Pagi itu, meskipun langit di luar mendung seolah enggan menumpahkan hujan, suasana di dalam kelas justru terasa gerah. Keringat mengalir deras dari tubuh Brian Fedrick Chwe, sang Alpha bertubuh tan eksotis. Rambut cokelatnya lepek menempel di dahi, dan seragam sekolahnya basah di sana-sini. Brian baru saja menyelesaikan hukuman membersihkan seluruh toilet sekolah, sendirian. Dean Kalani Lych, yang duduk di bangkunya sendiri, di samping Brian, dengan santai sambil memainkan pocky di tangan, melirik Brian dengan tatapan geli, nyaris jijik.
Feromon orchid Brian yang bercampur bau sabun pembersih dan sedikit aroma kelelahan menguar samar. Aroma ini, bagi sebagian besar siswa lain—terutama para gadis Omega—mungkin akan dianggap seksi atau jantan. Apalagi ditambah dengan kerlingan Brian yang menggoda, beberapa gadis Omega di luar sana mungkin sudah menahan teriakan histeris mereka. Namun, bagi Dean, itu hanya bau. Bau campur aduk yang tidak menarik.
Brian yang basah kuyup akibat kelelahan luar biasa itu kini mendudukkan dirinya di bangku, di samping Dean. Ia bersandar, menghela napas panjang. Niatnya adalah meminjam baju cadangan si Alpha pucat. Dia lupa membawa baju cadangan sendiri, maklum saja. Ini kali pertamanya dihukum karena lupa membawa buku tugas dari guru yang terkenal killer di sekolah. Untung saja, kalau tidak, dirinya pasti akan diberi skors di beberapa pertemuan pelajaran itu, dan itu adalah bencana.
"Dean, anjir, kok lu ngebangunin gua siang amat sih?!" Brian langsung melancarkan rentetan dumalan. Suaranya terdengar serak karena kelelahan, namun penuh dengan kekesalan. "Kan gua jadi keburu-buru, mana lupa bawa buku tugas. Kan cape nih gua ngebersihin toilet sekolah. Mana ndiri lagi! Harusnya lu ikut nemenin gua kek!"
Dean tak bergeming. Ia hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Lu kebo," sahutnya singkat, matanya tetap terpaku pada kotak pocky di tangannya.
"Ya kan bisa kali bangunin lebih kenceng, kampret!" Brian mendengus kesal. "Pake alarm kek, siram air kek, apa kek!"
Dean akhirnya menoleh, alisnya sedikit terangkat. Pandangannya lurus ke arah Brian, dan dia menanyakan sesuatu yang membuat Brian mengernyit. "Tu pantat ma perut lu ga sakit?"
Brian mendadak memegangi pinggangnya, lalu menyentuh bagian samping perutnya. Rasa nyeri tumpul memang terasa. "Ya sakit sih," jawabnya, sedikit terkejut Dean bisa menebak. Ia lantas melihat ke arah pundaknya, yang terasa lebih nyeri dari biasanya. Ketika ia menggeser seragamnya yang basah, sebuah noda keunguan samar terlihat. "Lah! Ini lebam gegara lu?!" Brian memekik tak percaya. "Wah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Teman), parah lu ya!" ucap Brian tak terima dirinya lebam akibat ulah Dean. "Lu pasti nendang-nendang gua kan biar bangun?!"
Dean tak mengacuhkan cercaan teman tan eksotisnya itu. Ia membuka kotak pocky yang baru, lalu memakan isinya satu per satu dengan tenang. Biarlah Brian mencurahkan isi hatinya. Dean sudah hafal. Nanti kalau sudah puas, Brian pasti akan kalem sendiri. Dean hanya perlu menunggu, sambil menikmati camilannya.
Tepat di tengah-tengah dumalan Brian ke sahabatnya, ketika Brian sedang asyik merengek tentang lebam di tubuhnya, sebuah bayangan muncul di ambang pintu kelas. Sesosok gadis Omega manis berdiri di sana, tampak ragu-ragu namun memberanikan diri. Aroma manis buah peach dan permen karet yang samar, namun memikat, langsung menyeruak, mengisi ruangan kelas.
Brian langsung terdiam, matanya membelalak melihat siapa yang datang. Dean hanya mengangkat pandangan, menatap datar ke arah gadis itu. Gadis Omega itu ternyata adalah siswa yang kemarin Dean tolong membawakan tumpukan buku dari perpustakaan. Dean tidak ingat dan wajahnya tetap tak menunjukkan apa-apa.
"Eum, permisi..." ucap si gadis Omega dengan suara lembut, sedikit malu-malu. Pipinya merona tipis. Tangannya memegang sebuah paper bag kecil berwarna pastel. "Ini buat kamu. Sebagai ucapan terima kasih karena kemarin kamu udah bantuin aku." Ia melangkah sedikit lebih dekat ke bangku Dean, mengulurkan paper bag itu dengan hati-hati. "Terima ya..."
Tanpa menunggu balasan, gadis itu menaruh paper bag di tangan Dean yang masih memegang pocky, lalu segera berbalik dan berlari menjauh dengan wajah yang kini merona merah padam, nyaris menghilang di balik pintu kelas sebelum Brian sempat bereaksi.
Dean hanya memandang bungkusan paper bag yang ada di tangannya. Ia mengamati desainnya, lalu sedikit menggeser isinya. Ada sesuatu yang kokoh di dalamnya.
"Lah si kembang sekolah kok...kok?" Brian terbata, mulutnya menganga lebar, cengo tak percaya. Matanya bolak-balik antara pintu yang baru saja tertutup dan paper bag di tangan Dean.
"Gilak! Gilak! Kok lu bisa kenal Kak Inami sih? Sampai ngasih hadiah segala lagi!" Brian mendekat, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu dan kekaguman yang berlebihan. "Seriusan, lu kenal deket Kak Inami? Dia gak pernah ngasih gini-ginian ke siapa-siapa, apalagi cowok!"
Dean sendiri juga bingung kenapa dia diberi bungkusan paper bag itu. Perasaan dirinya tidak pernah—oh, tunggu. Dia akhirnya mengingat samar-samar kejadian kemarin di belokan kelas.
"Mungkin dia yang kemaren gua bantu bawa tumpukan buku," jawab Dean, suaranya datar. "Ga tahu dah, ga terlalu inget."
"Kembang sekolah lu kata kaga inget?!" Brian menjerit tertahan, nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Ngadi-ngadi dah! Kak Inami itu 'The Most Beautiful Creature' di sekolah kita, bro! Semua cowok di sini pada bucin sama dia, dan lu bilang kaga inget?!" Brian sudah seperti fanboy yang bertemu idolanya. "Berarti ini keknya Kak Inami tertarik sama lu dah, bah. Soalnya Bang Sean yang tiap hari ngebucinin dia ae ga pernah tuh segitunya ampe dikasih barang. Coklat lagi. Wah emang beda ini sobat gua!" Brian mencondongkan tubuhnya, mengintip isi paper bag. Terlihat beberapa batang cokelat impor dengan merek mewah.
Dean yang mendengar hanya ber-"oh" ria. Cokelat? Lumayan. Sean? Siapa lagi dah. Dean sama sekali tidak terkesan. Yang namanya Inami saja baru ngeh barusan. Otaknya terlalu sibuk memikirkan rasa pocky dan jadwal kelas selanjutnya.
Namun, tanpa sepengetahuan mereka berdua yang sedang asyik dengan cokelat dan dumalan, ada seorang Alpha dominan lainnya yang berdiri di gedung seberang mereka. Sean Anderson, sang Alpha Superior dari klan Diamond King, mengepalkan tangannya di samping tubuh, rahangnya mengeras. Matanya yang tajam menatap ke arah pintu kelas yang sedikit terbuka itu, seolah bisa menembus dinding dan melihat apa yang terjadi di dalamnya. Ada gelombang emosi yang kompleks di wajahnya yang biasanya tenang kini tersisa kekesalan, sedikit kejutan, dan sesuatu yang lebih gelap.
Feromon citrus segar, yang biasanya terkontrol sempurna, kini sedikit bergejolak, menguar samar dengan nada posesif dan ketidaksetujuan. Kejadian yang ia lihat barusan, interaksi antara Dean dan gadis Omega yang dipujanya, adalah pemandangan yang paling tidak ingin ia saksikan di pagi yang mendung ini. Hadiah dari Inami? Untuk Alpha pucat itu? Sean tak akan membiarkan ini. Aroma manis buah peach dan permen karet Inami yang samar masih tercium di lorong, dan itu hanya memicu kegelapan dalam dirinya. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan hanya kekuasaan, tapi sesuatu yang jauh lebih pribadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SOMETHING (UN)NORMAL
Kurt AdamKetika Moon Goddes tengah memainkan takdir seorang hambanya, kuharap ini akan berakhir indah. ⚠️Warning⚠️ Alpha x Alpha ABO Universe Alur lambat
