan napas penasaran, seketika mendadak tertohok di ulu hatinya. Mereka semua tahu siapa Inami, "Kembang Sekolah" yang selalu dikagumi. Menyadari bahwa Inami ternyata telah mempunyai tambatan hati, apalagi pada Alpha asing yang baru masuk sebulan itu, membuat harapan mereka gugur begitu saja. Sebuah desahan kecewa samar-samar terdengar di antara kerumunan yang kini membisu.
Tapi sayang, Dean masih mencerna kata-kata sang gadis. Ekspresinya tak berubah, tetap datar. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk memproses kalimat itu, karena memang tidak pernah ada dalam prediksinya. Hingga ia hanya menimpali dengan lirihan kata 'huh?' yang mungkin hanya dirinya yang mendengar, atau hanya gumaman yang keluar begitu saja.
Inami mengangkat kepalanya sedikit, menatap Dean dengan mata berbinar penuh harapan. "Jadi, mau kan jadi pacar aku?" tanyanya, suaranya sedikit lebih jelas kali ini, penuh harap.
"Maaf......tidak," jawab singkat Dean. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa keraguan, tanpa emosi, karena ia telah menyadari bahwa ia tengah 'ditembak' oleh si gadis Omega.
Mendengar hal itu, Inami yang sudah mengira akan diterima—karena ia pikir tidak ada orang yang akan menolak pesonanya—seketika merasa sedih dan malu bersamaan. Wajahnya yang tadinya merona kini memucat, dan matanya berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan isakannya yang tertahan dan langsung berbalik, berlari menjauh dari kerumunan, meninggalkan si Alpha pucat di tengah pandangan mata yang kini dipenuhi rasa kasihan dan simpati.
Siswa yang terdiam melihat kejadian itu lantas tersentak. Bukan karena Isakan Inami yang menjauh, melainkan karena Dean, si Alpha pucat, tiba-tiba limbung. Sebuah pukulan telak mendarat di sisi wajahnya, membuatnya terhuyung. Darah segar langsung merembes dari sudut bibirnya. Seluruh kerumunan sontak pecah, sebagian mundur ketakutan, sebagian lagi memekik kaget. Pelakunya adalah Alpha yang paling disegani dari klan Diamond King.
Sean Anderson, sang Alpha Superior, berdiri di hadapan Dean dengan wajah penuh amarah yang membara. Urat-urat di lehernya nampak tercetak keluar, menonjol di balik kulit lehernya yang bersih. Wajahnya menjadi sangsi, merah padam, tanda bahwa Alpha dominan itu tengah marah besar. Feromonnya yang liar dan mematikan menguar tak terkendali, menekan setiap Alpha di sekitarnya dan membuat para Beta serta Omega ketakutan.
Sean sebenarnya memang sudah tidak suka dengan Alpha pucat itu sejak insiden di kantin, terlebih karena Dean berani mendekati sang pujaan hati, Inami. Namun kali ini, kemarahannya sudah mencapai puncaknya. Melihat gadisnya menangis, itu adalah garis merah yang tak bisa ditolerir.
Dean yang dihajar segera membenarkan posisi tubuhnya. Ia menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah akibat pukulan Sean yang memang tidak main-main. Matanya yang dingin menatap Sean, kembali nampak santai seperti biasa, seolah pukulan itu hanyalah sentuhan ringan. Tidak ada amarah, tidak ada rasa sakit, hanya tatapan datar yang menusuk.
"Bukan urusan lu," timpal Dean, suaranya pelan namun penuh ketegasan, sebuah tantangan terselubung.
Mendengar itu, emosi Sean kembali tersulut, membakar habis sisa kesabarannya. Ia hendak memukulkan tangannya kembali ke wajah si Alpha pucat, namun gerakannya terhenti. Jeffrey Smith, salah satu Alpha dari gengnya, dengan sigap menahan lengan Sean. Temannya itu lalu membisikkan sesuatu ke telinganya, sebuah peringatan penting. Komisi Disiplin Sekolah akan sampai di sana sebentar lagi.
Mau tak mau, Sean berusaha menahan amarahnya ini, memaksa feromonnya yang mengamuk untuk kembali terkontrol. Tatapannya pada Dean semakin tajam, penuh ancaman. "Kali ini lu selamat," ancam Sean lirih, suaranya dingin dan menusuk, mendekat ke dekat telinga Dean yang masih menatapnya datar. "Tapi lu bakal tahu akibatnya gegara bikin Inami nangis!"
Alpha dari klan Diamond King itu segera pergi dari hadapan si Alpha pucat, disusul oleh Jeffrey dan anggota geng lainnya. Tak lama setelah mereka menghilang, kerumunan pun bubar dengan sendirinya, panik mendengar teriakan Komisi Disiplin Sekolah yang sudah mengudara, mendekat.
Dean pun juga langsung saja kembali masuk ke dalam kelas. Sahabat tan eksotisnya itu, Brian, sudah menunggu di bangkunya dengan wajah campur aduk antara cemas, kaget, dan kesal. Baru saja dirinya menampakkan diri di ambang pintu, Brian sudah mulai ribut.
"Dean, sumpah, lu ditembak Kak Inami si kembang sekolah malah lu tolak?!" Brian nyaris berteriak, suaranya tercekat. "Gila lu ya! Gua ga paham ama jalan pikiran lu dah. Mana gegara itu lu kena bogem Bang Sean. Cari masalah banget lu tuh, anjir!"
Dean hanya menganggap ucapan sahabatnya seperti angin lalu. Ia lebih memilih sibuk dengan batang-batang pocky yang menanti untuk masuk ke mulutnya. Pukulan Sean? Nyeri sedikit, tapi itu bukan masalah besar.
"Dean, lu itu kalo dibilangin dengerin kek!" Brian mendesak, frustrasi. "Ini Bang Sean, bah! Bukan kek Bang Zio lagi yang bisa dilawan! Ini mah beda kasta!"
"Takut amat lu," timpal Dean tak acuh, tanpa menatap Brian.
Brian menatap Dean dengan tatapan tak percaya. "Jangan bilang lu kaga tahu Bang Sean? Susah dah punya sohib cem gini, bener-bener gak tahu situasi!"
Dean akhirnya menoleh, menatap Brian. "Gua juga susah punya temen burik, angus lagi," balas Dean, kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar datar namun sukses membuat Brian terdiam, merasa diserang pribadi.
"Eh elu ya! Gua itu bukan burik, seksi bah!" Brian membela diri, namun segera ia mengalihkan fokusnya kembali pada hal yang lebih penting. "Lagian—eh kok malah bahas gua. Dasar. Ini nih, lu musti ngehindarin yang namanya Sean Anderson. Bang Sean itu calon penerus Klan Diamond King yang diseganin. Disini itu siswa yang paling hebat dan berkuasa ya dia. Kalo lu sekali berurusan sama Bang Sean, lu ga bakal bisa lepas dari dia ampe dia puas. Pokoknya gegara kejadian tadi lu kudu hati-hati Dean, sumpah gua kaga tahu apa yang bakal Bang Sean lakuin ke elu, tapi pasti bahaya!" jelas Brian panjang lebar, nada suaranya penuh kekhawatiran yang tulus.
Dean yang mendengarnya hanya ber-"oh" ria. Dia tak merasa takut sedikit pun, sama sekali tak terpengaruh oleh ancaman Sean atau peringatan Brian. Dan dengan kokoro Brian yang tersakiti karena sikap cuek sahabatnya, ia mencoba kembali bersabar mempunyai sahabat seperti Alpha pucat ini. Sepertinya, hari-hari tenang Dean di sekolah ini sudah berakhir. Konflik yang lebih besar kini sudah menunggunya di depan mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
WerewolfKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
